Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab 11 #4


__ADS_3

Aku \= April


Hari hari kuliah yang kuanggap menyebalkan itu berlalu. Hari wisuda akan segera kutuju. Ayah dan ibu hadir disana. Memberikan tatapan bangga mereka dihadapan anak satu satunya. Dengan mengenakan toga, aku pun merasa bangga terhadap diriku sendiri. Lalu namaku dipanggil. Aku naik. Ayah mengarahkan kamera HP ku kearahku karena sedang mem video call janu. Untuk hari ini, aku sangat bangga, bangga terhadap diriku sendiri yang akhrinya berhasil melalui semua lelah dan jeri payah. Aku berterima kasih pada semua orang yang membantuku hingga aku sampai seperti ini.


Diluar aku bertemu dan mengobrol dengan Okta yang juga diwisuda hari ini. Ibu dan ayah mengobrol bersama ibunya Okta. Sementara aku dan Okta berjalan jalan. Ia mengeluarkan kamera polaroidnya. Lalu mengambil foto kami berdua. Kami lanjut berjalan lagi sambil mengobrol.


"Terima kasih ya."


"Terima kasih untuk apa?" Tanyanya.


"Terima kasih untuk...." Lalu ia mengeluarkan HP nya dan melihatnya beberapa saat. "Ih, Okta. Dengar dulu."


"Oh iya. Iya. Apa tadi?"


"Hmmmhhh." Aku menepuk jidat. "Terima kasih karena kamu telah membantuku mengerjakan tugas akhir. Hingga aku bisa lulus juga. Huh."


"Iya. Iya. Aku kan pengawal setiamu. Eh kita kesana yuk!" Ajaknya.


"Ayo."


Ia memberhentikan langkahnya. Mengeluarkan HP nya kembali. Aku mulai mendengus kesal dan melipat tangan.


"Maaf..." pintanya. Kedua tangannya perlahan menggenggam tanganku. Matanya menatapku dalam dalam. Aku menatapnya agak gerogi. Jantungku tiba tiba berdegup lebih kencang dari biasanya.


Perlahan dia menyingkirkan rambut rambut yang menghalangi wajahku. Ia memegang pipiku lembut dan menatapku makin dalam. Wajahnya perlahan mendekat kearah wajahku. Ia berikan sebuah ciuman yang entah apa artinya. Aku tidak bisa berkata apa apa. Rasanya mau pingsan. Tapi aku lekas mendorongnya kuat kuat. Agar berhenti.


"O.... Okta... maksudnya ap...?" Saat aku mencoba berkata kata, ia menutup mulutku.


"Terima kasih sudah hadir dikehidupanku dan memberi warna baru. Terima kasih atas semua waktu yang pernah kamu luangkan untukku. Terima kasih telah menerimaku dengan baik dalam kehidupanmu. Aku sangat menyayangimu. Sangat sayang. Lebih dari apapun. Tak peduli siapa yang kau sayangi saat ini. Karena perasaanku tak dapat dibohongi lagi!" Jelasnya dengan tangan yang masih memegang kedua pipiku.


"Maaf Okta. Tapi mungkin perasaanmu salah!"


"Perasaan tidak pernah salah dalam menentukan arah."


"Memang. Perasaan tidak pernah salah dalam menentukan arah. Tapi jika arah yang dituju sudah ditempati perasaan lain, apakah perasaanmu itu masih benar?"


"Tapi aku...."


"Aku sudah memiliki Janu. Dan itu sangat cukup bagiku!" Aku berlalu pergi tanpa menghiraukannya.


Tuhan, Kau sedang memberi hadiah atau justru sedang mengujiku?


Kenapa Kau mengirimkan orang orang yang menyayangiku begitu tulus?


Apakah aku diharuskan bertahan dengan pilihanku dan membuat salah satu dari mereka terluka parah?

__ADS_1


Atau kubiarkan hatiku terbagi dua agar tak ada yang terluka?


Ah sepertinya jangan. Tapi aku menyayangi keduanya.


Aku harus apa?


Sudah kuberikan jawaban tidak pada ia yang berharap.


Tapi ia bersikeras menyayangiku.


Dia enggan bertemu dengan hati yang lain.


Tuhan.... tolong beri aku satu petunjuk saja.


Tentang apa yang harus kulakukan sekarang.


