Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab 7 #1


__ADS_3

Aku \= Januar Anggara


Malam malam aku sedang duduk menonton tv. Menonton acara lawak yang sebenarnya tidak terlalu lucu. Lalu ayah pulang dari tempatnya bekerja.


"Eh. Yah. Pulang cepat?" Tanyaku sambil mencium tangannya.


"Iya. Ayah harap tiap hari seperti ini." Beliau lalu pergi mandi dan berganti baju, sementara aku melanjutkan menonton. Tak lama kemudian, ayah datang dan mengagetkanku.


"Hey. Kenapa?" Tanya nya sambil menepuk pundakku yang sedang menonton tv tapi agak melamun.


"Eh. Tidak apa apa. Ayah sudah makan?"


"Belum. Nanti saja." Dia lalu duduk disebelahku dan ikut menonton.


Kami berdua fokus menonton. Mulutku geram dan ingin sekali berbicara.


"Yah. Sebentar lagi janu akan wisuda."


"Iya. Ayah sudah tahu. Kenapa tidak bahas hal yang lain selain kuliahmu. Kekasih misalnya." Katanya yang membuatku agak heran.


Janu tidak punya."


"Serius? Umurmu sudah hampir dua puluh dua tahun. Tapi masih saja sendirian. Tidak mau atau tidak ada yang mau? Hahaha." Beliau tertawa. Akupun begitu sambil menggelengkan kepala.


"Hmmm. Yah. Janu mau menanyakan sesuatu."


"Apa?"


"Begini...." ada jeda sejenak sebelum aku melanjutkan kalimatku. "Ayah pernah tidak, menyukai seseorang lalu ayah tidak mengungkapkannya karena takut kalau ia tidak akan menyukai ayah?"


"Tidak pernah. Karena ayah tahu darimana kalau dia tidak akan suka sebelum ayah mengutarakannya?"


"Kalau ternyata setelah mengungkapkan lalu ternyata ia tidak suka bagaimana?"


"Cari yang lain. Tapi.... kalau sudah benar benar dia tidak suka."


"Maksudnya?"


"Ya kalau dia sudah memilih orang lain. Tapi kalau dia masih sendiri dan menolak ayah. Ayah akan terus berjuang sampai dia mau."

__ADS_1


Prok.... prok.... prok..... aku bertepuk tangan dengan tempo pelan karena kagum. Aku tidak pernah tahu ayah sebijak ini dalam hal percintaan. Hahaha. Tapi dia ada benarnya juga. Kita tidak akan tahu bagaimana perasaan orang yang kita suka sebelum kita tanya padanya, kan? Hmmmm. Tapi untuk aku yang penakut ini. Hal itu rasanya sulit sekali.


"Tidak perlu kagum begitu. Ayah tahu ayah ini keren. Hahaha." Ia tertawa lalu lekas pergi.


***


Sudah berbulan bulan aku terus menahan perasaanku. Sampai tiba saatnya aku sidang skripsi. Semua keluargaku ada disana. Begitu juga dengan April. Dia memberiku semangat dan senyuman yang lebar. Daaaaaan akupun berhasil. Lalu keluar dan berteriak kencang. Itu aku. April lain lagi. Dia memelukku lalu meloncat loncat kegirangan.


"Akhirnyaaaaa. Aaaa." Teriak April saat itu. Aku memeluk keluargaku yang juga ada disana. Rasanya aku ingin menangis kencang karena terharu. Tapi malu. Ini tempat umum. Hahaha. Banyak yang memberiku selamat. Aku juga diajak berfoto bersama keluargaku. Rasanya hari ini adalah hari paling bahagia dimuka bumi. Kuharap hal ini terulang.


"Janu... selamat ya... dan jangan lupa nanti kita makan. Dan kamu yang bayar!" Ucap April.


"Eh. Kukira kamu yang akan membayar untukku sebagai hadiah."


"Tidak. Tidak. Tidak. Kamu yang bayar!"


"Iya. Terserah." Aku memasang wajah malas. Semua yang ada disana tertawa melihat pertengkaran antara aku dan April.


***


Sudah lama sejak saat sidang skripsiku itu, akhirnya besok aku akan wisuda. Sudah kupersiapkan segalanya. Malam ini April sedang siaran. Aku mendengarkan suara April yang sedang berbicara tentang request dan lainnya. Berdua dengan temannya.


"Selamat malam kak April." Ucapku dengan suara yang aku rubah.


"Selamat malam dengan siapa, dimana dan mau request lagu apa?"


"Dengan Angga di bandung. Mau request lagu Akad dari Payung Teduh."


"Oh. Lagunya buat siapa nih? Mau salam salam?"


