
Aku \= April
Tujanku hari ini Raja Ampat. Tempat impianku beberapa tahun lalu. Sebelum ia pergi meninggalkanku. Aku akan pergi ketempat impianku itu bersama orang yang sudah merusuh dihidupku sejak setahun lalu. Datangnya tiba tiba, berdalih ingin menjaga agar diterima. Ingin menjadi teman baik katanya. Tapi aku menganggapnya sebagai kakak yang paling bisa kuandalkan kapan saja.
Laju pesawat membawaku keatas hamparan awan. Memberi bayangan betapa indahnya tujuanku didepan.
"Sudah tidak sabar ya?" Tanyanya menebak apa yang kupikirkan.
"Sangat!!"
"Sabar~ hehe." Ia memberi senyuman jail.
***
Sampailah kami dibandara Domine Eduard Osok. Perjalanan kami dimulai dari sana. Kami menaiki angkutan umum menuju pelabuhan sorong. Butuh waktu kira kira sepuluh menit untuk sampai ke pelabuhan. Katanya, kapal cepat berangkat dihari senin, rabu dan jumat. Karena ini hari senin, kami bisa menaiki kapal cepat menuju waisai, tapi kami harus menunggu hingga pukul dua, karena katanya pemberangkatnnya hanya pukul sembilan dan pukul dua siang. Masih satu jam lagi kapal akan berangkat. Kami menunggu sambil makan disebuah tempat makan.
"Kalau sudah di waisai, kita menginap dulu ya? Jalan jalannya dimulai besok." Ia menjelaskan sambil mengunyah makanan. Aku mengangguk, mengiyakan jawabannya.
"Kalau keraja ampat, katanya harus ke tempat yang paling ikonik. Wayag katanya." Ucapku melanjutkan obrolan.
"Iya. Aku sudah lihat banyak referensi tempat. Ada banyak yang menyenangkan. Tapi kalau hari terakhir, aku mau ke desa Arborek. Katanya disana juga menyenangkan."
"Piaynemo juga bagus untuk cuci mata. Starlagoon juga sangat indah. Ah aku mau kesemua tempat itu!!" Ucapku tidak sabar.
***
Diatas kapal aku memandangi lautan luas itu, langit sangat cerah disini. Mataku rasanya sedang dibawa kesurga. Notes ruang tunggu dari janu selalu kubawa kemanapun. Termasuk kesini. Setidaknya aku bisa membawa catatan pemberiannya meski aku tidak bisa membawa raganya. Kuambil pulpen, kutulis beberapa hal yang ingin kutulis.
Hari pertama diraja Ampat.
Kapal ini membawaku berjalan jauh.
Menciptakan kenangan kenangan indah dengan hati yang tak utuh.
Kali ini aku tak bersama dengan si penjaga hati.
Tapi katanya tenang saja, pengawal setia siap menemani.
Sekarang dia disebelahku,
Sedang menatap sambil tersenyum manis kearah langit dengan gumpalan permen kapas tipis.
Angin bertiup kencang.
Burung burung berlalu lalang
Seakan mengantarkan pesan dari sipenjaga hati yang berkata bahwa aku harus bersenang senang meski tanpanya.
Dan aku sudah sangat bahagia.
Hatiku yang tak utuh rasanya tetap baik baik saja.
Karena aku ditemani seorang pengawal setia.
Setelah beberapa jam, kapal akhirnya membawa kami ke Waisai. Kami langsung mencari penginapan untuk menyimpan semua barang bawaan.
__ADS_1
"Janu, aku sudah sampai disini. DiRaja Ampat!" Aku sangat bersemangat saat menyapa janu di panggilan video.
"Wah. Semoga harimu menyenangkan."
"Kamu sedang apa? Kelihatan lemas begitu?"
"Ah aku? Aku sedang mengerjakan banyak tugas. Sangat melelahkan."
"Hmmmm. Aku mengganggu ya?"
"Tidak. Kamu sangat membantu."
"Membantu?"
"Iya. Karena kamu meneleponku, aku jadi bersemangat. Semua rasa lelahku jadi hilang begitu saja."
"Kok begitu? Aneh ya? Hahaha."
"Bukan aneh. Kita itu kan satu. Saling mengisi. Jika salah satu tidak ada, kita tidak utuh."
"Hmmmm." Aku hanya tersenyum.
"Okta mana?"
"Oh dia sedang membereskan barang barang."
"Kamu jangan membuatnya kerepotan. Nanti dia tidak mau lagi pergi denganmu. Hahaha."
