Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab 1 #5


__ADS_3

Aku = April


Untuk hari hari awal ditinggalkan, rasa sakit itu masih berselimut dalam tubuhku. Rasa sakit ketika ditinggal oleh seseorang yang sangat kusayangi. Aku masih tidak dapat menerima semuanya. Aku masih berharap Janu akan menarik semua ucapannya.


Satu hari pertama, aku mengurung dikamar. Tidak mau keluar atau menemui siapapun. Dan itu adalah hal bodoh yang aku lakukan. Dengan diam dirumah saja, semuanya takkan selesai, April.


"Ibu~." Aku berteriak didepan rumah Janu pagi pagi sekali. Tapi tidak ada jawaban sama sekali. Apakah ibu pergi? Tapi pergi kemana? Karena tak ada jawaban sama sekali, aku memutuskan untuk pulang saja.


"Habis dari mana?" Tanya ibu saat aku masuk kerumah


"Dari rumah depan."


"Habis apa?"


"Mencari ibunya Janu."


"Sudahlah. Lupakan Janu mu itu." Ibu memegang lenganku.


"Tapi bu...."


"Dengarkan ibu. Kamu itu sudah dibuat sakit karenanya. Jadi untuk sesaat lupakanlah ingatan tentang dia yang menyakitimu. Agar kamu bisa sembuh dan pulih. Lupakan, ya?"


"Tapi... tadi April hanya mencari ibunya."


"Untuk membuatnya membujuk Janu agar mau kembali denganmu?" Ibu..... kenapa bisa tahu? Ibu cenayang atau apa?


Kepalaku hanya mengangguk. Lalu aku kembali kekamar.


***


Sekarang aku sedang duduk ditaman. Menunggu seseorang yang sudah kuajak bertemu. Katanya beberapa menit lagi dia datang.


Dari jauh kulihat seorang perempuan datang menghampiriku. Ia berjalan perlahan lalu menyapaku.


"April." Sapanya sambil duduk disebelahku.


"Halo feb." Sapaku kembali pada feby.


"Ada apa kamu mengajak ketemu?"


"Aku mau mengobrol serius denganmu."

__ADS_1


"Mengobrol apa?"


"Aku putus dengan Janu!"


"Hah? Serius?" Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Dan aku mau tanya. Tapi maaf sebelumnya."


"Heem. Mau tanya apa?"


"Mmmmm bagaimana ya?"


"Ceritakan saja."


"Mmmmm. Aku bukannya curiga atau apa ya. Ini hanya bertanya saja. Kira kira........ kamu bukan yang mengirim foto ini pada janu?" Aku bertanya dengan terbata sambil menunjukkan foto yang membuat aku dan janu berpisah.


"Hmmm?" Dia menatap heran pada foto itu.


"Bukan... bukan aku. Lagipula, aku tidak pernah berhubungan lagi dengan Janu."


"Serius bukan kamu? Bukan karena kamu cemburu dan ingin melihatku berpisah dengan janu? Jadi kamu mengirimkan foto ini?"


"Serius. Bukan aku. Aku berani sumpah. Jika tidak percaya, kamu bisa lihat HP ku." Dia mulai mengeluarkan HPnya.


"Semoga kamu dan janu bisa kembali baik baik saja." Ia memegang tanganku sebelum pergi dan aku mengangguk.


Ketika beranjak pergi dari taman dan sedang berjalan di trotoar, sebuah motor berhenti disampingku dan membunyikan kalksonnya dua kali. Aku menengok kearah kanan tempat motor itu berhenti. Dia Okta. Ah iya, astaga. Aku tidak ingat dengannya. Mungkin saja dia yang mengirim foto itu pada Janu. Dia kan bilang kalau dia sangat menyayangiku dan akan menungguku sampai aku mau. Bukanya geer atau apa ya? Tapi dengan semua hal yang terjadi, siapa lagi yang mungkin melakukan semua ini?


"Mau kemana?" Tanyanya sambil membuka helm.


"Pulang."


"Ayo naik!"


"Tidak."


"Kamu kenapa?" Dia mendekatkan wajahnya.


"Karenamu."


"Aku? Apa maksudnya?" Dia turun dari motornya karena penasaran atas apa yang kukatakan.

__ADS_1


"Tunggu sebentar." Aku mengeluarkan HP ku dan mencoba mencari gambar itu. "Kamu kan yang mengirim foto ini pada janu? Karena foto ini. Aku harus berpisah dengan dia!!!"


