Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab 7 #2


__ADS_3

Aku \= April


Sudah hampir satu tahun kamu pergi, Janu. Sudah hampir satu tahun juga aku merindu. Aku tidak mau terus mengenang. Yang aku mau adalah mengulang. Aku tidak mau terus menunggu, yang aku mau kita segera bertemu. Aku bosan terus berbalas pesan, yang aku mau kita saling berbalas pelukan.


Jika rindu itu pohon, sudah banyak hutan yang aku ciptakan. Dari hutan paling indah hingga hutan paling menyeramkan. Hutan yang berarah hingga hutan yang membuatku tersesat sampai lelah. Sedih, banyak tangis, kadang kamu bilang "Aku selalu ada." Iya ada. Tapi entah didimensi mana. Ada, tapi entah ada untuk bercengkrama atau hanya sekedar bertegur sapa melalui layar layar datar yang hanya bisa mendukung ketukan, bukan pelukan.


Oke sekarang aku mau marah pada semesta. Aku mulai benci keadaan ini. Keadaan dimana rindu itu terasa melelahkan. Jadi, kapan kamu pulang? Kapan aku digendong dibelakangmu, kapan kita menciptakan pertemuan dari minggu hingga sabtu. Kapan kita makan ayam dan eskrim cokelat dan strawberi yang dingin itu. Kapan kita membeli buku dan bertukar buku yang kita beli itu? Kapan ada kata LAGI diantara semua kejadian kejadian itu. Kuharap secepatnya.


***


Pagi ini tidak ada telepon dari janu. Tidak ada sapaan hai darinya untuk menyambut hariku. Tapi bukan hanya hari ini saja, hari hari kemarin bahkan dia tidak sempat menghubungiku, tidak apa apa lah. Mungkin dia sedang sibuk.


Lalu suara klakson terdengar begitu nyaring. Okta, kedatangannya seperti sudah bisa kutebak. Mulai dari jam berapa dia akan datang, hingga suara klaksonnya yang hanya dua kali ia bunyikan. Aku sudah hapal akan hal itu. Aku berlari cepat menemuinya, entah aku sedang keraskukan apa kali ini. Aku sangat berharap dia datang. Apa karena tidak ada kabar dari Janu? Mungkin saja.


"Hai Ap..." belum selesai ia menyapa, aku segera memakai helm dan menaiki motornya.


"Ayo. Cepat!"


"Oh... i.... iya.."


"Sekarang aku mau makan, lalu ketoko buku." Ucapku singkat lalu aku diam kembali. Ada hening disana, mungkin ia merasa heran. Bagaimana tidak, meskipun ia sering mengantar jemputku, aku tidak pernah bersikap seperti ini. Biasanya aku akan menolaknya terlebih dahulu, ya meskipun akhirnya aku menerimanya karena kasihan ia harus menunggu. Hahaha. Kadang juga ia yang selalu memaksa mangajakku makan, tapi kali ini aku yang mengajaknya. Entahlah, aku juga heran aku ini kenapa.


Sesampainya ditempat makan, dia masih menatapku heran. Mungkin dalam hatinya dia bertanya "perempuan disebelahku sedang kenapa ya?" Sungguh, sikapku padanya kali ini aneh.


"Selfie..." ajakku. Dia mengiyakannya. Kami mulai bergaya didepan kamera. Setelah berfoto, aku segera mengunggahnya ke instagram dengan caption "Friendship."


Oke. Kali ini aku tidak bisa menutup diri dari Okta terus menerus. Dia sudah sangat baik padaku. Menganggapnya sebagai teman baik yang benar benar akan aku andalkan rasanya tidak apa apa. Maaf, aku sudah ingkar atas janji yang aku buat dulu, janji untuk tidak terlalu dekat dengan lelaki manapun. Tapi Okta berbeda, Dia sungguh sungguh ingin menjagaku, kurasa dia tidak berniat menjauhkanku dari janu. Dia juga sudah meminta izin pada Janu. Jadi ya... kurasa tidak apa apa.


***


"Mau beli buku apa?" Tanya Okta saat kami berjalan memasuki toko buku. Aku tidak segera menjawabnya. Kami menyusuri rak rak buku yang berjajar. Hingga aku berhenti disatu rak buku dimana ada komik detektif conan.


"Mau yang itu okta!!" Aku meloncat loncat dan terus berusaha untuk meraih komik itu karena ada di tempat paling atas. Sementara aku meloncat loncat, okta sibuk tertawa melihat aku yang sedang kesulitan.


"Ih...." aku melihatnya dan langsung memukulnya dengan keras.


"Apa?" Tanya nya seperti tidak tahu apa apa.


"Kamu tidak peka ya. Ambilkan!! Sudah tahu aku kesulitan."

