
Aku \= April
Hari hari itu cepat berlalu. Sekarang sudah hari minggu. Hari dimana ia akan pergi dan membuatku menunggu lagi. Seperti kataku dihari hari yang lalu. Aku ingin waktu berhenti untuk waktu yang lama agar aku dan dia bisa terus bersama sama. Dan seperti katanya. Jangan bersama terus, sesekali kita perlu memisahkan diri. Iya aku tahu itu. Aku hanya tidak siap.
Hal paling tidak disukai usai mendekat adalah menjauh, dan itu yang aku rasakan sekarang. Meski dia bilang hatinya selalu untuku, tapi aku juga butuh raganya. Butuh bahu untuk bersandar ketika aku lelah. Butuh peluk untuk melepas semua gundah. Butuh genggaman untuk membuatku merasa aman. Aku butuh semua itu. Sebuah suara dan sebuah visual yang tak bisa kuraba tidak dapat memenuhi kebutuhanku. Hanya menambah nambah rindu yang sudah sering dipaksa tabah.
***
Sekarang kami berdua tepat berada ditempat perpisahan yang sangat tidak menyenangkan itu. Dia berikan pelukan perpisahan itu. Ia pegang kedua pipiku. Mengucapkan beberapa hal.
"Jangan memikirkanku. Pikirkan saja dirimu. Jangan makan makanan cepat saji terus, masakamu lebih enak." Ia berkata sambil mengusap rambut rambutku.
"Aku mau memikirkanmu terus."
"Dasar ya. Tidak mendengar." Ucapnya lembut. Aku tersenyum.
"Sudah saatnya kamu pergi..." ucapku beberapa saat kemudian.
"Iya. Tunggu sebentar. Aku mau manatap matamu dan menyentuh pipimu lebih lama lagi." Aku melipat kedua tanganku sambil tersenyum. "Ah. Jangan tersenyum juga. Aku malah mau menatapmu lebih lebih lama lagi." Dia lalu memelukku dan mengucapkan selamat tinggal karena sudah ada yang memanggilnya untuk segera naik pesawat.
Lalu pelukan itu dilepaskan. Aku menyentuh dan merapikan rambutnya yang agak bergelombang itu. Lalu ia mulai berjalan pergi. Perpisahan itu terulang lagi. Rindu itu kutanam lagi. Rasanya masih sama; menyakitkan hati.
***
Pulang. Tempat yang kuanggap sebagai tempat terbaik untuk pulang, sekarang sudah pergi meninggalkanku lagi. Sekarang aku tak ingin waktu berhenti. Aku ingin waktu berlalu lebih cepat seribu kali. Biar rindu itu tak terlalu banyak menyayat hati. Biar raga itu tak terlalu sulit untuk kudekap setiap hari.
***
Seorang pria yang sudah tak asing lagi datang kerumahku. Kusuruh ia masuk. Kami berdua duduk didepan teras rumah. Dia mambawa dua bungkus makanan.
"Ini ayam goreng, utukmu. Ini cheese burger, untukku. Tapi aku tidak beli eskrim. Susah bawanya. Terus nanti cair." Ucapnya sambil mengeluarkan satu persatu makanan itu diatas meja.
"Mmmm. Aku mau cheese burger."
"Hmmmm? Tidak mau ayam goreng? Bukannya itu kesukaanmu?"
"Tidak. Cheese burger!!"
"Iya. Ini..." dia memberikan cheese burgernya padaku. Aku membawakan minum terlebih dahulu sebelum makan.
"Hari ini tidak mau mengajakku main?" Aku bertanya dengan mulut yang mengunyah.
"Mau."
"Kemana?"
"Rahasia."
"Ishhhh."
__ADS_1
Sesudah makan dia berdiri dari tempat duduknya dan menarik tanganku. Katanya mau mengajakku pergi.
"Aku belum siap siap."
"Sudah cantik. Ayo cepat pergi!"
Diperjalanan aku tidak berhenti mengoceh dan bertanya.
"Kita sebenarnya mau kemana, sih?"
"Ke tempat belanja!"
"Buat apa?"
"Buat belanja."
"Semua orang juga tahu itu. Maksudku, ketempat belanja itu mau belanja apa?"
"Oh. Tidak tahu. Beli apa saja. Sekarang aku sedang mau menghabiskan waktu denganmu."
"Ck. Besok juga kita menghabiskan waktu bersama."
"Kan aku maunya sekarang."
"Baik. Baik pengawal setia...."
***
"Aku mau simpan foto ini di dinding biar cicak cicak yang mendekat langsung pergi karena melihat wajahmu."
"Enak saja. Aku juga mau simpan satu! Mau kupajang didepan gerbang! Untuk menakuti orang yang sering datang kerumahku! Yang katanya mau menjagaku!"
