Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab 2 #5


__ADS_3

Aku \= April


Hari hari pun berlalu. Aku mencoba bangkit dari semua rasa sakit itu. Kuperbaiki pelan pelan hati yang patah itu. Kususun kembali kepingan kepingan perasaan yang hancur berantakan itu. Meski tak bisa kembali seperti semula, setidaknya semua itu bisa sembuh dan aku bisa kembali bahagia.


Aku berjalan keluar membawa setumpuk cucian. Didepan gerbangku sudah ada makhluk pengganggu itu. Dia sedang duduk diatas motornya. Tapi aku tidak menghiraukannya. Kulanjutkan berjalan untuk mengantarkan cucian. Ia berjalan mengikutiku, meninggalkan motornya didepan rumahku.


"Ini cokelat!" Ujarnya sambil memberikan sebuah cokelat. Tapi tetap tak kuhiraukan.


"Kamu masih marah?"


"April. Kan sudah kubilang aku tidak tahu apa apa tentang foto itu."


"Sudahlah. Jangan marah lagi. Kita baikan ya?" Dia terus mengoceh hingga aku sampai ke tempat laundry.


"Bu. Nanti saya ambil sore ya."


"Oh iya mba."


Hingga aku pulang, dia tetap mengikutiku.


"Ayo kita makan ayam goreng!"


"Atau kita ketoko buku!"


"Atau menonton saja bagaimana?"


"Sudah kubilang jangan pernah kembali kecuali jika kamu mau memperbaiki semuanya!!" Bruk..... aku menutup gerbang sangat kencang dan kembali kekamar. Aku menyalakan musik diHP ku. Menghubungkannya ke pengeras suara dikamarku. Kuputar lagu secara acak. Sebuah lagu dari float berjudul sementara mengalun dengan merdu dikamarku.


Kakiku melangkah menuju meja belajar. Sebuah notes berwarna cokelat yang tak asing itu membuatku teringat dengan sosok pemberinya.


Sementara, teduhlah hatiku.


Tidak lagi jauh.


Belum saatnya kau jatuh.


Lirik itu menyentuh hatiku perlahan. Hati, tolong teduh untuk kali ini. Belum saatnya kau terjatuh dan hancur. Ayo kita bangkit dan buat rasa bahagia itu lagi.


Perlahan kubuka notes cokelat itu. Kubuka satu persatu halamannya. Disana tercatat kenangan kenanganku bersama dua lelaki yang dulu pernah kusayangi. Perlahan mataku berair, tapi bibirku mengembangkan senyuman. Kulihat puisi puisi yang dibuat kedua orang itu. Puisi indah yang mereka buat sebelum mereka mengecewakanku.


Kuambil sebuah pena dilaci dan mulai menuliskan perasaanku.


Akhir dari semua cerita


Mungkin ini akhirnya.


Orang orang yang kukira menjaga ternyata malah memberi luka.


Seseorang yang kukira membuatku utuh ternyata malah membuatku rapuh.


Dia, penjaga hati yang ternyata seorang pematah hati.


Dan dia, pengawal setia yang ternyata pencipta luka.


Mungkin ini akhirnya.


Kita bertiga tidak saling bertemu ditengah

__ADS_1


Tapi saling berpencar kesegala arah.


Saling berpisah dan memberi luka yang parah.


Bel rumahku terdengar berbunyi berulang. Kulihat keluar melalu jendela. Lelaki pematah hati itu masih saja berdiam diri disana. Entah apa yang ia tunggu. Sudah kuucapkan padanya agar jangan menemuiku lagi kecuali jika ia ingin memperbaiki semuanya.


Percayalah hati, lebih dari ini pernah kita lalui.


Takkan lagi kita mesti jauh melangkah


Nikmatilah lara.....


Lagu itu masih mengalun keras. Memberiku peringatan untuk tidak terlarut dalam luka itu terus. Untuk segera menerima semua lara hati. Dan menikmatinya tanpa air mata.


Lagu itu berganti. Sekarang yang terputar adalah lagu sorai dari nadin amizah. Ah aku jadi ingat ketika aku patah hati dulu. Janu pernah berkata bahwa perpisahan itu harus dirayakan. Tapi dengannya, perpisahan itu rasanya tak mungkin untuk dirayakan. Dia saja tak menghubungiku lagi. Dan mungkin hubungan persahabatan kami pun berakhir sampai disini. Jangankan mengucapkan terima kasih padanya, memberi penjelasan atas foto itu saja ia tidak menerima. Ia tidak pernah membalas pesanku ataupun mengangkat teleponku. Sekarang waktunya ikhlas melepasnya. Mungkin aku harus mulai percaya bahwa dia memang tidak ditakdirkan untukku.


***


Sekarang sudah saatnya aku berangkat siaran. Aku sudah memesan ojek online. Beberapa menit lagi ojek yang kupesan akan datang. Ah aku tunggu saja ojeknya diluar.


"Mba, rumahnya yang pagar hitam kan ya? Yang temboknya abu abu?" Sebuah pesan dari bapak ojek online itu.


"Iya pak. Benar."


"Ini katanya ada pacarnya. Jadi bagaimana? Mau di cancel aja?"


