Ruang Tunggu

Ruang Tunggu
Bab 4 #2


__ADS_3

Aku \= April


Esoknya benar saja. Okta menelepon ku lagi. Masih dengan pertanyaan yang sama.


"Kapan kita bisa makan berdua?" Rasanya mau marah. Tapi buat apa? Dia juga akan terus menghubungiku sampai ajakannya diterima. Aku yakin itu.


"Iya. Nanti siang. Tapi cuma sekali ini saja."


"Serius?"


"Iya...." aku lalu menutupnya. Janu, maaf. Kali ini aku makan dengan pria lain. Tapi aku akan menurutimu.


***


Huh... kenapa waktu berlalu dengan cepat. Sekarang sudah siang saja. Aku sangat malas pergi dengan Okta. Tapi sekali ini saja. Agar dia berhenti meneleponku. Aku meneleponnya, menanyakan dimana kita akan makan.


"Halo. Makan dimana?"


"Aku jemput sekarang."


"Memangnya tahu alamat rumahku?"


"Maaf ya. Kemarin saat pulang naik ojek. Aku mengikutimu." Dasar! Penguntit. Beberapa saat kemudian suara klakson motor berbunyi.


Aku melihat keluar melalui jendela. Sudah sampai juga dia. Cepat sekali.


"April.... itu diluar ada siapa? Temanmu ya?" Ibu berteriak.


"Iya bu..." Aku segera keluar menemuinya. Ingin cepat sampai, makan lalu pulang. Sudah. Tidak mau berurusan dengan dia lagi.


"Pakai dulu helmnya!" Ucapnya sambil mencoba memakaikan helm padaku.


"Aku bisa sendiri!" Sesudah memakai helm aku lekas naik dan menyuruhnya cepat cepat pergi.


Dan dia pergi ke tempat makan yang sering aku kunjungi dengan janu. Kenapa harus kesana? Ya tuha.....n dia malah membuatku teringat janu. Aku turun dari motornya itu, masuk kedalam lalu duduk ditempat paling dekat dengan pintu, biar kalau mau pulang tidak perlu lama lama.


"Saya mau pesan ayam aja ya mba.."


"Sama!" Dia mengacungkan tangan. Aku menahan rasa kesalku kali ini.


Saat sedang tenang tenangnya makan, dia sibuk bertanya.


"Sekarang sedang sibuk apa?"


"Makan denganmu!"


"Hahaha. Bukan begitu. Maksudnya bekerja atau apa?"


"Kuliah. Jadi penyiar juga. Sudah?"

__ADS_1


"Terima kasih ya. Sudah mau menerima ajakanku." Dia tersenyum lebar.


"Oh iya. Aku disuruh pacarku untuk menerimanya. Kata dia bilang saja, dia setuju jika aku makan denganmu." Lalu dia diam. Bagus. Biar dia tidak mengejarku terus.


"Pacarnya ada?"


"Ada."


Lalu dia hanya mengangguk angguk. Wajahnya berubah jadi agak muram. Setelah makan selesai, aku memesan satu eskrim strawberi.


"Sama!" Dia masih mengikutiku. Aku duduk lagi ditempat tadi. Dan dia, masih menannyakan ini itu.


"Bagaimana kalau pacarmu tahu? dia tidak mengikutimu untuk mengawasi?"


"Jauh. Dia sedang jauh. Tapi dia menjagaku." Aku menjelaskan sambil terus menjilati eskrim.


***


"Sudah. Ayo pulang!" Ucapku sambil terus memainkan HP.


"Nonton?" Ya tuhan. Dia tidak ada habisnya. Sudah kuberitahu kalau aku punya pacar. Masih saja mengajaku kesana kemari.


"Tidak. Sudah ya. Cepat pulang. Kalau tidak mau mengantar, aku pesan ojek saja!"


"Oke. Oke. Pulang."


Ditengah tengah perjalanan menuju rumah, pria yang tadi makan bersamaku mengikuti dari belakang. Hhhhh. Aku sangat gemas dengan sikapnya itu. Aku terus menengok kebelakang dan mengibas ngibaskan tanganku agar ia pergi, tapi dia tetap mengikutiku sampai rumah. Sangat tidak menyenangkan sekali. Masih mending jika dia hanya mengikuti hanya untuk memastikaku pulang. Jika ternyata dia berniat jahat bagaimana? Apalagi dulu kan dia sempat aku tolak. Bisa saja kan dia berniat jahat.


