
Aku \= April
"Hmmmm." Aku tersenyum sambil mengeluarkan air mata. "Bagus. Kamu hebat bisa kesana. Aku lupa kalau dari dulu kamu sangat ingin keluar negeri. Semoga berhasil." Jelasku dengan suara parau.
"Hey. Jangan sedih. Kita masih bisa mengobrol kan.... beberapa tahun pasti akan sangat singkat. Percaya padaku."
"Iya. Kita masih bisa mengobrol. Tapi kalau makan berdua? Berboncengan? Atau kalau aku mau digendong bagaimana?"
"Adudududuuuuh. Hey. Sudah besar begini masih suka digendong. Ya ampuun. Hahaha." Dia tertawa sambil mengusap kepalaku.
"Tapi janji ya... kita akan terus mengobrol." Aku mengacungkan jari kelingkingku.
"Iya. Janjiiiiii. Sangat janjiiii. Oh iya. Kalau kamu mau digendong. Nanti. Kalau aku pulang dari sana. Aku berjanji. Akan menggendong April keliling komplek!"
"Hahaha. Awas ya kalau tidak. Aku tunggu."
"Oke. Oke."
"Eh iya. Janji juga, ketika kamu pulang kesini, kamu ajak aku pergi ke Raja Ampat!"
"Hmmmm. Menarik. Oke, janji."
Janu... kamu bisa saja membuatku tertawa. Tapi kamu juga membuatku bersedih karena akan pergi meninggalkanku. Entah seberapa sering aku akan merindukanmu. Rasanya pasti akan sangat sulit sekali. Tapi tidak apa apa. Asalkan mimpimu terwujud, aku siap meski tak akan bertemu denganmu untuk beberapa tahun. Aku siap meski tak akan makan bersama denganmu untuk waktu yang lama. Aku siap meski akan banyak eskrim strawberi yang tidak ditemani eskrim cokelat untuk beberapa tahun. Aku siap.
***
Ah bandara.... untuk kali ini, aku benci bandara. Aku tidak suka jika ia akan menjadi tempat terpisahnya aku dan janu. Aku tidak suka jika dia yang menjadi pendukung atas jauhnya aku dengan janu.
"Kenapa?" Janu mengangkat daguku saat kami duduk bersebelahan.
"Aku tidak suka ini."
"Tidak perlu suka. Cukup terima. Aku yakin semuanya akan baik baik saja."
"Aku tidak suka jika kita berpisah."
"Kita tidak berpisah. Kita masih bersama, hanya saja dalam jarak yang agak jauh."
Air mataku menetes perlahan, ia mengusap lembut air mataku dengan jarinya.
Pesawat akan segera ia naiki. Ia memeluk semua keluarganya. Ada rasa sedih yang datang dari keluarganya yang juga aku rasakan. Dia lalu menghampiriku lagi. Sebuah pelukan hangat ia berikan. Air mataku turun lagi membasahi baju yang ia pakai. Lalu tangannya mulai memegang pipiku. Mengahadapkan wajahku kearah wajahnya. Bibirnya itu mulai mendekat dan mencium keningku lembut.
"Jaga diri baik baik ya..." pintaku parau.
"Jaga hati baik baik ya. Aku juga akan menjadi penjaga hati yang baik." balasnya lembut. Kalimatnya terakhirnya itu menjadi awal dari jauhnya jarak yang membuat kita berjauhan. Mulai saat ini, aku dan janu berjarak ribuan kilometer jauhnya. Dan mulai saat ini juga, aku harus siap merasa sendiri meski aku sudah dimiliki. Ada hati yang harus kujaga, ada perasaan yang harus ku utamakan.
***
Janu... Apa yang harus aku lakukan sekarang jika tanpamu? Usai siaran sekarang tidak ada yang menungguku dan mengantarku pulang.
Trrrrtt...... HP ku bergetar dengan kuat, menandakan ada yang meneleponku. Ternyata dia Janu.
"Halo." Jawabku sambil tersenyum
__ADS_1
"Lebar banget senyumnya."
"Eh. Tahu dari mana?"
"Tahu lah. Karena apapun yang berhubungan dengaku, termasuk suaraku pasti kamu tersenyum."
"Hehe."
"Sudah pulang siaran?"
"Sudah. Sedang diam dirumah. Tidak ada kegiatan. Kalau kamu sedang apa?"
"Sedang membereskan pakaian."
"Hmmmm. Sudah makan?"
"Apa itu sudah makan?"
"Isshh. Pertanyaan malah dibalas dengan pertanyaan lagi."
"Kalau mau tanya, jangan tanyakan sudah makan atau belum."
"Terus tanya apa?"
"Sudah rindu belum?"
"Hmmm. Sudah. Sangat, sangat rindu!"
"Kalau aku tidak rindu."
"Kenapa?"
"Ah aku malah tersenyum. Padahal tadinya mau marah."
"Kenapa?"
"Biar dirayu lagi."
"Hahaha. Ada ada saja."
Untuk hari pertama kita berjarak, ia cukup menghilangkan sedih diwajahku. Malam ini, usai mengobrol dengan janu, aku tidur nyenyak, berharap bertemu dengan janu meski dalam mimpi beberapa jam itu.
