
Aku = April
Untuk beberapa hari, mereka tidak menampakan pesan ataupun panggilan di HP ku. Karena aku sudah mengganti kartu SIM. Aku yakin mereka tidak akan menggangguku lagi. Hidupku akan tenang.
Hari ini ada siaran pagi. Aku menggantikan seseorang yang katanya tidak bisa hadir. Ini masih setengah tujuh, dan siaran akan dimulai setengah jam lagi. Karena belum sarapan, aku membeli satu mangkok bubur kacang hijau yang ada didepan stasiun radio.
"Eh April! Udah dari tadi?" Tanya seseorang saat aku sedang asyik makan.
"Hey. Baru kok. Baru datang! Sini ikut sarapan!"
"Yoo. Yang kenyang. Gue duluan ya?!"
"Iya...."
"Eh..." dia kembali lagi seperti ada yang kelupaan. "Okta udah datang?"
"Be.... belum. Hehe." Astaga aku lupa kalau Okta produser siaran hari ini. Aduh. Aku menepuk jidat berkali kali. "April......"
***
Dan yang terjadi selanjutnya adalah; Okta berada disebelahku. Aku sudah meminta untuk pindah tempat duduk tapi tidak ada yang mau. Dan akupun terjebak disini.
Tapi meski dia disebelahku, dia tak banyak bicara. Justru malah cemberut terus. Hahaha. Biarkan saja. Biar tidak mengganggu.
"Ini baca ya buat iklan habis lagu ini!" Ucap Okta dingin sambil memberikan sebuah kertas.
Kertasnya dua lembar. Ada lembar untuk iklan, dan satu lagi. Isinya begini :
Jangan marah lama lama. Sudah ya? Aku lelah terus mencoba pergi menjauh. Kita mulai semuanya seperti awal lagi ya? Aku mohon... aku tidak bisa seperti ini terus. Baiklah aku akan lakukan apapun asal kita seperti dulu lagi. Tolong maafkan aku karena tidak bisa memperbaiki semuanya....
- dari Okta
Yang sedang susah payah membujuk tuan putrinya.
Aku tidak lekas memedulikannya.
"Hai semuanya. Buat kalian yang suka banget makan-makan. Nah kebetulan nih. Sekarang lagi ada promo bla bla bla......"
Baru beberapa langkah aku berjalan keluar, Okta menahanku. Ia memegang tanganku agar aku tidak pergi.
"Mau apa?" Aku bertanya tenang.
__ADS_1
"Oke. Tidak apa apa jika kamu tidak mau memaafkanku. Tapi kamu harus kembali pada Janu. Kamu harus bahagia lagi. Dia sangat menyayngimu, April. Jangan seperti ini ya? Pentingkan kebahagiaanmu."
"Aku tidak tahu. Aku bingung dengan perasaanku, Okta. Aku bingung. Siapa yang harus kuperlakukan bagaimana, aku tidak tahu! Cukup! Sepertinya aku memang ditakdirkan sendiri!"
"Tidak! Kamu harus bahagia dan kembali dengan Janumu..."
"Huh.... aku tidak tahu...." aku menghela napas panjang dan bergegas pulang.
***
Saat aku hendak masuk kerumah, ada seseorang yang sedang duduk dikursi depan rumahku. Astaga... kenapa dia kembali lagi kesini? Untuk apa? Untuk membuatku semakin patah? Tuhan, apa semua rasa sakit ini tidak cukup? Tolong segera hentikan.
Huh.... Jika aku masuk kerumah, aku harus melewatinya terlebih dahulu. Sangat malas. Aku berjalan gontai menuju pintu tanpa memedulikannya. Saat berada diambang pintu, tanganku ditarik dan aku dibuat menghadapnya.
"April...." panggilnya sambil memegang kedua pipiku dan menatapku dengan tayapan sendu. Ia seperti ingin memelukku, tapi tersadar bahwa aku sedang marah padanya.
"Aku tidak mau bertemu denganmu. Pergi!"
"Tolong dengar dulu...."
"Pulang! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Cukup dengan semuanya! Aku sudah sakit!" Aku mendorong dadanya keras.
"Minta maaf? Kemana saja kamu selama ini, Janu?! Kemana saja kamu saat aku berusaha menjelaskan semuanya? Kamu tidak mendengarkannya bukan? Saat kamu pergi semuanya sudah hancur berantakan! Tak ada yang bisa memperbaikinya termasuk kata maafmu!!" Aku tidak bisa menahan amarahku lagi. Aku segera masuk kerumah dan menutup pintu dengan keras.
