Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab6 #4


__ADS_3

Aku = April


Perjalanan pertama kami dimulai dengan pergi ke piaynemo. Kami berdua menaiki speed boat bersama dengan orang lain yang juga ingin ke piaynemo. Perjalanan akan cukup lama. Katanya memakan waktu satu jam lebih.


"Kamu membawa notes itu terus." Ujarnya saat melihatku memegangi notes dari janu.


"Oh ini. Ini dari janu. Aku tidak mau meninggalkannya dimanapun."


"Pinjam!"


"Mmmmm."


"Sebentar."


"Ya sudah. Ini!" Aku memberikan notes itu padanya.


"Pulpennya!" Pintanya lagi. Aku pun memberikan pulpen yang ada didalam tas. Dia mulai mencoret coret notes ku. Sesekali aku mencoba mengintip tapi dia malah marah.


"Diam. Jangan lihat!"


"Baik. Baik~."


"Sudah!"


"Mana lihat!" Dia memberikan notes itu kembali. Seketika aku ingin tertawa kencang tapi aku mencoba menahannya.


"Bffffttthhh. Ahahahahaha!!" Aku tidak bisa menahan tawaku lagi. "Ini gambar apa?" Tanyaku saat melihat gambar wajah yang tidak mirip wajah.


"Ini gambarmu. Hahaha! Bagus tidak?" Dia pun tertawa melihat gambar yang dibuatnya sendiri.


"Aduh Okta... kalau tidak bisa menggambar, tidak usah menggambar."


"Aku bosan menunggu disini. Hehe." Ia menjelaskan sambil menggaruk garuk kepala sementara aku masih mencoba untuk berhenti tertawa.


Speed boat yang kami naiki berhenti. Kami sudah sampai di piaynemo. Setelah turun, kami diberitahu bahwa kami harus berjalan keatas melalui tangga. Huh, ya sudah. Kami mulai menaiki anak tangga yang banyak itu. Selangkah demi selangkah perlahan tenagaku mencapai ujungnya. Seperempat terakhir aku mulai lelah, tapi aku mencoba berjalan terus.


Okta berhenti. Aku menatapnya licik.


"Kamu kelelahan ya? Hahaha. Lemah!!" Sindirku padanya. Dia agak membungkuk didepanku.


"Naik!" Ajaknya memintaku menaiki punggungnya.


"Eh. Kamu tidak kelelahan. Ini masih agak panjang loh!"


"Kamu yang kelelahan! Aku masih kuat. Ayo cepat naik!" Karena aku memang lelah, aku naik saja kepunggungnya. Tapi disatu sisi aku juga merasa kasihan padanya. Dia juga pasti sama lelahnya denganku.


"Ah.... hampir sampai!!!" Aku sangat girang sampai menepuk nepuk pundak okta.


"Eh, eh. Diam April. Nanti jatuh."


"Maaf. Maaf." Lalu dia lanjut berjalan lagi. Dan kamipun sampai. Dia menurunkanku dari punggungnya.

__ADS_1


"Okta, bawa saputangan tidak?"


"Bawa. Tunggu sebentar..." dia mencari cari saputangan disakunya. Lalu dia berikan kepadaku. Aku mulai mendekatkan lenganku kewajahnya. Mengelap semua keringat yang bercucuran dari dahi hingga ke pelipisnya. Dia tersenyum menatapku yang sibuk mengelap keringatnya.


"Kenapa senyum senyum begitu?"


"Lelahku hilang usai melihat wajahmu dan melihatmu mengelap keringatku."


"Hmmm. Ada ada saja." Aku menggelengkan kepala.


"Iya. Serius. Tuh lihat. Aku segar kembali." Dia mengangkat lengannya seperti memperlihatkan otot ototnya.


"Iya. Iya. Sudah, minum dulu!" Aku memberikan botol minum yang berisi air putih padanya.


"Mau berfoto disana tidak?" Ajaknya setelah meminum minuman yang kuberikan.


"Mau, mau. Tapi masih ada orang disana."


"Ayo. Kita kesana saja dulu." "Mas, boleh minta tolong fotoin kita berdua?" Ia mengajak orang yang ada disana mengobrol.


"Oh boleh." Haduh. Dasar ya. Dia orangnya tidak sabaran. Tanpa basa basi dia langsung menarik lenganku dan kami bergaya. Tadinya kami mau berfoto dengan kamera polaroid. Tapi dia lupa membawanya dipenginapan. Akhirnya kami berfoto dengan HP saja. Setelah berfoto, kami hanya fokus pada pemandangan didepan yang keindahannya tidak bisa digambarkan. Dengan laut yang berwarna biru, banyak batuan karst dengan langit yang dipenuhi gumpalan permen kapas, Mataku rasanya dimanjakan secara bertubi tubi ditempat ini.


"Indah ya?" Tanya nya.


"Iya. Indah sekali."


"Baru kali ini aku melihat sesuatu yang sama indahnya dengan matamu."