"Kenapa masih mengikutiku?"


"Aku mau menjagamu."


Aku segera masuk, tidak mau memedulikannya. Tapi dia menarik tanganku.


"Kenapa sih?" Nada suaraku agak meninggi.


"Terima kasih."


"Iya. Sama sama. Sudah ya." Aku bergegas masuk dan menutup pintu gerbang. Aku segera masuk kekamar, lalu mencoba menelepon janu. Tapi dia tidak bisa dihubungi. Sudah beberapa kali aku menghubunginya tapi tetap tidak bisa. Mungkin dia sedang sibuk.


***


Pukul tujuh malam akhirnya dia meneleponku. Akhirnya, aku sudah tidak sabar ingin menceritakan semuanya pada janu.


"Hai.." sapanya.


"Hai. Janu aku mau cerita."


"Cerita apa?"

__ADS_1


"Aku tadi sudah menerima ajakan Okta untuk makan."


"Terus?"


"Iya. Terus dia malah mengikutiku sampai kerumah."


"Kenapa katanya?"


"Dia bilang mau menjagaku. Aku sebal!"


"Kenapa sebal? Tidak apa apa. Dia menjagamu untukku karena aku tidak bisa."


"Ih kok begitu?"


"Iya. Tidak apa apa kamu makan atau pergi dengan siapapun. Asalkan orang itu tidak membuatku pergi dari hidupmu. Asalkan aku yang hanya kamu anggap sebagai seseorang yang spesial dan paling berharga." Senyumku mengembang. Dia tidak seperti pria lain yang pernah dekat denganku. Dia tidak melarangku dekat dengan siapapun asalkan aku masih menjaga hatinya.


"Terus sekarang aku harus apa?"


"Kamu berteman saja dengan dia. Tidak ada salahnya kan berteman? Malah lebih bagus jika dia bisa menjagamu selagi aku tidak ada. Tapi tolong ya... hanya sebagai teman saja."


"Cemburu?"


"Bukan cemburu. Dia itu memang bukan orang yang pantas untukmu. Jadi aku tidak mengizinkanmu dekat dengannya lebih dari teman."


"Memangnya siapa yang pantas untukku? Hehe." Tanyaku sambil tertawa kecil.


"Yang sedang kau tanyai barusan."


Andai aku tidak sedang menelepon, aku ingin sekali berteriak senang. Berteriak atas apapun setiap kalimat yang ia ucapkan. Mungkin itu kalimat biasa bagi orang lain, tapi menurutku ada kejujuran dari setiap rayu yang keluar dari mulutnya. Setelah sekian lama obrolan itu berjalan, aku memutuskan untuk tidur.


"Janu, aku mau tidur. Sudah mengantuk."


"Jangan mimpi bertemu denganku ya..."


"Kenapa?"


"Nanti aku cemburu dengan januar yang ada dimimpimu karena dia bisa bertemu denganmu."


"Oke. Sudah. Selamat malam. Salam rindu."


"Aku benci."


"Kok benci?"


"Iya. Benci pada sang rindu karena dia harus ada."


***


Entah sudah berapa banyak senyuman yang muncul dari bibirku karenanya. Janu.... aku rindu. Seberapa banyak pun ucapanmu yang membuatku bahagia, hal itu tidak dapat menghilangkan rasa rinduku. Aku ingin kita bertemu. Duduk berdua lagi. Aku ingin bersandar dibahumu sejenak saja, lalu ku ceritakan apapun yang ingin kuceritakan. Setelah itu kau balas ceritaku. Aku ingin kau mengusap kepalaku atau menggendongku meski hanya beberapa meter saja. Sekarang aku sedang butuh itu. Aku ingin melakukan apapun, meski itu hanya minum air putih saja, asalkan berdua denganmu. Kukira hubungan yang berjarak itu selalu mudah. Secanggih apapun teknologi, hal itu takkan dapat membuat sebuah pelukan hangat, takkan dapat membuat sebuah genggaman tangan yang begitu erat dan mengikat.

__ADS_1


__ADS_2