__ADS_1


"Yasudah. Ayo." Dia membungkukan badannya didepanku. "Ayo. Katanya mau ambil bukunya." Lanjutnya. Dengan ragu aku menaiki punggungnya dan ia mulai menggendongku. Janu....... Aku jadi teringat padamu. Kamu yang biasanya menggendongku seperti ini. Saat aku sedang malas berjalan, biasanya kamu yang akan melakukan ini. Sekarang kamu tidak ada.


"Sudah. Sudah. Turun!" Ucapku padanya agar menurunkanku. Tapi bukannya menurunkanku, dia malah berputar putar hingga aku ingin sekali berteriak dengan keras.


"Okta.... berhenti...." aku terus mencoba membuat ia berhenti melakukan itu sambil menjambak rambutnya. Tapi tetap saja, dia malah terus berputar putar dan tertawa. Dasar ya, tidak kasihan apa melihatku yang terombang ambing begini.


Kita cuma beli dua buku, tapi rusuhnya keterlaluan. Gara gara dia. Untung saja tidak dipanggil satpam. Hahaha. Oh iya, aku membeli komik detektif conan sementara dia membeli buku tere liye. Aku bilang kalau sudah selesai membaca kita harus bertukar. Tapi dia menolak karena dia tidak suka komik.


"Tidak mau."


"Ck. Kok begitu?" Aku memasang wajah kesal.


"Nanti kalau aku sudah selesai baca. Bukunya buatmu saja."


"Nah begitu kan lebih bagus. Ayo pulang!"


"Hahaha. Iya. Ayo!" Dia berlalu pergi sementara aku hanya celingak celinguk dan diam saja. "Ayo!!" Dia menggerutu.


"Gendong ya?" Tanya ku.


"Astaga. Yasudah, ayo!" Dia lalu membungkuk dan menggendongku keluar. Dia ini siapa? Janu bukan? Mereka berdua terlalu sama!!


***


"Padahal mau pamit."


"Nanti aku bilang."


"Baik. Sampaikan juga kalau anaknya seperti anak kecil! Mau digendong terus!"


"Hahaha. Sudah. Cepat pulang! Salim dulu." Ucapku sambil mengulurkan tangan. Tapi dia malah menepuk tanganku.


"Dah. Sampai nanti..." motornya lalu menjauh dari depan rumahku. Sekarang aku jadi lebih sering tersenyum saat berada didekatnya. Gara gara sikapnya yang entah kenapa selalu mengingatkanku pada janu.


***


Akhirnya malam malam, sebuah video call dari janu muncul juga. Aku bergegas mengangkatnya. Dia memasang wajah seperti orang kelelahan.


"Kenapa?" Tanyaku khawatir.

__ADS_1


"Banyak tugas. Dari pagi sampai sore. Maaf ya aku jarang menghubungimu." Dia lalu tersenyum.


"Iya. Tidak apa apa." Aku memasang wajah bahagia.


"Kamu kenapa bahagia begitu?"


"Oh.. ini... Aku tadi habis beli buku baru...."


"Sama okta?"


"Eh. Iya. Maaf aku tidak bilang."


"Tidak apa apa. Tenang saja. Yang penting kamu tidak mempunyai perasaan lebih padanya. Dan aku yakin kamu tidak akan sampai seperti itu."


"Hmmm.." aku tersenyum lagi.


"Oh iya. Ada yang mau aku bilang."


"Apa?"


"Bagaimana ya... begini... bulan depan kan aku ada libur. Tapi aku belum bisa pulang."


"Kenapa?"


"Mmmm. Ada urusan."


Wajahku berubah jadi cemberut. Bulan depan itu bulan yang spesial. Kenapa dia harus tidak pulang?


"Yasudah. Tidak apa apa. Tahun depan asal pulang dan kita jalan jalan keraja ampat ya?"


"Eh. Kamu masih ingat soal raja ampat? Kukira sudah lupa."


"Masih lah. Aku juga ingat kalau kamu sudah janji untuk mengajakku pergi kesana."


"Iya. Iya. Tenang, aku tidak akan lupa. Tapi tidak sekarang ya.. maaf."


"Iya.."


Untuk tahun pertama dia pergi, kukira akan ada jeda atas hubungan berjarak yang begitu menyiksa. Kukira dia akan menemuiku sejenak, memberiku pelukan hangat atau sandaran melegakan untuk menyembuhkan rasa rinduku. Ternyata tidak. Ada hal lain yang lebih penting katanya. Tidak apa apa. Asalkan dia bahagia disana, aku siap menunggunya. Semoga saja. Semoga aku akan kuat melalui tahun kedua yang mungkin akan lebih menyiksa.

__ADS_1


__ADS_2