Dia lalu mengajakku berjalan lagi. Karena haus, aku ingin membeli boba. Dia pun menurutinya. Karena boba ada dilantai dua, aku mengajaknya menaiki eskalator. Iya eskalator. Tapi secara terbalik. Hahaha. Kami berlari keatas dengan eskalator yang berjalan kebawah. Sebelum mulai, kami memastikan terlebih dahulu bahwa eskalator tidak sedang ramai. Setela cukup sepi. Aku mulai menghitung dan kami berlari dengan kencang keatas. Rasanya ini menyenangkan. Hahaha. Dia tidak berhenti tertawa.
"Kamu aneh!!"
"Hahaha. Kalau dengan janu, hal itu tidak mengherankan."
"Ssssst..... ah....." aku sangat merasa lega meminum boba yang dipenuhi es itu setelah lelah berlari. Usai minum, ia mengajaku berjalan lagi, berhenti ditempat dengan banyak kamera yang rupa rupa. Dia memilih satu kamera polaroid berwarna putih dan membelinya.
"Kenapa beli itu?" Tanyaku penasaran.
"Buat ambil foto!" Ucapnya singkat. Hhh aku sangat kesal dengan jawabannya.
Tak cukup sampai disitu, ia menarikuu ketoko kacamata, memilah dan memilih beberapa kacamata. Dari kacamata hitam hingga kacamata bolong semuanya kami coba. Hingga ia memilihkan satu kacamata untukku; kacamata dengan hidung dan kumis yang hitam. Jepret.... dia mengambil fotoku secara tiba tiba.
"Okta~." Aku berniat mencubitnya tapi ia segera berlari sambil mengibas ngibas hasil fotoku tadi. Dia lalu berhenti. Melihat fotoku sejenak.
"Ih bagus kok fotonya. Lihat!" Ucapnya sambil menunjukan fotoku yang sangat tidak berupa itu. Setelah itu mengeluarkan pulpen ditas kecilnya. Menulis dikamera polaroid itu. "A monster." Dan memberi tanggal hari ini. Aku hanya menggelengkan kepala melihat kelakuannya itu.
__ADS_1
"Ambil ini!" Katanya.
Aku mengernyitkan dahi; menatap heran padanya.
"Untuk apa?"
"Ini adalah foto yang diambil dihari pertama ditahun keduaku, dimana aku akan menjagamu. Jaga fotonya! Kenang kenangan. Hari pertama ini ingin kuhabiskan denganmu. Aku ingin membuatmu bahagia usai kesedihan yang baru kau sapa."
"Dan kamu berhasil. Hari ini aku bahagia. Terima kasih. Pinjam!" Aku segera mengambil kamera polaroid yang sedang ia pegang dan langsung mengambil fotonya. Setelah fotonya keluar, aku mengibas ngibasnya. Dan fotonya yang sedang menatap dengan tatapan kaget karena kameranya diambil itu membuatku tertawa. Tawa kencang kami berdua begitu melegakan, membahagiakan. Rasa sedihku karena ditinggalkan langsung hilang tanpa diminta.
Kami tak langsung pulang, dia mengajakku ketempat peralatan rumah tangga. Astaga dia ini mau apa sih sebenarnya? Dia berjalan ketempat peralatan dapur. Treng..... dia memukul panci keras sekali dan mengagetkanku. Dia tertawa tawa sementara aku ketakutan didatangi penjaga.
"Okta~." Ucapku berbisik karena takut.
"Tenang saja. Mereka semua takkan marah. Apalagi ada kamu disini!"
"Kenapa?"
"Kamu menyeramkan. Hahaha." Cubitan keras dari jariku mendarat diperutnya.
Karena tak mau kalah, aku berjalan menuju tempat sofa. Aku langsung duduk disana.
"Mang ujang, tolong ya. Itu rumput ditaman udah pada panjang. Cepat dipotong!!"
"Baik mba april, saya laksanakan! Potong rumputnya mau gaya apa?"
"Bop aja mang! Bffffftttt!" Aku sangat menahan tawa tapi tak berhasil. Aku tertawa kencang.
"Potong rumput gaya bop! Hahahaha."
"Hehe. Nanti aku mau potong kuku gaya mohawk!" Tawaku makin pecah. Receh sekali ya Tuhan.......
*****
Hari pertama Ditinggal pergi oleh penjaga hati, aku ditemani pengawal setia.
Dengan sikap konyolnya dia membuatku terus tertawa.
Dia membeli kamera, memotretku yang sedang memunculkan wajah yang tak berupa.
Saat haus kami berdua minum boba penghilang dahaga.
Ditoko peralatan rumah tangga, dia memukul keras sebuah wajan dengan spatula
Dan lagi lagi, hal itu memunculkan tawa.
Yang tak akan membuat kulupa; ucapannya dari mulutnya yang dengan tegas mengatakan ingin membuatku bahagia.
Dan dia berhasil. Hari ini aku bahagia.
__ADS_1