
Aku \= Januar Anggara
"Januuuuuuu!!!" Teriaknya saat aku sedang menunggunya di tempat parkir kampus. Tiba tiba dia memelukku dengan erat.
"Ada apaaaaaa?" Ucapku mengikuti nada ucapannya.
"Oke. Oke. Tunggu. Huh." Dia menarik dan membuang napas. "Jadi. Aku diterima di stasiun radio yang waktu itu! Aaaaa." Dia melompat lompat karena senang.
"Baik ceritakan padaku lengkapnya." Aku menarik tangannya ke kantin. Saat duduk dia menjelaskan dengan nada riang gembira.
"Jadi begini. Setelah dua minggu ini. Akhrinya tadi aku ditelepon. Katanya begini 'halo april? Mmm kamu yang ikut audisi kemarin ya? Selamat...... kamu terpilih sebagai pemenang. Dan untuk info selanjutnya kamu bisa datang saja langsung kesini' Aaa." Dia teriak lagi sambil tepuk tangan. Aku diam sejenak.
"Yeeeeeeee." Aku sangat senang. Lebih senang dan lebih atraktif dari April. Aku meloncat dan berjoged didepannya. Dan secara kebetulan disana ada sebuah musik dangdut yang mengalun. April tertawa melihatku yang seperti itu.
"Eh tunggu. Aku juga punya pengumuman."
"Apa? Apa?"
"Jadi aku sudah harus mulai menulis skripsi. Berarti aku akan lulus tahun ini. Yeeee." Aku kegirangan dan berjoget lagi. Tidak dengan April. Dia terlihat murung.
"Kalau begitu kita tidak bisa pergi sama sama lagi ya? Pulang ke kampus dan makan ayam goreng lagi."
"Hmmm." Aku tersenyum kecil. "Lupa ya kalau rumah kita dekat?"
"Iya. Tapi dikampus aku sendirian."
Aku diam. Aku seperti tidak tega.
"Eh. Eh. Tidak apa-apa. Bagus kalau kamu lulus dengan cepat! Hehe." Jelasnya sambil tersenyum yang aku tahu itu pura-pura.
***
Aku sudah mau lulus, tapi perasaan belum juga terurus. Sudah lama rasa ini dipendam rapat-rapat. Aku belum berani mengutarakannya. Jadi kapan beraninya? Menunggu dia menikah? Menunggu dia mempunyai anak dan pergi bersama suaminya? Begitu? Aku meracau sendiri. Susah. Setiap kali aku mau bicara. Rasanya mulutku terkunci. Lalu muncul kalimat "dia mungkin cuma mau jadi sahabatku saja." Hehe. Itu yang aku rasakan. Baik. Begini. Aku akan bilang padanya dengan segera.
***
Percobaan pertama. Dia sedang berjalan menghampiriku. Aku memberhentikannya.
"April. Ada yang mau aku bilang."
"Mmm. Nanti antar aku ya ke stasiun radio?"
"Eh. Iya. Hehe." Lalu dia lupa tentang kalimat awal ku.
Gagal.
Percobaan kedua. Kami sedang makan berdua. Disana suasananya agak sepi. Ini waktu yang tepat.
"April. Aku itu su...."
"Nah. Ayamnya datang juga. Apa tadi?"
"Aku su...."
"Eh. Aku lupa pesan eskrimnya. Tunggu ya."
__ADS_1
Gagal. Tidak mudah. Tidak mudah.
Ribuan percobaan yang selalu gagal.
"Aku suka."
"Aku barusan dichat sama kakak kelas yang dulu aku suka. Dia tanya sekarang aku sudah jadi penyiar radio ya. Bla bla bla. Ah senangnya."
Duh.
Apakah tuhan tidak mau membiarkan kita dekat lebih dari seorang sahabat? Apa kita bertemu hanya untuk sebuah hubungan yang semu? Apa hanya aku yang mempunyai perasaan padanya sementara ia tidak? Aku bingung. Jika dia tidak ditakdirkan untukku. Ku harap perasaan ini hilang. Tak perlu muncul terus dan berlalu lalang dari pagi hingga petang.
