
Aku \= April
"April. Bagaimana rencana keraja ampat? Hari Minggu depan bisa?" Sebuah pesan muncul dari Okta.
Minggu depan? Astaga. Itu kan hari janu pergi lagi.
"Mmmm. Kalau hari seninnya bagaimana? Hari minggu aku mau ikut okta kebandara. Dia mau pergi lagi."
"Baik. Aku ubah jadwalnya."
"Eh iya. Tadi ayah nanyain kamu. Katanya kenapa kamu tidak datang pagi tadi. Biasanya setiap hari kerumah."
"Oh. Aku sibuk. Lagipula kan sekarang sudah ada janu kesayanganmu. Jadi aku tidak mau mencuri waktumu dengannya. Salam ya buat orang tuamu."
Apa dia.....? Sebuah tanya muncul dikepalaku. Ah tidak mungkin. Jangan geer April. Mana mungkin itu. Dia sahabat baikku sekarang.
***
Esoknya, janu datang lagi. Dia mengajakku menonton dan pergi ketoko buku. Ah janu, andai seterusnya kita begini.
"Mau menonton film apa?"
"Terserahmu saja." Jawabku karena kebingungan.
"Terserah itu bukan jawaban."
"Hmmmm. Yang romantis saja."
Daaaan aku malah diajak menonton film horor. Astaga. Tadi dia bertanya, setelah kujawab tidak didengar. Menyebalkan sekali. Sepanjang film aku terus menerus menutup dan membuka wajahku. Atau bersembunyi dibalik lengan janu. Tadinya aku meu keluar lagi, tapi dia menahanku. Kali ini dia sangat menyebalkan.
"Aaaaa." Sebuah adegan mengagetkanku. Aku berteriak kencang sambil memeluk lengan janu. Dia malah tertawa melihatku yang seperti itu. Dan sudah pasti aku memukul dan mencubitnya.
"Huh. Selesai juga." Aku sangat merasa lega saat keluar. Dan dia masih saja tertawa tawa.
"Janu~." Aku mencubitnya kencang.
"Aduh! Sakit!"
"Aku bilang kan film romantis. Malah film horor!!"
"Karena film paling romantis itu kita berdua." Senyumku merekah. Rayunya masih tak ada habisnya.
"Dan film horor itu kamu!!" Tukas ku kesal tiba tiba.
"Iya. Memang. Aku itu pria manis paling menghantui. Hahaha!"
"Percaya diri mu tinggi. Kamu itu buta ijo paling banyak rayu!!" Tukas ku tak mau kalah.
"Dan kamu itu kuntilanak paling cantik sedunia gaib."
"Janu~." Aku mulai marah.
"Tidak. Kamu itu bidadari paling jelek sealam semesta!"
"Dan aku itu perempuan paling cantik dalam hidupmu, kan?" Aku membalas ucapannya dengan percaya diri.
"Itu tahu!" Dia menyentuh hidungku dengan telunjuknya. "Ayo pergi!" Ajaknya. "Eh. Tunggu."
__ADS_1
"Apa lagi?" Aku bertanya heran. Dia tiba tiba berlutut dihadapanku. Membenarkan tali sepatuku yang lepas. Ia menatapku keatas dan tersenyum. "Sudah. Ayo." Ajaknya lagi. Aku terus tersenyum melihatnya.
***
"Mau beli buku apa?" Dia bertanya sambil melihat lihat buku di sebuah rak.
"Apa saja. Menurutmu buku apa?"
"Mmmmm." Dia berpikir sejenak. "Nah! Ayo!" Dia mengajakku berjalan. Dia masih mencari cari entah mencari apa. Lalu dia berhenti ditempat dengan banyak buku tulis.
"Buku tulis?" Tanyaku heran.
"Nah ini." Dia memberikan sebuah notes kecil.
"Untuk apa?"
"Sudah. Kita bayar dulu. Nanti kujelaskan." Lalu kami keluar dan aku digendong olehnya sampai ke tempat parkir. Hahaha. Lalu kami menaiki motor. Dia memberhentikan motornya ditempat penjual eskrim.
Setelah mencari tempat duduk, kami berdua makan eskrim bersama. Aku menghadap kearahnya sambil duduk bersila. Dia pun melakukan hal yang sama.
"Jadi untuk apa notes itu?"
