Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab 4 #3


__ADS_3

Aku \= Okta


Sikapnya terlalu mengherankan. Tapi kadang membuatku tersenyum sendiri. Dia ingin kepasar malam katanya. Tapi dia masih sakit.


"Kumohon. Malam ini jemput aku." Pintanya.


"Tidak, April."


"Ya sudah. Aku pergi sendiri."


"Baik. Kalau pasar malam bisa menyembuhkan. Kita berangkat." Ucapku pasrah karena tidak bisa menolak.


Ia selalu mampu membuatku mengatakan iya. Ia selalu mampu membuat penolakan menjadi rasa terima. Ucapannya benar benar ajaib. Jangankan ucapan perihal permintaan yang bisa membuatku menurutinya, ucapan apa saja yang keluar dari mulutnya pun bisa membuatku merasa nyaman. Ucapannya seajaib itu.


Aku bersiap siap, menaiki motorku lalu menjalankannya menuju rumah April. Cuaca sedang bersahabat, rembulan terlihat sangat bulat dan terang. Sayangnya, bintang bintang tak mau menampakan diri, mungkin iri pada cahaya bulan yang begitu terang. Wajah April seakan akan muncul didepan wajahku dan memberikan senyuman manisnya. Aku mencoba menghalau pikiran tentangnya dan kembali fokus mengendarai motor.


"Kok lama?"


"Iya maaf. Kamu yakin kuat kalau ke pasar malam?"


"Yakin, okta. Tuh lihat." Dia berputar putar dan meloncat memberitahuku kalau dia kuat.


"Iya. Iya. Percaya, tuan putri pasti kuat."


"Tuan putri?"


"Iya. Dari kemarin kan kamu ku panggil begitu. Hehe."


"Baiklah. Sekarang antar tuan putri kepasar malam."


"Baik tuan putri." Aku agak membungkuk sambil meletakan tanganku didada.


"Ih. Okta~. Hahaha."


***


Pasar malam begitu ramai. Orang orang berlalu lalang kesana kemari, bermain permainan yang sangat menyenangkan. April tersenyum manis, lalu aku memegang tangannya erat. Rasa bahagia bermunculan. Andaikan pegangan erat ini tercipta karena ikatan cinta, mungkin bahagiaku akan lebih dari yang saat ini sedang dirasa.


"Ayo. Aku mau permen kapas." Pintanya sambil menarik tanganku. Aku membelikannya satu permen kapas berwarna merah muda menyala. Dia tersenyum lagi. Dia lalu mengajakku bermain permainan melempar bola untuk menjatuhkan tumpukan kaleng. Hadiahnya boneka beruang merah muda.


"Yes!!" Teriaknya girang saat berhasil mengenainya.


"Aku kalah."


"Iya. Kamu kalah. Kurang jago!!"


Tak hanya satu permainan. Kami berkeliling bermain permainan yang lain. Hal hal menyenangkan itu diakhiri dengan duduk di bianglala. Mengintip seisi kota dengan lampu lampu terang seperti kunang kunang. Cahaya bulan kali ini kalah. Ia malu dan tertutup awan.

__ADS_1


"Terima kasih. Malam ini menyenangkan. Kamu teman yang bisa diandalkan." Dia memegang pahaku. Ucapan itu membahagiakan sekaligus menusuk dalam satu waktu. Apalagi yang tidak lebih sakit dari kata "teman" yang terucap dari seseorang yang paling kita harapkan menjadi pasangan?


"Okta, kira kira, sekarang janu sedang apa ya?" Patah lagi untuk yang kesekian kali. Ucapannya terlalu ajaib. Bisa membahagiakan bisa juga mematahkan.


"Sedang memikirkanmu."


"Biasanya dia yang ada disampingku diatas bianglala ini."


"Kalau begitu jangan memikirkan kebiasaan. Fokus saja pada apa yang terjadi sekarang. Fokus dengan siapa yang ada disampingmu." Entah kenapa kalimat itu keluar dari mulutku begitu saja. Dia tak menjawab. Hanya menunduk dan tersenyum.


***


"Sekarang kan sudah senang. Harus tidur yang nyenyak dan mimpi indah."


"Iya. Iya. Okta...."


"Tos dulu." Aku memberikan telapak tanganku lalu dia hanya diam.


"Kenapa masih disini. Cepat masuk dan tidur!"


"Iya. Iya. Bawel." Aku tersenyum usai ucapan itu.


"Hei!! Malah senyum. Kamu tidak mau pulang?" Ucapnya menghentikan kegiatanku.