"April... tolong maafkan aku karena selama ini aku salah paham..."
"Kamu baru menyadarinya sekarang? Kemana kamu saat aku sedang terluka parah?"
"Iya maaf... aku baru tahu saat Okta menjelaskannya. April... tolong.... aku pulang kesini hanya untukmu..."
Okta? Jadi Okta yang memberitahunya? Kenapa Okta melakukan semua ini? Dia tahu semuanya tidak mungkin bisa diperbaiki. Kenapa dia memaksa?
"Itu salahmu. Tidak ada yang menyuruhmu kesini!!" Aku terduduk lemas membelakangi pintu. Membiarkan air mataku turun dengan isak tangis yang tidak mau berhenti.
Sudah cukup lama dia diam. Mungkin dia sudah pergi...
"Oke. Aku minta maaf untuk yang terakhir kalinya. Tapi aku cuma minta satu...."
"Aku mau kamu menjalin hubungan baru dengan Okta. Karena aku yakin hanya dia yang bisa membuatmu bahagia. Aku yakin dia bisa menjagamu. Kamu mau ya? Berbahagialah dengannya. Maka aku juga akan bahagia melihatnya..."
Aku semakin dibuat bingung. Okta memintaku bersama Janu, sementara Janu memintaku bersama Okta. Apa yang harus kulakukan? Memilih? Atau membiarkan mereka berdua dibuat bingung dengan pilihanku? Kenapa harus seperti ini? Kenapa?
__ADS_1
Mendengar musik. Hanya itu yang bisa menghiburku saat ini. Saat itu lagu yang ku putar adalah lagu Cinta Kau dan Dia dari The Rock yang sangat sangat sesuai dengan perasaabku saat ini.
Sekali lagi maafkanlah...
Karena aku.... cinta kau dan dia....
Maafkanlah ku takkan tinggalkan dirinya...
Entah siapa dirinya itu. Aku saja bingung aku ingin bersama siapa. Siapa yang aku inginkan, siapa yang aku butuhkan, siapa yang terbaik aku bingung. Sangat bingung.
***
Tidur tak pernah salah dijadikan pilihan untuk mengisitirahatkan pikiran. Saking lamanya aku tertidur, aku bangun di sore hari. Itu juga karena ibu membangunkanku. Jika aku tidak dibangunkan, mungkin aku akan tidur terus. Hahaha.
"Mau apa bu bangun? Baru juga tidur sebentar. Sekarang juga masih sore kan?"
"Tidur sebentar? Sore? Ini sudah pagi! Lihat!" Tukas ibu sambil membuka gorden.
"Ha? Pagi? Ini benar benar pagi?" Aku terbelalak karena heran.
"Iya. Ini pagi. Lihat jam!"
Astaga ternyata benar ini sudah pagi. Aku tidur dari siang kemarin. Selama itu? Cepat sekali waktu berlalu. Ah tapi, secepat apapun waktu berlalu, masalah tidak pernah ikut berlalu. Tetap saja ada.
"Sudah! Jangan banyak berpikir! Ayo sarapan!"
"I... iya.... aku cuci muka dulu."
***
"Bu, jika ibu disuruh memilih dua orang yang mengharapkan ibu, ibu akan memilih mana antara yang menyakiti ibu tanpa sengaja tapi itu sangat menyakitkan, atau menyakiti ibu dengan cara berbohong agar ibu menjadi miliknya? Mana yang akan ibu pilih untuk memulai cerita baru dengan ibu?"
"Hmmmm. Senyamannya ibu aja sih. Kalau ibu nyaman sama dia, meski dia udah menyakiti ibu, ya ibu akan maafkan. Begini, sayangilah seseorang yang memperjuangkanmu dengan baik, bukan yang pernah melukaimu dengan cara yang tidak baik."
Seketika aku terdiam. Aku yang dari tadi sibuk mengunyah tiba tiba berhenti. Sekarang aku mulai berpikir lagi siapa yang akan kupilih. Atau aku tidak usah memilih saja? Tidak. Aku harus memilih. Kemarin saja saat aku memutuskan untuk sendiri, mereka terus meneror ku. Astaga....
***
"Bu April pamit siaran..."
"Iya... hati hati...."
__ADS_1