Agar aku tidak menyakiti orang orang yang begitu kusayangi.


***


Aku pulang dengan perasaan gundah. Kukira perasaan Okta padaku akan hilang begitu saja. Ternyata tidak, ia tetap menyimpannya. Ia tetap mempertahankannya. Apakah harus kubuat ia membenciku agar tak ada yang menganggu perasaanku lagi? Aku tak ingin memindahkan hatiku pada orang lain. Perasaanku ini milik Janu, Janu dan Janu. Tak ada siapapun yang dapat merubahnya kecuali Tuhan dan diriku sendiri.


***


"Halo...." sapanya dipanggilan itu.


"Halo Janu...."


"Kamu sedang apa?"


"Sedang merindukanmu. Hehe."


"Oh...."


"Kenapa kamu meneleponku? Disana masih malam lho."


"Begini...." ada jeda sebelum ia melanjutkan ucapannya. Kudengar ia menghela napas panjang. "Aku mau minta maaf sebelumnya."


"Minta maaf untuk apa?" Aku keheranan dengan apa yang ia katakan.


"Maafkan aku. Karena....."


"Karena?"


"Aku mau hubungan kita berhenti sampai sini saja. Aku tidak mau melanjutkannya lagi."

__ADS_1


Jangan tanyakan apapun. Perasaanku saat itu sangat berantakan. Hatiku terpecah belah kesegala arah. Air mataku mengalir deras. Semuanya terasa menyakitkan. Sakit sekali. Aku tak mampu menahan apapun lagi. Aku hanya duduk dipinggir jalan dan berusaha tetap mengobrol dengan Janu ditelepon.


"Tapi.... tapi kenapa?" Aku bertanya dengan mulut dan perasaan bergetar karena kesedihan.


Telepon itu ditutup. Janu mengirim pesan padaku. Pesan itu berisi sebuah foto. Foto yang sangat membuatku marah. Foto itu adalah foto ketika Okta menciumku kemarin. Entah darimana Foto itu bisa Janu dapatkan.


"Aku bisa jelaskan, Janu." Aku mencoba mengirim pesan.


"Janu...."


"Kumohon jangan pergi......"


"Janu.... Tolong...."


"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi semuanya sudah jelas. Sangat jelas, April. Sudah, kita akhiri saja semuanya. Kamu harus memulai hidup barumu itu tanpaku."


"Tapi aku sangat menyayangimu, Janu. Tidak ada satupun orang yang bisa menggantikanmu. Tidak ada."


"Ada. Okta. Dia yang ada dalam hatimu sekarang, bukan? Silakan. Pergi dengan dia saja."


"Tapi janu. Kumohon...."


Pesan itu tak berbalas lagi, perasaanku hancur. Semuanya menyakitkan. Semuanya berantakan. Tak ada lagi bahagia. Semuanya hanya luka yang mungkin tak akan sembuh selamanya.


Aku berlari kerumahku. Dengan tangis yang kian tersedu. Kubiarkan tubuhku terbaring dikasur. Memecah setiap tangis yang tak dapat ditahan lagi.


Tuhan... bukan ini yang kumau.


Kenapa kau biarkan dia pergi?


Kenapa aku harus merasakan sakit ini?


Jika dia tidak pantas untukku,


Kenapa harus ada pertemuan diantara kita berdua?


Kenapa aku harus merasa jatuh cinta terhadapnya?


Kenapa tidak Kau asingkan saja kita berdua sejak dulu?


Agar tak ada sakit yang harus dirasakan ketika kita tidak ditakdirkan menjadi satu.


Janjinya untuk bersama selamanya hanya omong kosong belaka. Janjinya untuk pulang hanya angan angan. Janjinya untuk menjaga hati hanya sebuah ilusi. Dia tidak bisa menepati semua janjinya. Ia tidak sungguh sungguh terhadapku. Ia tak dapat bertahan. Ia lemah. Kukira dia orang yang terbaik. Kukira dia pria terakhir yang akan selalu kudamba. Ternyata tidak. Dia sama seperti pria pria yang sering kutemui; yang hanya datang, meminta separuh hatiku, membuatku menggantungkan rasa dan harapan, lalu memberi luka yang begitu dalam dipenghujung cerita.


Tapi aku yakin. Semua ini bukanlah akhir yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2