"Iya. Saya mau salam salam buat sahabat saya dari SMA yang sampai sekarang masih jadi sahabat saya. Saya mau bicara sama dia, semoga dia dengar. Lagu ini buat dia. Dan saya mau bilang kalau 'saya cinta sama kamu. Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih untuk waktu yang sudah kamu luangkan untukku. Aku mencintaimu. Untuk saat ini dan selamanya........... April.'" Kata terakhir itu kuucapkan dengan menggunakan suara asliku. Dia agak diam beberapa saat.


"Mas angga. Siapa ya nama panjangnya?"


"Saya januar anggara. Dan saya sedang berada diluar ruangan tempat sahabat saya itu siaran." Ucapku. Dia lalu menatap kearah kaca yang sudah ada aku disana. Aku melambaikan tanganku sambil tersenyum padanya. Dia berlari kearahku lalu menatap mataku dalam dalam sebelum beberapa detik kemudian ia memelukku dengan erat.


"Hey. Kenapa?" Tanyaku heran.


"Ya. Aku juga mencintaimu bahkan sebelum kamu bilang bahwa kamu mencintaiku. Aku menunggumu sejak lama untuk mengatakan hal ini." Lalu air matanya keluar. Aku tidak mengira hal ini. Ternyata dia juga mencintaiku. Dia adalah seseorang yang sedang menungguku mengungkapkan perasaan padanya. Sementara aku adalah seseorang yang sedang menunggu dan menumpuk keberanian untuk dapat mengungkapkan perasaan padanya. Semua yang ada disana bertepuk tangan kencang sekali melihat kami berdua.

__ADS_1


"Wah.... temen temen. Ternyata oh ternyata. Penelepon kita tadi adalah sahabat penyiar kita April yang ternyata sudah menyimpan perasaan lama sejak lama. April juga sudah memendam perasaan dan menunggu sahabatnya itu untuk segera mengungkapkan perasaan padanya. Jujur gue terharu. Aaa~ jadi pengin punya pacar!" Ujar kawan april yang sedang sibuk siaran itu. Lagu Akad yang tadi aku request terputar dan menggema disana. Hari ini. Tepatnya detik ini juga, aku dan April akan memulai hal baru. Bukan sebagai seorang sahabat yang menunggu perasaannya tertambat. Tapi sebagai seorang kekasih yang akan menghadapi semua senang dan sedih begitupun bahagia dan perih. Tak ada kalimat "kalau kamu punya pacar...." tidak. Karena pacar kita masing masing adalah diri kita sendiri.


Bila nanti saatnya tlah tiba


Kuingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian kesana kemari dan tertawa.


***


Sesudah April siaran, kami berdua berjalan keluar dari stasiun radio. Dia menatap kearahku lalu aku membalas tatapannya. Aku mengangkat alis menandakan pertanyaan ada apa? Dia lalu memeluk lenganku dan mulai menyandarkan kepalanya kebahuku.


"Don't go anywhere." Pintanya.


"Don't say that." Aku membalas ucapannya sambil tersenyum. "Maaf. Aku tidak membawakan apa apa. Tidak membawa bunga, cokelat atau apapun yang orang orang biasanya bawa saat mengungkapkan perasaan mereka." Aku melanjutkan kalimatku.


"Loh. Bukannya mau membelikanku eskrim malam ini?"


"Mmmmmm. Kalau tidak?"


"Kalau tidak, gendong aku sampai rumah!"


"Baik kalau begitu. Aku gendong saja sampai ke tempat membeli eskrim." Aku membungkukkan badanku dan langsung menggendongnya untuk membeli eskrim. Kami berdua tertawa bahagia.


"Eskrim strawberi satu. Cokelat satu." Pintaku. Setelah memesan, kami berdua keluar dan mencari tempat duduk diluar. Ada bangku taman. Kami lekas duduk. Saat aku tengah asyik memakan eskrim. Dia memanggil namaku.


"Janu!"


"Apa?" Cekrek.... dia mengambil fotoku dengan wajah yang sangat tidak karuan itu.


Duarr..... suara petir bergemuruh disana. Membuat kami berdua kaget. April langsung berlindung dibalik bahuku. Hujan gerimis turun perlahan. Semakin kesini semakin banyak tetes hujan itu turun.


"Yah..... hahahaha" kami menyesal lalu tertawa bersamaan. Ya bagaimana kami tidak menyesal. Kami sudah membeli eskrim. Lalu sekarang turun hujan. Tapi kami tidak peduli. Kami melanjutkan makan eskrim sambil berteduh.


***


Dimalam ini kami pulang dengan perasaan yang sudah tidak tertahan. Aku yang akhirnya berani mengungkapkan, dan dia yang akhirnya mengakhiri semua penantian. Saat ini aku bersamanya. Tidak saat ini saja. Tapi esok, seterusnya dan semoga sampai tubuh kita masing masing tak bersisa.

__ADS_1


__ADS_2