Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab 1 #4


__ADS_3

Aku \= April.


Dihari ulang tahunku, aku sangat merasa bersalah. Kenapa aku harus memeluk Okta? Kenapa janu harus ada disana? Kenapa harus ada paham yang salah? Kenapa ia tak mau mendengar penjelasanku? Puluhan tanya terus bermunculan. Janu tak juga mengangkat teleponku. Ini semua salahku.


Didalam taksi, aku terus mencoba menghubungi janu, mengiriminya pesan terus menerus. Hingga ratusan pesan. Meneleponnya hingga akhirnya HP ku lowbat. Sekarang aku takut, aku takut pahamnya yang salah tidak bisa dibenarkan. Bagaimana jika ia memutuskan ikatan tanpa mendengar sebuah penjelasan? Janu.... tolong dengarkan aku terlebih dahulu. Aku tidak mau begini.... maafkan aku...


***


Usai membayar uang taksi aku turun. Pandanganku tertuju pada sebuah rumah yang berada didepan rumahku. Menatap keatas, tepat kearah kamarnya.


Janu... bisa tidak aku memelukmu lalu berbicara denganmu. Melepas rindu yang selama ini menggebu. Membiarkannya luruh dengan sebuah temu yang kutunggu sejak setahun lalu. Tapi sekarang kamu sedang marah. Sedang tidak mau bicara. Mungkin besok kamu mau. Tak perlu mengobrol, cukup mendengar penjelasanku saja.


***


Mataku terpejam sampai pukul sepuluh pagi. Lalu aku kedapur untuk mencari makanan karena lapar.


"Eh, ibu. Sejak kapan pulang?"


"Tadi, jam sembilan."


"Mmmm. Wanginya enak banget. Ibu masak apa?"


"Masak ayam goreng."


"Wah.... ayo kita makan. Cepat bu."


"Iya. Sebentar."


"Ayah belum pulang?"


Selamat, ulang tahun.


Ayah ucapkan....


Sebuah nyanyian terdengar mendekat. Ayah menghampiriku sambil meembawa kue cokelat. Senyumanku melebar. Ibu lalu ikut bernyanyi. Bahagia. Bahagia sekali.


"Ayo dong. Tiup lilinnya." Ucap ayah memintaku meniup lilin.


Huuuuh..... aku meniup lilin sambil berharap agar kebahagiaan selalu datang padaku, keluargaku dan semua orang orang yang aku cintai.


Usai memakan kue, kami duduk dimeja makan. Memakan makanan yang tadi dimasak ibu. Katanya untuk hari ini khusus ibu memasak ayam goreng kesukaanku.


"Janu katanya pulang ya?" Tanya ibu yang hanya kujawab dengan anggukan kepala.


"Kenapa? Sedang musuhan sama dia?" Tanya ayah menyindir.


"Tidak."


"Kamu itu masih sama seperti waktu kecil. Suka musuhan sama janu, apalagi kalau dia tidak mengajakmu main. Hahaha."


"Ayah~"


"Ingat tidak bu. Waktu itu dia pernah ikut janu naik pohon mangga. Tapi dia menangis karena tidak bisa turun. Lalu dia tidak mau lagi main. Hahaha." ibu dan ayah terus tertawa terbahak bahak.


"Hmmmm. Ketawa aja terus....."

__ADS_1


***


Hari ini tidak ada kegiatan apapun. Dan ada yang berbeda. Hari ini Okta tidak datang kerumah. Aku duduk dikursi teras rumah. Menatap kosong kearah rumah didepanku. Berharap seseorang yang aku cintai mau memaafkanku. Semoga dia masih mau memelukku erat dalam dekapannya. Janu... ini hari ulang tahunku. Kapan kamu memberiku hadiah terindah; sebuah pertemuan yang menyenangkan.


"Kenapa?" Ayah mengagetkanku lalu duduk disebelahku sambil meminum segelas kopi.


"Tidak apa apa."


"Bohong terus."


"Tidak."


"Bohong."


"Iya. Bohong."


"Hahaha. Dasar ya... itu si Okta tumben tidak kesini? Biasanya tiap hari menjemput. Untuk kuliah, main, jalan jalan. Kemana dia?"


"Tidak tahu." Ayah mengangguk. "Yah..."


"Hmmm?"


"Kalau misalnya kita cemburu itu tandanya apa?"


"Tandanya tulus."


"Tulus?"


"Iya. Itu tandanya tulus. Tandanya kita benar benar mencintai dia. Tandanya kita benar benar ingin menjadikan dia sebagai milik kita seutuhnya. Cemburu itu baik, tapi kadang berakhir tidak baik juga."


"Nah itu. Itu contoh cemburu yang berakhir tidak baik. Kalau kamu adalah seseorang yang merasa cemburu, lalu pergi begitu saja. Kamu tinggal tunggu."


"Tunggu."