"Eh tidak ya. Aku tidak merepotkan dia!"
"Baik. Baik. Nanti kusalamkan."
"Aku lanjut mengerjakan tugas lagi. Dadah!"
"Dadah!"
***
Okta mengetuk pintu kamarku, mengajakku pergi untuk berjalan jalan sore. Karena diam akan sangat membosankan, aku ikut saja dengannya. Aku bersiap siap lalu berjalan keluar menemuinya.
"Janu menitip salam. Katanya kamu harus menjagaku baik baik." Aku berbicara padanya sat kami berjalan.
"Aku akan menjagamu baik baik kalau kamu tidak merepotkanku!" Dia memegang kepalaku. Aku menatap kearah lengannya yang sedang berada tepat diatas kepalaku. "Jadi..... jangan merepotkan! Hahaha." Dia tertawa sambil mengusap kepalaku pelan lalu berlalu pergi.
"Tidak. Aku tidak akan merepotkanmu." Ucapku sambil mengejarnya dan berjalan mundur.
"Ah aku tidak percaya!"
"Lihat saja. Wleeee!" Lidahku menjulur padanya sementara dia hanya menggelengkan kepalanya itu.
***
Duduk berdua dihadapan hamparan air berwarna biru, diujung sebuah jembatan kayu sambil menunggu matahari tenggelam dan memancarkan warna oranye, merupakan sebuah penutup hari yang sangat syahdu.
"Okta, bisa buat puisi tidak?"
__ADS_1
"Kenapa tanya begitu?"
"Aku suka. Kalau janu ada disini, mungkin dia yang akan membuatkan untukku."
"Aku mau membuatnya sekarang! Mana, pinjam kertas dan pulpen. Ada tidak?"
"Ada. Aku bawa notes ini!"
"Aku minta satu lembar saja." Ucapnya. Kuberikan selembar kertas dan sebuah pulpen, lalu ia mulai menulis. Setelah beberapa lama ia menulis dan mencoret apa yang ia tulis akhirnya ia selesai.
"Mana lihat!" Ucapku tidak sabar.
"Jangan!"
"Terus aku akan tahu dari mana?"
"Aku bacakan." Dia mulai merapikan cara duduknya. Lalu mulai membacakan puisi buatannya itu.
Menutup hari bersama tuan putri.
Waktu berlalu begitu cepat hari ini.
Senja ingin segera pergi
Karena ia merasa kalah cantik dihadapan sang tuan putri.
Dia memintaku menulis puisi yang indah.
Padahal, dia hadir disini saja merupakan keindahan yang tidak bisa digambarkan.
Lihat saja matahari yang tenggelam.
Dia ingin segera menjemput malam
Karena katanya, keindahannya telah dikalahkan oleh tuan putri yang sangat menyebalkan.
"Padahal sudah bagus. Karena kamu bilang tuan putri mu menyebalkan, aku tidak jadi memuji!!" Tatapanku sinis padanya saat mengeluarkan kalimat itu.
"Ya kamu memang menyebalkan! Bikin semua orang nyaman dekat denganmu!"
"Ya gimana ya? Aku memang orangnya baik, bisa bikin nyaman, terus apalagi ya? Hmmmmm......"
"M E N Y E B A L K A N!" Timpalnya sambil mengeja kata yang diucapkannya secara perlahan.
"Tidak ya!" Aku mulai mengepalkan tanganku.
"Iya. Iya. tidak menyebalkan. Eh lihat mataharinya mulai menjauh!" Dia mengalihkan perhatianku. Dan benar saja, perhatianku teralih. Apa yang ada dihadapanku begitu memanjakan mata. Warna langitnya oranye kemerahan dengan matahari yang perlahan menjauh. Burung burung banyak yang berlalu lalang. Ah pemandangan ini begitu menyenangkan hati. Aku bahkan tak ingin mengabadikan momen ini dilayar HP ku. Aku ingin menatapnya secara langsung dan tak ingin tertinggal satu detikpun. Lalu tanpa sadar aku meletakan kepalaku dibahu seseorang yang dari tadi berada disebelahku.
Lalu hari mulai gelap, kami kembali kepenginapan untuk mandi dan beristirahat; mempersiapkan diri untuk petualangan besok. Sebelum tidur, seperti biasa aku akan melaporkan kejadian ini pada janu.
"Selamat malam dan selamat tidur..."
"Iya. Tapi disini masih sore. Hehe!"
"Oh iya aku lupa. Aku tidur ya....."
__ADS_1
"Iya. Selamat tidur, mimpi indah~."