"Hehe. Serius. Biasanya aku terpesona begini saat melihat matamu. Tapi sekarang berbeda. Pemandangan ini yang membuatku terpesona. Tapi tetap saja sih, aku akan terpesona jika disuruh melihat matamu." Ah dia malah membuatku tersipu malu. Aku jadi bungkam usai ia mengatakan kalimat itu.


Kami duduk disalah satu anak tangga. Dia terus menatapku sambil tersenyum dan memegang dagu. Aku usap saja wajahnya agar berhenti menatapku.


"Aduh!" Protesnya.


"Lihat apa sih?"


"Lihat kamu lah."


"Iya buat apa?"


"Mmmmm. Bikin bahagia."


"Hah?"


"Iya. Kata orang orang juga bahagia itu sederhana. Seperti yang aku lakukan sekarang. Melihatmu saja aku bahagia."


"Haduh. Rayu terus!! Sudah ayo kita turun kebawah!"


"Tunggu semenit lagi saja."


"Buat apa?"

__ADS_1


"Menatapmu."


"Okta~." Aku menatapnya serius.


"Iya. Iya. Turun. Ayo!"


Aku tak pernah menganggap semua rayuannya itu. Karena aku yakin itu hanya candaannya. Jika rayuannya itu serius bagaimana? Aku takut. Takut jika rayuannya itu serius. Karena aku yang mungkin akan disalahkan karena telah membuatnya menaruh harapan. Tapi ini bukan salahku juga. Dari awal dia yang memintaku untuk menerimanya menjadi kawan baik. Tapi, kuharap semua rayunya hanya candaan belaka. Tidak lebih.


Speed boat membawa kami ketempat tujuan selanjutnya yaitu star lagoon (Laguna Bintang). Disana katanya tempat yang sangat indah. Apalagi airnya yang bening berwarna biru kehijauan. Memperlihatkan keindahan yang ada dibawahnya. Ah aku jadi ingin segera kesana. Untuk menyeburkan diri dan melepas semua penat yang dari tadi terus melekat.


"Selanjutnya ke star lagoon. Kita berenang!! Whoooo!!!" Teriakku sangat girang dan tidak sabar.


"Kalau kamu kesana nanti airnya keruh loh!"


"Kenapa?"


"Airnya malu karena kalah cantik."


"Ck. Okta~." Aku mencubit pipinya itu.


"Aduh. Sakit."


"Makannya diam."


"Baik. Tuan putri ku."


***


Sesampainya disana, tanpa aba aba apapun. Kami berenang diatas air yang begitu bening menyegarkan itu. Banyak keindahan yang terlihat dari bawah air. Untuk kesekian kalinya, mataku dibuat terkesima. Okta melompat beberapa kali menuju air. Kami tak banyak mengambil foto disana, karena kami sibuk melakukan yang menyenangkan. Bukankah itu yang lebih penting? Bukankah kamera terbaik itu adalah mata kita sendiri? Jadi daripada sibuk mengambil gambar, lebih baik melakukan hal hal menyenangkan yang akan menjadi cerita yang dapat disimpan dalam ingatan.


Cukup lama kami berenang renang. Sekarang kami naik keatas dan duduk berdua menghadap laguna indah berbentuk bintang.


"Andai keseharian kita cuma jalan jalan begini. Rasanya hidup pasti menyenangkan." Ujarnya sambil menatap kedepan.


"Bisa saja sih. Tapi untuk jalan jalan begini kita dapat uang darimana? Hahaha."


"Hahaha. Iya juga ya." Lalu pandanganku tertuju pada wajahnya. Dengan rambut yang tidak tertata, air yang masih bercucuran dari atas kepala menuju wajahnya. Alisnya yang tebal, hidungnya yang mamcung dan senyumnya cukup indah untuk membuatku tertuju padanya. Mataku cukup lama dihabiskan untuk menatapnya.


"Hmmm?" Dia mengangkat dagunya dan membuatku tersadar. Duh astaga.... kenapa aku malah menatapanya seperti tadi?


"Eh tidak. Tidak apa apa. Tapi aku penasaran. Kamu tidak punya pacar? Atau dekat dengan seseorang mungkin? Dikampus atau disosial media?"


"Tidak. Sekarang aku sedang sibuk menunggu seseorang untuk memberikan hatinya padaku."


"Kenapa menunggu?"


"Karena hatinya sedang ada pada orang lain."


Aku? Apa yang dia maksud itu aku? Kuharap bukan. Aku tak ingin mematahkan hatinya. Apa itu sebab kenapa ia selalu merayuku (karena ia menyukaiku?) Jika aku tidak akan bisa menyimpan hati padanya bagaimana? Apa ia masih akan menjadikanku tuan putrinya? Kuharap dia tidak pernah mencintaiku atau memiliki perasaan apapun itu.


"Eh kita kembali yuk?" Ajakku gelagapan.

__ADS_1


"Ayo. Aku juga sudah sangat lelah."


__ADS_2