"Iya tunggu. Mungkin sehari setelahnya kamu mau menemui dia lagi."


Lalu bel rumah berbunyi. Seseorang yang sangat ingin kutemui itu ada disana. Aku menatap ayah. Kepalanya terangkat, seakan mengatakan "ayo, temui dia." Tanpa basa basi, aku segera menemui Janu. Membuka gerbang dan lekas memeluknya.


"Ayo. Kita pergi!"


"Kemana?"


"Kemana saja kamu mau!"


"Tapi aku belum mandi."


"Tidak usah. Nanti cantik!"


"Yasudah. Aku siap siap dulu."


***


"Semalam kamu cemburu?" Rasa penasaranku muncul saat diatas motor yang sedang berjalan.


"Iya. Sedikit."

__ADS_1


"Sekarang sudah tidak marah?"


"Sejak kapan aku marah?"


"Semalam."


"Cemburu itu bukan marah."


"Lalu?"


"Iri. Aku iri melihat dia dipeluk tapi aku tidak." Aku lekas memeluknya erat. Membuatnya memberikan senyum yang aku rindukan. "Maaf ya. Semalam aku pergi tanpa mendengar penjelasan darimu terlebih dahulu."


"Memangnya sekarang sudah mendengar penjelasan?"


"Sudah. Dari Okta. Dia meneleponku. Dia bilang kamu memeluknya karena senang akan diajak ke raja ampat sebagai hadiah ulang tahun."


"Kapan kita keraja ampat?"


"Lho. Bukannya Okta sudah mengajakmu?"


"Kan yang aku tanya kita. Kapan kita kesana?"


"Tidak tahu. Mungkin tahun depan."


"Sekarang tidak bisa?"


"Tidak. Hari minggu depan aku harus pergi lagi." Usai ia mengatakan itu aku diam. Tak ingin bicara lagi.


Kami berdua berhenti ditempat paling kami sukai. Tempat makan ayam goreng. Kami duduk ditempat duduk yang biasa kami duduki dan memesan apa yang biasa kami pesan. Aku tak berhenti tersenyum. Ini rasanya membahagiakan. Ya apalagi? Apalagi yang lebih membahagiakan dari jutaan kerinduan yang menghilang secara tiba tiba akibat pertemuan yang tak terduga.


"Dimakan. Bukan senyum terus."


"Hehe. Aku senang bisa mengulang semua kenang."


"Aku senang bisa melihat wajah cantikmu tanpa halangan layar."


"Hmmmm." Tersenyum lagi.


"Maaf ya. Aku tidak bisa memberimu hadiah apapun."


"Waktu denganmu adalah hadiah yang paling aku inginkan saat ini."


Setelah makan, dia mengajakku pergi lagi. Kami berdua menaiki motornya. Menyusuri jalanan yang sering kami lewati dulu. Tapi langit menangis. Airnya turun begitu deras. Janu memberhentikan motornya.


"Kenapa berhenti?" Tanyaku heran sambil turun dari motornya.


"Kenapa?"


"Iya. Kenapa?" Dia lalu membungkukkan badannya. Mengangkatku diatas punggungnya. Lalu bermain main dibawah rintik hujan yang ternyata sedang menangis bahagia mengiringi kami berdua.


Dibawah gemericik hujan itu, dia menurunkanku dari punggungnya. Ia tatap mataku dalam dalam. Membuatku tenggelam dalam tatapannya. Lalu ia pegang pipiku dengan lembut. Wajahnya perlahan mendekat. Aku memejamkan mataku. Secara perlahan, ia berikan ciuman hangat dibawah derasnya hujan yang dingin itu. Ciuman penawar atas semua rasa sedih ku karena rasa rindu.


*Untuk hari ini, hari ulang tahunku. Bersamanya adalah hadiah terindah. Kau tahu tidak? Ketika dua insan yang sejak lama menahan kerinduan dipertemukan, menghabiskan waktu bersama adalah hal yang paling membahagiakan. Kita lepas dulu rindu yang begitu membebani itu, kita beristirahat, duduk berdua sambil memakan makanan kesukaan kita. Kita berjalan jalan hingga waktu habis secara perlahan. Atau kita bersenang senang dibawah rintik hujan. Menari nari tanpa musik yang mengiringi, tapi begitu berirama. Melompat lompat tak begitu tinggi, tapi serasa terbang jauh dari bumi. Setelah itu kau memelukku dan memberikan sebuah ciuman penawar rindu. Kita biarkan rintik hujan menghapus rindu rindu yang sejak dulu menyiksa itu dan kita dekatkan jarak yang sejak dulu membuat sesak. Tak perlu lama lama. Cukup sejenak, tapi bermakna. Asal denganmu, satu detikpun terasa begitu lama.


- April. Dihari ulang tahunnya bersama Janu yang akhirnya pulang untuknya.*

__ADS_1


__ADS_2