Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab 7 #4


__ADS_3

Aku \= April


Baru beberapa menit perjalanan, Okta menyandarkan kepalanya dibahuku. Setelah kulihat, ternyata dia terlelap. Mungkin dia kelelahan, apalagi ketika di piaynemo dia menggendongku sampai keatas.


Aku mengangkat kepalanya, memindahkannya keatas pahaku. Membiarkan dia terlelap untuk melepas penatnya. Untungnya dia tidak terbangun. Kuusap rambutnya perlahan. Kuhabiskan waktu beberapa saat untuk menatap wajahnya. Dia tampan juga.... eh astaga April. Kamu kenapa sih? Aku berhenti menatapnya dan hanya terfokus kedepan.


Setelah sampai ke Waisai, aku membangunkannya.


"Okta, Okta. Sudah sampai!" Matanya terbuka perlahan.


"Eh. April. Aku tertidur ya. Aduh diatas pahamu lagi. Kamu pegal? Maaf ya?"


"Tidak apa apa. Ayo kepenginapan. Aku juga sudah lelah. Mau tidur." Ia mengangguk dan kami kembali kepenginapan.


***


Pukul delapan malam aku terbangun dari tidurku, dari luar terdengar suara alunan musik yang syahdu. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan lekas keluar. Disana ada Okta, sedang mendengarkan sebuah lagu sambil duduk disebuah kursi kayu. Aku berjalan kearahnya dan duduk disebelahnya.


"Itu lagu apa?" Tanyaku.


"Ini lagu one only dari pamungkas!"


Start countin' all the days


Forever i will stay with you


With you one only you


Go far and roam about


Comeback and callin' out to me


To me one only me.

__ADS_1


"Liriknya bagus bangeeeet." Aku sangat terbawa dengan lagu ini. Apalagi dilirik yang baru saja mengalun. Sangat persis dengan apa yang aku rasakan saat ini.


Oh i'm in love


What did i do to deserve you


You tell me what did i do


To be with you, love


To be the one you runnin' into


When the days do come through


Okta mengucapkan lirik lagu dibagian itu sambil menatapku. Apakah itu yang ingin ia katakan sejujurnya? Atau hanya sebatas membacakan lirik lagu itu saja? Tolong okta, jangan mengatakan hal itu. Aku tak ingin membuatmu patah. Aku tak ingin menghancurkan harapanmu.


Malam itu kuhabiskan dengan mendengarkan lagu lagu dan menatap bintang yang bertumpah ruah dilangit yang berwarna biru gelap. Bulan yang tak mau kalah menyala dengan begitu megah. Memunculkan bentuk bulat sempurnanya dengan istimewa. Sungguh, aku tak ingin malam ini segera disergap pagi. Semuanya terlalu cantik untuk dilalui beberapa jam saja.


***


Kami datang kesebuah toko yang membuatku berdecak kagum. Banyak barang barang bagus disana. Dari batik hingga kaus, semuanya rasanya ingin kubeli. Dari jauh kulihat barang yang cukup menarik. Sebuah tas rajut berwarna cokelat muda. Aku menghampirinya dan meminta Okta untuk mengambilkannya.


"Ambil saja sendiri!" Tukasnya ketus.


Karena kesal, aku mencoba mengambilnya sendiri dengan melompat dan mengangkat tanganku untuk meraih benda yang ada disana. Sial, aku tidak sampai. Tapi aku punya ide, aku akan mencoba melompat lagi.


Okta sedang sibuk melihat lihat. Dia tidak memedulikanku. Dengan cepat aku segera meloncat keatas punggungnya.


"Eh, eh, eh....." dia hampir jatuh saat aku mencoba menaiki punggungnya. Tapi dia langsung berjongkok dan menurunkanku.


"Eh Okta. Jangan marah. Maaf. Habisnya kamu disuruh mengambilkan tas yang diatas tidak mau."


"Siapa yang marah? Ayo naik pundakku!"

__ADS_1


"Hmmm tawaran yang bagus." Balasku sambil langsung terduduk dipundaknya. Dia langsung berdiri dan memegangi kakiku. Aku langsung mengambil tas rajut cokelat itu.


"Sudah. Turun!" "Okta!!! Turun!!" Pintaku segera. Tapi dia tetap diam. Aku menjambak rambutnya agar segera menurunkanku. Tapi bukannya menurunkanku, dia malah berjalan maju mundur dan melepaskan kakiku. Aku yang takut jatuh malah membuatnya tertawa.


"Okta turun!!!!" Dia tidak juga mendengar ucapanku. Aku terus memaksanya dan menjambaki rambutnya. Aku mulai kesal, aku menepuk pipinya dengan keras dan mencubitnya.


"Aduh. Aduh!" Teriaknya kesakitan. "Oke. Oke. Diturunkan." Dia mulai berjongkok dan berdiri kembali dihadapanku dengan tangan yang terus mengusap usap pipinya yang memerah. Wajahnya memasang ekspresi cemberut. "Sakit....." bisiknya pelan.


***


Tak hanya tas rajut (Tas Noken), kami juga membeli kain batik papua untuk ibu, kaos untuk ayah dan sebuah gantungan kuci kayu dengan ukiran yang sangat cantik.


"Ini! Bawakan semua. Terima kasih." Aku memberikan semua hasil belanjaan kami padanya.


"Eh. Enak ya, tangannya ringan!" Sindirnya.


"Hahaha. Enak sekali!!"


***


Sesuai rencana, usai membeli oleh oleh, kami akan pergi ke desa arborek dan menghabiskan hari terakhir kami disana. Seperti biasa, kami harus melintasi hamparan air biru ini untuk sampai ke desa arborek. Semilir angin rasanya bersahabat, sangat sejuk dan menenangkan hati. Aku mengajak Okta berselfie, dia menurut dan mulai bergaya. Aku juga mengambil sebuah video pemandangan indah disamping kiri dan kananku.


"Aku tidak mau pulang." Ucapku.


"Loh. Tidak rindu rumah? Bukankah setelah pergi selalu ada kembali untuk pulang?"


"Pulang itu tak selalu tentang kembali setelah pergi. Kadang, pulang juga bisa tentang menemukan rumah baru ketika kita pergi meninggalkan rumah yang lalu."


"Oh begitu ya. Baiklah, aku berharap aku adalah rumah baru yang akan kau jadikan tempat pulangmu." Balasnya yakin sambil menatapku lembut. Aku terdiam kaku usai kalimat itu. Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Semua yang kutakutkan terjadi. Dia mengharapkan sesuatu yang lain selain persahabatan. Dan aku takut semuanya akan berakhir menyakitkan. Aku berusaha terlihat biasa saja dan melanjutkan obrolan.


"Tapi, jika rumah baru itu dijadikan tempat pulang. Akan ada luka yang terkenang untuk rumah lama yang sudah lebih dulu disayang." Balasku sebagai kode untuknya.


***

__ADS_1


__ADS_2