***
Kring...... suara alarm membangunkanku. Aku lalu mematikannya dan terlelap kembali. Kemudian aku bangun kembali setengah jam kemudian.
"Ah. Sudah terlambat!!" Aku lupa kalau hari ini aku ada kelas. Aku mandi dengan cepat, berganti baju dan segera pergi.
"Janu... Janu..." Aku berteriak kencang didepan rumah janu sambil sesekali melirik jam. Sampai tiba tiba aku tersadar dan menepuk jidat.
"Ah. April.... Dia kan tidak ada!" Aku lalu memesan ojek online dan menunggunya. Hari ini ibu tidak membangunkanku. Karena seminggu terakhir ini ibu pergi kerumah nenek. Kalau sedang dirumah, biasanya ibu akan membangunkanku, karena ia akan berangkat bekerja agak siang. Ibu itu punya butik, tapi ibu kadang mengerjakan semuanya dirumah, karena kata ibu, ia lebih senang mendesign baju dirumah. Lebih tenang katanya. Dan semua yang ada dibutik ia serahkan pada asistennya. Kalau ayah? Ah dia hanya mementingkan pekerjaannya. Yang akan dia bilang kalau aku telat mungkin hanya kalimat seperti ini.
"Biar bangun cepat, alarmnya nyalakan..." oh iya, sekarang ayah sedang bekerja diluar kota. Mungkin ia akan pulang beberapa minggu lagi. Ayah sering sekali bolak balik keluar kota. Itu juga yang menyebabkan aku pindah rumah, agar aku ada teman disini, yaitu janu. Eh tapi sekarang malah janu yang tidak ada.
__ADS_1
Saat ojek online datang. Aku lekas naik dan menyuruhnya untuk cepat cepat mengantarkanku ke kampus.
"Sudah lama neng kuliah?" Si bapak ojek mengajakku mengobrol.
"Iya pak. Terlalu lama malahan. Belum lulus, lulus juga. Hahaha."
"Hahaha. Pacarnya kemana? Kok harus naik ojek." Aduh. Kenapa harus muncul pertanyaan begitu?
"Kuliah juga pak. Diluar negeri."
"Oh jauh ya... tidak rindu? Atau tidak berniat buat cari pacar baru?"
"Kalau rindu ya pasti rindu pak. Kalau pacar baru? Hmmm satu saja tidak mungkin habis pak! Hehe."
"Iya juga ya... jangan selingkuh neng, meskipun ada yang lebih baik. Kalau ada orang yang mau diajak selingkuh, berarti dia bukan orang baik!"
"Nah benar pak!"
Obrolan ku dengan sibapak ojek cukup menyenangkan. Setelah sampai, dia mengucapkan kalimat andalannya.
"Jangan lupa bintang lima ya..." lalu dia pergi. Aku jadi terpikir ucapan si bapak tadi. Mana mungkin aku selingkuh, Janu sudah lebih sempurna dari pria manapun. Aku tidak butuh pria lain seperti apapun mereka merayuku. Aku juga yakin, Janu pasti akan menjaga hatinya disana. Dia tidak akan mencintai perempuan lain. Kalaupun dia mencintai perempuan lain, aku harap perempuan itu tidak mencintainya. Hahaha. Ah sudah, malah membicarakan dia.
Hmmm. Kuliah hari pertama cukup berjalan normal juga, meskipun terlambat, meskipun aku lupa malah memanggil manggil janu diluar rumahnya, meskipun janu tidak mengantarku, meskipun aku tidak masak dan makan bersama janu, meskipun ada meski meski yang lain. Semuanya cukup berjalan normal.
***
Suara bel rumah terdengar kencang sekali. Malam malam begini siapa yang datang kerumah? Aku melihat keluar melalui jendela. Ada seseorang sedang turun dari taksi sambil membawa koper. Itu ibu. Aku segera berlari keluar untuk menemuinya.
"Ibu..." aku menghampirinya sambil memeluknya erat.
"Bagaimana dirumah saat ibu pergi?"
"Normal. Tapi ayah belum pulang."
"Oh. Yasudah, ayo kita masuk!"
"Ibu bawa oleh oleh kan?" Tanyaku bercanda saat kami berjalan masuk kerumah.
"Ibu bawa dodol sama brondong."
"Wah. Tidak sabar mau makan. Hahaha."
Setelah masuk kedalam rumah, ibu duduk disofa sambil memijat mijat keningnya. Aku kedapur untuk membuatkan teh hangat lalu kembali ke tempat ibu duduk.
"Bagaimana keadaan nenek?"
"Baik baik saja. Tapi dia apa apa maunya sama ibu terus, tidak mau sama om atau tantemu. Jadi untuk pulang sekarang saja sangat susah buat membujuknya." Kata ibu sambil menyeruput teh hangat.
Aku mengangguk angguk.
"Janu bagaimana?" Tanya ibu yang membuatku kaget.
"Dia masih kuliah. Dan aku rindu. Hahaha."
__ADS_1
"Aduh anak ibu bisa rindu juga. Oh iya. Nanti antar berondong sama dodolnya kerumah Janu. Buat ibunya."
"Iya. Besok saja."