"Oh iya. Aku lupa." Jawabnya sambil fokus menghabiskan eskrim. Setelah eskrimnya habis, dia mulai berbicara sambil memegang notes kecil berwarna cokelat itu.
"Ini namanya notes ruang tunggu."
"Sejak kapan notes ada namanya?"
"Sejak tadi. Oke. Aku lanjutkan. Notes ini bisa kamu gunakan untuk menulis apapun disela sela penantianmu. Kamu bisa menuliskan apapun sambil menungguku pulang."
"Menulis apapun? Kalau menulis tentangmu bagaimana?" Tanyaku sambil fokus menjilat eskrim yang tak kunjung habis.
"Apa itu?"
"Kesedihanmu." Dia lalu memberikan notes itu. "Jaga baik baik. Anggap notes ini adalah aku."
"Tidak mau aku terima. Kamu harus tulis dulu sesuatu disana."
"Tapi tidak ada pulpen."
"Tunggu sebentar." Aku membeli pulpen ditoko alat tulis yang ada didekat situ. Kuberikan pada Janu. Dia membuka tutup pulpen dengan menggigitnya. Lalu mulai menulis.
Bersama april dibulan april.
Kuhabiskan waktu dengannya sebelum pergi.
Kutitipkan hati dan sebuah catatan kecil.
Kubiarkan dia menuliskan setiap hal kecuali kesedihan.
Sekarang aku sedang duduk berdua dengannya.
Sambil memakan esrim strawberinya, dia menatapku sambil tersenyum.
Aku tidak tahu harus menulis apalagi.
Senyumannya membuat seluruh dunia tertuju padanya termasuk aku.
__ADS_1
Senyumannya membuatku ingin berhenti menulis dan menatapnya saja.
"Lagi. Lagi!!" Aku memaksa.
"Boleh. Asal jangan tersenyum. Nanti aku berhenti menulis."
"Baiklah." Lalu dia mulai menulis lagi.
Tentang dia penahan rindu.
Dengan rambut pendeknya, tubuh kecilnya dan mulut yang tak bisa berhenti bicara,
Aku tak tahu dia bisa memikul rindu seberat apa.
Aku tak tahu dia bisa menungguku pulang seberapa lama.
Yang paling aku tahu darinya adalah, dia cantik meskipun banyak eskrim yang mengotori mulutnya.
"Sudah. Nanti notesnya habis dengan ocehanku." Dia memberikan notesnya lalu mengusap mulutku yang dipenuhi eskrim dengan sapu tangan.
"Sudah! Ayo kita pulang!" Dia menarik tanganku dan kami kembali kerumah.
***
Sore ini aku membuat kue. Kue cokelat. Semoga janu menyukainya. Saat sedang sibuk mengaduk semua bahan, ibu datang menggoda.
"Hmmmm. Bikin kue untuk pacar kesayangan~."
"Ibu~. Jarang jarang kan dia pulang."
"Iya. Iya. Harus enak ya, biar dia makin cinta."
"Lupa ya ini anak siapa?"
"Anak ibu yang sangat jago memasak!" Ibu lalu pergi lagi. Semuanya sudah selesai, tinggal menunggu kuenya matang.
***
Sambil membawa dua kotak makanan yang berisi kue, aku menekan nekan bel rumah janu. Lalu ibu keluar dan membukakan gerbang.
"Ibu, Janu nya ada?"
"Ada. Ayo masuk. Ibu panggilkan dia."
"April mau diluar saja. Ini, kue untuk ibu."
"Wah. Terima kasih, ini pasti enak. Tunggu disini ya, ibu panggil dulu janu nya."
"Halo. Siapa ya?" Tanya nya saat keluar dari rumah.
"Ini mas. Tetangga baru. Mau mampir duduk disini."
"Oh tetangga baru. Mba kalau saya ajak pacaran, mba mau ya?"
"Heh. Tidak sopan sama tetangga baru! Udah berani beraninya ngajak pacaran! Ya jelas mau lah!"
"Hahaha." Usai percakapan itu kami duduk berdua. Didepan teras rumah. Didinginnya malam. Tapi suasananya begitu hangat. Dia meletakkan kopi dicangkirnya diatas meja lalu duduk disebelahku. Beberapa saat kami tak banyak bicara, hanya saling menatap dan tersenyum satu sama lain.
__ADS_1
"Apa ini?" Tanya nya sambil menunjuk sebuah kotak makan yang kubawa.