"Tunggu pak." Aku bergegas keluar. Disana masih ada Okta. Ia menyuruh nyuruh mas mas ojek untuk pergi. Tapi aku segera naik ojek.


"Ayo pak berangkat!" Ucapku agar Okta tak banyak mengganggu.


"Neng. Lagi marahan ya sama pacarnya?"


"Oh. Pantas saja neng tidak suka sama dia. Tapi kasihan loh dia nunggu didepan rumah."


"Saya lebih kasihan sama bapak. Bapak kan butuh uang buat anak istri dirumah."


"Hehe. Neng bisa aja."


***


"Selamat malam semuanya. Kembali lagi sama aku April dan Kania..... bla bla bla. Aku memulai siaran itu. Lalu kuberi jeda sejenak dengan sebuah lagu.


"April. Tuh Okta didepan dari tadi ketok ketok terus. Berisik. Temuin dulu!" Ucap vino produserku. Agar tak ada yang mengganggu, kuputuskan keluar.


"Mau ngapain sih? Ini kan bukan saatnya kamu kerja. Jangan ganggu. Lebih baik pulang!!" Aku membentaknya dan mendorong dadanya agar ia pergi. Semua orang diruangan siaranku agak kaget. Tapi aku segera duduk kembali dan mencoba menenangkan diri.


"April. Kenapa?" Tanya Kania.


"Tidak apa apa."


"Ya sudah kalau mau disimpan sendiri masalahnya tidak apa apa."


Kami melanjutkan siaran. "Oke kali ini request by phone. Siapa penelepon pertama kita, halo?" Ujar Kania.


"Halo. April. Tolong keluar dulu. Aku mau bicara." Usai ucapan itu, kania menatapku. Aku mengangguk. Mengerti apa yang ia maksud dan segera keluar.


"Mau bicara apa?"

__ADS_1


"Aku mau menjelaskan...."


"Semuanya sudah jelas, Okta. Aku dan janu sudah putus. Dan itu karenamu. Sudah jangan ganggu aku lagi. Aku mau hidup dengan tenang. Sendirian. Tanpa siapapun yang berkata menyayangi tapi ternyata malah melukai." Aku berusaha pergi, tapi dia menahanku.


Ia menghela napas panjang sebelum bicara.


"Oke. Aku jelaskan. Memang aku yang mengirim foto itu pada Janu."


"Iya kan? Sekarang kamu mengaku. Semuanya sudah jelas sekarang. Sangat jelas!! Jadi jangan pernah ganggu aku lagi!!"


"Semuanya aku lakukan karena aku sangat mencintaimu!"


"Okta. Kita pernah bahas ini!"


"Tapi aku tidak bisa terus begini! Aku benar benar ingin menjadi milikmu seutuhnya!"


"Okta! Cinta itu saling menerima bukannya memaksa!"


"Tapi..."


"Tapi apa?"


"Semuanya kulakukan hanya agar kita bisa bersatu."


"Bersatu? Dengan cara memisahkan? Itu adalah hal paling bodoh yang pernah kuketahui."


"Tapi...."


"Alasanmu tidak membantu apa apa Okta!" Aku segera berlari ketempat siaran sambil menangis.


Hmmm. Cengeng memang. Dasar april!!


"Kenapa Pril?" Tanya kania. Aku hanya menggelengkan kepala.


Aku melanjutkan siaran dengan air mata yang aku tahan. Sebisa mungkin aku harus terlihat baik baik saja.


Sendiri. Mulai sekarang aku harus bisa bahagia dalam kesendirian. Jangan menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Jangan pernah. Karena semua orang bisa saja menciptakan rasa kecewa!!


Usai siaran, Kania mengajakku duduk sebentar agar tidak langsung pulang. Dia mendudukanku sambil memegang pundakku dan mulai bicara.


"Kalau sedih, sedih aja. Jangan ditutup tutupin." Usai ia mengucapkan kalimat itu, aku langsung memeluknya erat dan menangis dalam pelukannya. Itu rasanya melegakan. Seperti sedang haus disebuah gurun, lalu menemukan air yang menyejukkan.


"Jadi kenapa?" Tanya nya.


"Bingung."


"Bingung kenapa?"


"Sama perasaan sendiri. Janu, Okta, keduanya susah dihilangkan dari ingatan."


"Kenapa harus dihilangkan? Mereka itu menyayangimu."


"Justru mereka yang membuatku sedih seperti ini."


"Ingat tidak? Dulu Janu itu sahabatmu, yang mengantarmu kemana mana termasuk saat audisi untuk menjadi penyiar, sampai dia menyatakan perasaannya dan kamu menerimanya. Dan Okta, dia juga yang selalu ada untukmu disaat Janu tidak ada. Yang memberimu kejutan ulang tahun, yang mengajakmu pergi ke tempat impianmu, jadi.... hanya karena mereka berdua telah membuatnu terluka, apakah keduanya harus menghilang dari alam semesta? Tidak juga bukan? Bersahabat baik lah dengan mereka berdua dan maafkan kesalahan mereka, April."


"Nanti kucoba. Tapi untuk sekarang rasanya tidak bisa. Semuanya terlalu menyakitkan."

__ADS_1


"Ya udah dong... jangan sedih lagi...." dia mengusap rambutku dan memelukku erat.


"Makasih ya Kan..."


__ADS_2