
Aku = April
"Okta..." aku menyapa disela sela siaran. Karena saat itu lagu sedang bermain.
"Apa? Kamu sudah memaafkanku kan?"
"Tidak tahu.
"Ck. Kukira sudah."
"Malam ini kamu bisa tidak datang ke tempat kafe yang biasa?"
"Oh oke. mau aku jemput?"
"Tidak usah. Kamu datang saja jam tujuh."
Setelah aku mengajak Okta, selanjutnya aku megajak Janu melalui sebuah pesan.
"Janu, kamu masih dirumah kan?"
"Masih, kenapa?"
"Jam tujuh malam nanti bisa tidak temui aku di kafe? Manti aku kirim lokasinya."
"Bisa. Kita berangkat sama sama?"
"Tidak usah. Nanti aku berangkat sendiri."
***
Dari sepulang siaran, aku masih menjadi pemikir. Apa yang harus kulakukan. Menentukan pilihan ternyata tidak mudah. Aku takut jika aku akan mrnyakiti mereka. Aha sepertinya mereka tidak mungkin sakit hati. Janu sudah mengikhlaskanku jika aku bersama Okta, begitupun sebaliknya.
Apa ini berarti mereka tidak mencintaiku lagi? Apa mereka sebenarnya tidak menginginkanku lagi? Ah sudahlah. Aku batalkan saja pertemuanku dengan mereka. Eh tapi.... tidak. Aku harus bertemu mereka terlebih dahulu. Jika mereka tidak menginginkanku, aku ingin menjadi teman mereka saja. Oke. Aku harus bersiap akan bicara apa nanti.
"Aku mengajak kalian kesini karena ada yang ingin kukatakan. Ini perihal..
Astaga.... 'Perihal' bahasaku formal sekali...
"Begini, aku mengajak kalian kesini karena ada yang ingin kukatakan. Ini tentang hubungan.....
'Hubungan' hubungan apa? Masa tiba tiba aku berkata memiliki hubungan dengan mereka? Ya Tuhan....
__ADS_1
"Begini. Aku mau meminta maaf karena....
Karena apa ya? Memangnya salahku apa? Yang kulakukan wajar. Wajar jika aku marah pada mereka. Mereka kan sudah menyakitiku. Bahkan aku pernah berharap mereka hilang dari semesta. Eh iya ya? Kenapa aku tiba tiba memaafkan mereka? Apa yang membuatku memaafkan mereka? Sudahlah! Jika dipikirkan semuanya malah semakin membingungkan.
Bruk... aku melempar tubuhku keatas kasur sambil menjambak rambutku sendiri karena kebingungan. Hhhhhh.
***
Malam. Sekarang sudah malam. Sudah saatnya aku pergi. Tapi aku masih saja disini. Ini sudah setengah tujuh lebih. Nanti aku akan telat. Oke aku berangkat sekarang. Tapi apa yang akan kukatakan nanti? Aduh...
Sambil berpikir aku mondar mandir didalam kamarku. Aku menarik napas dalam dalam dan mencoba meyakinkan diriku sendiri.
"Huh.... Oke. Aku akan lakukan ini. Lakukan April!!" Ucapku yakin.
Perlahan taksi yang kunaiki sampai menuju tempat yang kujanjikan dengan Janu dan Okta. Aku keluar dan berjalan masuk. Kulihat disana sudah ada Okta dan Janu. Sedang duduk tapi saling diam. Aku dekati mereka dan duduk dihadapan mereka. Diatas meja sudah ada tiga minuman yang belum juga diminum. Kafe tidak diisi banyak orang. Hanya ada kita bertiga dan beberapa orang dimeja sebelah. Suasana seperti mendukung kami bertiga.
"Maaf ya aku telat..."
"Tidak apa apa." Ucap mereka bersamaan.
"Jadi.... ada apa kamu mengajak kami... ke... sini?" Janu bertanya terbata.
"Huh...." aku menghela napas panjang terlebih dahulu.
"Untuk?" Tanya Okta.
"Aku meminta maaf karena..... karena aku tidak memaafkan kalian dihari hari kemarin. Aku sangat merasa bersalah. Aku telah membuat kalian bertanya tanya dengan sikapku. Aku telah membuat kalian marah telah....."
"Hei... tidak sama sekali. Kami tidak marah." Janu menenangkanku dan memegang punggung tanganku.
Astaga. Aku sangat gugup. Mereka berdua menatapku serius. Aku tidak bisa seperti ini. Tapi harus kucoba.
"Aku juga mau mengatakan satu hal."