"Eh. Maksudnnya berpisah itu, kamu dan janu...."


"Iya. Aku putus dengannya. Dan itu semua karena foto ini!"


"Foto? Siapa yang mengambil foto ini?"


"Jangan berpura pura. Aku tahu pasti kamu menyuruh seseorang untuk mengambil dan mengirimkan foto ini pada Janu! Aku tahu kamu cemburu. Aku tahu jika kamu berharap lebih padaku. Tapi bukan begini caranya! Yang kamu lakukan itu sangat mengecewakan!!!" Aku membentaknya saat itu juga.


"Tapi serius. Aku tidak tahu apa apa." Dia mencoba membela diri.


"Tidak usah bohong!!! Aku yakin itu pasti kamu!! Dengar baik baik. Jangan pernah menghubungiku lagi!! Jangan pernah menemuiku lagi!! Jangan pernah berani kerumahku lagi!! Kecuali jika kamu berniat memperbaiki semuanya!!!" Aku mendorong dadanya. Mataku mulai berair. Aku tak mampu menahan tangis lagi. Aku berlalu pergi usai ucapan itu keluar.


"Tunggu..." ia memegang tanganku. "Tolong. Jangan bersikap seperti ini." Pintanya.


"Kamu yang membuatku harus bersikap seperti ini!!" Aku melepas genggaman tangannya dan pergi sambil menghapus air mata yang keluar membasahi pipiku.


"Tapi aku benar benar tidak tahu apa apa April!!" Ia berteriak dengan kencang. Lalu kudengar suara bantingan keras. Mungkin helm nya yang ia banting.


Aku tidak percaya dengan yang kulakukan tadi. Aku menuduhnya tanpa bukti. Tapi aku yakin, karena semua tandanya benar benar mengarah padanya. Tidak ada lagi seseorang yang akan melakukan itu kecuali dia.


***


Sendiri. Untuk sekarang, sendiri adalah pilihan paling baik. Tak ada yang mengganggu. Tak ada seseorang yang katanya menyayangi tapi pada akhirnya ia pergi. Tak ada seseorang yang merayu dengan ribuan janji tapi tak pernah ditepati. Cukup dengan semua itu. Aku lelah. Aku sudah dikecewakan berulang kali, tapi baru kali ini aku begitu tidak rela melepas seseorang yang kusayangi itu pergi. Sangat tidak rela. Rasanya begitu sakit dan menusuk. Perasaanku hancur berantakan dan entah kemana semua kepingannya sekarang. Aku malas mengumpulkan dan menyusunnya kembali agar perasaan itu pulih lagi.


Sekarang aku bukan lagi seseorang yang hatinya untuh. Aku sudah memberikan separuh hatiku itu pada seseorang yang kupercaya akan menjaganya. Tapi tidak, dia membuangnya begitu saja hingga hati itu tergilas ribuan rasa sakit.


***


Aku mambantingkan tubuhku keatas kasur. Tangis itu tidak juga hilang. Air mata itu tidak juga habis. Hingga tanpa sadar, aku terlelap. Mengistirahatkan semua sesak yang tak berhenti menyeruak. Ditinggalkan, dikecewakan, dibuat patah, rasanya menyakitkan. Lebih baik aku tidak usah bertemu dengan dia yang membuatku merasakan semua itu. Kubuang ingatan tentang mereka jauh jauh. Sangat jauh hingga ingatan itu tak bisa kembali pulang.


***


Aku terbangun menjelang sore karena ibu membangunkanku.


"Makan dulu. Kamu belum makan."


"Eh ibu. Simpan saja diatas meja. Aku masih terlalu lelah untuk mengunyah." Ibu menyimpan makanan yang ia bawa. Ia buka kedua lengannya dan memelukku erat dalam dekapannya.


"Hmmmm. Ditinggalkan itu memang menyakitkan. Tapi jangan terlalu terpuruk. Itu tidak baik. Tidak apa apa kamu ditinggalkan. Mungkin ini semua cara tuhan untuk memberitahu bahwa kamu berhak mendapat yang lebih baik."

__ADS_1


"Tapi dia itu seseorang yang terbaik menurutku, bu..."


"Jika dia memang yang terbaik, dia tidak akan pergi meninggalkanmu." Ucapan ibu itu cukup membuatku bungkam. Dia benar. Jika dia memang yang terbaik, dia tidak akan memberiku luka dan pergi dari hidupku begitu saja.


__ADS_2