"Aku akan pulang kalau kamu masuk."


"Aku akan masuk kalau kamu pulang. Hahaha!"


"Iya. Sampai jumpa pengawal setia." Senyumku rekah usai ucapan itu keluar. Dia masuk kedalam rumahnya dan perasaanku ikut masuk mengikutinya. Rasa nyaman kian mengakar, perlahan tumbuh menjadi rasa suka dan cinta yang kian mekar setiap harinya. Ah sial, ini semua gara gara dia. Gara gara keajaibannya yang bisa membuatku merasakan semua ini.


***


Sudah pagi hari lagi. Besok sudah hari ulang tahunnya. Aku bingung akan memberi hadiah apa. Apa kuberikan hatiku saja? Ah dia tidak mungkin menerima. Dia sudah menyimpan hati orang lain.


Kubiarkan angin berhembus kencang melewati tubuhku. Memberi rasa sejuk dipagi hari yang masih memberi kantuk. Seorang perempuan cantik dibelakangku sedang duduk manis, dari tadi tersenyum bahagia.


"Kenapa senyum terus? Bahagia banget kelihatannya." Aku memperhatikannya dari kaca spion.


"Iyalah. Bahagia. Besok itu hari spesial." Ucapnya.


"Hmmmm." Aku hanya mengangguk angguk.


***


"Kamu tahu tidak kenapa besok harinya spesial?" Dia bertanya saat kami sedang berjalan berdua menuju kelas masing masing.


"Tidak tahu." Jawabku pura pura.

__ADS_1


"Ih, kamu itu sahabat baikku bukan sih?" Dia lalu berlalu pergi seperti seorang anak kecil yang marah karena temannya bermain dengan orang lain. Aku mengikutinya hingga ke kelas. Belum ada dosen yang masuk jadi aku duduk disampingnya.


"April~." Sapaanku tidak direspon. Sia sibuk melihat foto foto diHP nya.


"Sedang lihat apa?" Tanyaku mencoba membuatnya bicara.


"Jangan mengobrol denganku sampai kamu tahu besok hari apa."


"Iya besok itu hari jumat lah."


"Ih.... bukan..... sudah sana pergi." Ucapnya manja sambil mendorong tubuhku. Tuh kan. Dia itu lucu kalau marah. Bukannya mau pergi aku malah mau memeluknya.


***


Mall selalu ramai oleh orang orang yang kebingungan mau membeli apa. Termasuk aku. Sekarang aku sedang mencari hadiah untuk April. Entah mau membelikannya apa. Ke toko sepatu, tapi dia takut tidak suka dengan sepatunya. Ke toko buku, sudah lebih dari satu rak dia punya buku. Astaga, membingungkan sekali. Harus membelikannya apa ya?


Tiba tiba satu ingatan terbersit dalam kepala. Apa yang april inginkan ketika itu. Aku segera berlalu pergi dan menyusun rencana. Ah aku lupa memesan kue. Aku memesannya online lewat toko kue yang aku tahu, lalu nanti malam akan aku bawa karena katanya tidak bisa delivery. Huh, yasudahlah.


Aku kembali menjalankan motorku ke stasiun radio. Ada beberapa hal yang harus aku lakukan.


"Eh Ta, lo ngapain disini?" Tanya Vino, salah satu produser disana.


"Eh No, lo produser siaran malem kan? April bukan penyiarnya?"


"Iya. Kenapa emang."


"Jadi gini... gue itu mau ngasih dia kejutan malam ini tepat pukul dua belas. Tapi dia siaran sampai jam sepuluh kan ya?"


"Iya. Tapi, dia itu ada rekaman buat salah satu konten cerita horor gitu besok. Gimana kalau dituker jadi malam ini?"


"Good. Lo emang paling bisa diandalkan."


Lama tak membuka HP, April sudah mengirim banyak pesan padaku.


"Okta, kamu dimana?"


"Antar aku pulang."


"Hey..."


"Okta?"


"Halo..."


"Yasudah. Aku naik ojek saja."


Dia meneleponku tapi tak ku angkat. Aku ingin berpura pura marah padanya sekarang. Hahaha.

__ADS_1


"Okta kamu marah?"


"Oh yasudah. Terserah. Tidak usah menghubungiku lagi. Maaf sebelumnya mengganggumu." Astaga, perempuan kalau sedang ada yang marah padanya, malah berbalik marah. Aku malah jadi ingin meminta maaf. Maaf ya April untuk beberapa jam kedepan saja aku marah.


__ADS_2