"Mengatakan apa?" Mereka berdua berkata bersamaan lagi.
"E.... bagaimana ya mengatakannya... aku mau... mengulang semuanya dari awal lagi." Ucapku tegas. "Aku mau membuat cerita baru lagi. Jujur aku tidak bisa bertahan sendirian. Aku tidak bisa mendapat kebahagiaan tanpa ada kalian. Aku.... aku.... masih menyayangi kalian. Tapi ini sulit. Sulit ketika aku harus memilih salah satu diantara kalian. Sangat sulit...."
"Hey... tenang.... jika kamu tidak mau memilih kami berdua pun tidak apa. Kamu bisa mencari kebahagiaan lain. Kami tetap akan menjadi temanmu." Jelas Janu menenangkanku.
"Tidak... aku tidak bisa... aku masih terikat dengan kalian berdua."
__ADS_1
"Jadi... sekarang maumu bagaimana?" Tanya Okta sambil menatapku serius.
"Aku..... aku mau memulai cerita baru lagi dengan.... denganmu...." Aku memegang tangan seorang lelaki yang kupilih sambil mengangguk dan menatapnya tersenyum. "Tapi aku mau kita bertiga tetap berkawan baik satu sama lain." Mereka berdua mengangguk dan tersenyum. Aku sudah memutuskan pilihanku. Aku sudah melabuhkan hatiku pada seseorang yang paling kuyakini akan menjagaku sungguh sungguh. Dan semua cerita baru itu, dimulai hari ini. Dengannya. Dengan ia yang memperjuangkanku dengan sangat baik.
***
Bulan dan tahun berlalu. Hari ini aku duduk didepan rumah. Menunggu seseorang pulang. Aku menatap bahagia kedepan halaman rumah. Menatap sebuah ayunan yang diiringi tawa riang. Menatap bola yang berlarian kesana kemari. Lalu sebuah mobil masuk melalui gerbang rumah. Menandakan seseorang yang kutunggu sudah pulang.
"Juna! Anjani! Ayah kalian sudah pulang!" Aku memanggil kedua anakku. Mereka berdua berlarian dan memeluk ayahnya bahagia.
Kami semua masuk kedalam rumah. Kubuatkan kopi untuk ia yang baru sampai rumah. Anak anakku sibuk bercerita pada ayahnya.
"Yah... lihat! Lihat! Gambarku bagus tidak."
"Bagus! Gambar Anjani selalu bagus."
"Ayah... kalau pesawat kertas yang kubuat! Lihat! Bagus tidak?"
"Wah.... sangat bagus. Tapi pesawat yang ini lebih bagus....." ia menggendong anaknya dan mengayunnya seperti pesawat terbang. Kedua anakku tertawa riang dalam pangkuannya.
"Hei.... hei... sudah dulu. Kasihan ayah kalian masih cape..."
Tin... tin.... bunyi sebuah klakson dari luar rumahku.
"Juna! Anjani! Lihat siapa yang datang!" Teriakku memanggil kedua anakku.
"Paman Okta....." mereka berdua berteriak bahagia dan memeluk pamannya itu.
"Wah... kalian sedang apa?"
"Bermain pesawat!"
"Okta... ayo masuk! Feb, ayo masuk, masuk!"
Inilah akhirnya. Aku menikah dengan Janu. Seorang sahabat baik yang pada akhirnya menjadi pasangan hidup yang baik. Aku memiliki dua orang anak yang sangat tampan dan cantik. Yang sangat menyayangi ayah ibunya. Mereka juga punya paman kesayangan katanya... paman Okta.
Ah iya. Okta. Ia juga sudah menikah. Dengan Feby... cukup mengagetkan. Tapi aku yang mendekatkan mereka berdua. Karena aku geram melihatnya sendirian terus. Hahaha. Ia juga mempunyai seorang anak yang cantik. Yang ia beri nama April. Awalnya aku tidak setuju. Tapi katanya mereka suka nama itu.
Jadi beginilah ceritanya. Usai penantian penantian yang melelahkan. Akhirnya kita semua menemukan akhir bahagia. Tentang perasaan, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Perasaan tak pernah salah menemukan tujuan. Tapi ingat, jika tempat tujuan perasaanmu tidak menerima, jangan bersedih hati. Masih ada tempat lain yang tulus yang akan menerima perasaanmu secara suka rela. Jangan lelah menunggu. Karena hidup memang selalu tentang penantian. Dan penantian, selalu menemukan akhir yang sudah digariskan takdir.
- April. Dihari hari bahagianya usai penantian panjang yang cukup melelahkan.
__ADS_1
~TAMAT~