***
Aku sudah lelah dengan perasaan yang terus muncul ini. Aku harap perasaan ini hilang secepatnya. Aku tidak mau terus merasa sakit atas perasaan yang hanya bisa ku tahan. Bukan tidak mau mengungkapkan. Tapi takut. Iya takut. Takut jika saat aku mengungkapkan, ternyat dia tidak berperasaan sama. Lalu kita saling berjauhan hanya karena hal sepele itu.
Sekarang aku coba membuka hati untuk seseorang yang baru. Untuk seseorang yang mungkin bisa aku terima dan bisa menerimaku. Aku harap dengan datangnya orang baru, perasaanku pada April hilang.
***
"Hai Janu." Sapa seorang perempuan yang menghampiriku. Dia adalah Feby. Aku memintanya menemuiku karena ingin mengajaknya makan. Selain itu, aku ingin mencoba dekat dengan seseorang yang baru. Oh iya. Kata April, dulu Feby sempat bilang padanya kalau dia suka padaku. Jadi semoga saja perasaannya masih sama seperti dulu. Dan semoga juga hatiku bisa terbuka untuknya. Oke. Oke. Kita lanjutkan.
"Mmmm. Feb. Mau tidak kalau nanti malam kita makan bersama."
"Oh boleh."
"Nanti aku jemput ya kerumahmu?"
"Sip!" Ada senyum yang merekah dibibirnya saat menerima ajakanku itu.
Aku mendatangi April yang sedang duduk sendirian. Aku mengatakan padanya tentang ajakan makan ku pada Feby.
"Bagus lah. Kalau bisa cepat jadian saja." Hehehe. Itu rasanya sakit. Tapi kutahan.
***
Sampai malam tiba, aku terus memikirkan harus memulai percakapan seperti apa. Aku bersiap lalu keluar rumah untuk menaiki motor. Belum sampai keluar, diruang tengah sudah ada April yang sedang mengobrol berdua dengan ibu.
"Janu. Mau kemana?"
"Itu loh. Yang tadi aku ceritakan."
"Ih serius? Tunggu. Tunggu. Kamu pakai baju ini?" Dia berdiri dari tempat duduknya dan menunjuk badanku yang hanya memakai kaos lengan panjang.
"Iya. Kenapa?"
"Ih. Yang agak bagusan dong. Masa mau kencan sama perempuam, penampilannya begitu."
"Tapi aku setiap pergi makan denganmu penampilannya begini."
"Ya itu berbeda. Sudah ganti. Ganti!" Dia menarik tanganku dan memilihkan bajuku dikamar. Dia membuka rak baju lalu mencari baju yang lebih baik daripada yang aku kenakan.
"Kemeja mu cuma ini saja?" Tanyanya sambil menunjuk sebuah kemeja yang hanya ada satu di rak.
"Iya. Itu buat acara formal."
__ADS_1
"Oke. Oke. Tidak usah pakai kemeja. Mmmm. Nah ini." Dia mengambil sebuah jaket denim lalu melihatnya beberapa detik. "Sudah. Pakai ini. Eh tunggu. Kaos nya juga ganti! Yang ini aja!" Dia mengambil satu kaos hitam lalu memberikannya padaku.
"Oke. Oke. Aku ganti. Cepat kamu keluaaaaar!"
***
Aku dan Feby duduk berhadapan dikafe. Memesan makanan dan minuman. Lalu mengobrol lebih dalam tentang diri kami masing-masing.
"Janu. Kamu sudah punya pacar?" Tanya nya.
"Belum. Kalau kamu?"
"Belum juga."
"Mmmmm." Aku mengangguk anggukkan kepala. Ya ampun sulit sekali mengobrol untuk lebih dekat seperti ini. Dia lalu mengeluarkan HP nya dan memainkannya. Huh. Membosankan. Kalau dengan April aku tidak akan merasa bosan seperti ini. Tapi aku harus berusaha membuat perasaanku pada April hilang.
"Janu, kamu lihat deh ini. Lucu." Pintanya sambil menunjukan sebuah meme di instagram.
"Iya. Hahaha." Aku tertawa pura-pura.
"April. Eh Feby maksudku. Aku kekamar mandi sebentar ya?"
"Oh iya. Aku tunggu disini."
Aku menatap kosong didepan kaca. Pikiranku malah tertuju pada April. Bagaimana jika dia ternyata cemburu melihatku dengan Feby? Bagaimana jika dia ternyata juga suka padaku? Bagaimana jika selama ini dia juga menungguku untuk mengungkapkan perasaan padanya? Pikiranku melayang jauh dan berbeda dengan pikiran saat aku ingin mengungkapkan perasaan pada April. Saat aku dengannya aku berpikir bahwa ia tidak akan suka padaku. Tapi saat aku bersama Feby aku malah berpikir sebaliknya.
Aku kembali ke tempat duduk. Feby tidak ada. Mungkin dia sedang kekamar mandi.
"April.... perasaanku tidak bisa hilang meski aku mencoba bersama seseorang yang baru...." ucapku saat itu.
***
Hubunganku dengan Feby sekarang dekat. Kami menonton, makan, jalan jalan dan mengerjakan semuanya lebih sering. Terutama jika April pergi siaran. Tapi aku belum mengungkapkan perasaan pada Feby. Karena perasaanku belum tumbuh seutuhnya. Perasaan pada April tak hilang juga. Malam ini aku akan mengungkapkan perasaan pada Feby. Mungkin setelah aku menjadi kekasihnya, perasaanku pada April akan hilang secara perlahan.
Ditengah kafe yang tidak terlalu ramai, ada aku dan Feby yang sedang duduk berhadapan. Aku menatapnya dalam, dia terlihat tidak seperti biasanya. Dia lebih gugup hari ini. Apakah ia tahu kalau aku akan mengungkapkan perasaan padanya?
"Feb..." dia menatapku. Ada hening selama beberapa detik diantara kami berdua. Aku menghela napas panjang.
"Aku itu su...."
"Sampai kapan mau begini terus?" Dia memberi pertanyaan yang memotong ucapanku.
"Hmmm?" Tanyaku kembali.
"Mau sampai kapan kamu menjadikanku sebagai pelampiasan hanya agar kamu melupakan April? Mau sampai kapan kita dekat sementara yang ada dikepalamu hanya pikiran tentang April. Mau sampai kapan kamu terus membicarakan April saat kita sedang berdua?"
Aku kaget mendengar ucapannya. Tapi ini salahku. Aku sering melakukan hal hal yang Feby tanyakan. Saat dibioskop, aku selalu membicarakan film apa yang suka ku tonton dengan April. Saat makan, aku sering membicarakan makanan kesukaanku dengan April. Ini semua salahku.
"Feb. Maaf. Tapi..."
"Waktu pertama kali kita makan, kamu sempat berbicara kalau perasaanmu tidak bisa hilang meski dengan seseorang yang baru. Dan aku tahu, itu untuk April. Aku tahu janu. Asal kamu tahu saja. Menjadi aku rasanya sakit. Harus membuatmu suka terhadapku padahal yang kau suka adalah orang lain. Harus mendengarmu membicarakan orang lain disaat kita berdua. Harus mendengarmu berkata bahwa tujuanmu dekat denganku hanya agar perasaanmu pada orang yang kau suka segera hilang." Aku diam tak bersuara. Dia lalu berdiri dari mejanya dan pergi dengan airmata yang keluar melewati pipinya.
"Feb.. . Feby... . Maaf..." teriakku yang mungkin tidak ia pedulikan.
Ada sesal disana. Aku membuatnya sakit karena rasa egoisku yang mendekatinya hanya sebagai pelampiasan agar perasaanku pada april hilang. Aku salah. Salah atas rasa sakit yang menimpanya.
__ADS_1