
Terlihat lesmana menunduk seakan mencoba untuk mengingat sesuatu, matanya terlihat membasah karena air mata, dengan kedua tangan di kepala seakan menahan sakit yang teramat sangat. "Pak, bisa minta tolong buka pasungannya?" pinta ujang pada si bapak "tapi" kata bapak terlihat ragu. "gak papa pak, kami yang akan tanggung jawab kalo ada apa-apa" kataku meyaqinkan beliau, kemudian beliau mengeluarkan anak kunci dari saku celananya 'ceklek' terdengar suara gembok yang terbuka "Alhamdulillah" ucap syukur kami bersama, kemudian aku merengkuh bahunya berusaha untuk membantunya berdiri. Kami bersama menuju ruang tamu untuk menghirup udara yang lebih segar.
Di ruang tamu ternyata sudah tersedia beberapa cemilan dan minuman segar, dan terlihat oleh kami berlima shanti pun telah 'hadir' di sana, kami pun duduk dan menikmati beberapa makanan yang tersedia, sementara si bapak berusaha menyuapkan makanan pada lesmana sambil masih menangis haru. "makasih" ucap lesmana lemah, "selama ini aku takut untuk menceritakan semuanya, tapi hari ini aku coba cerita semua sama kalian termasuk sandra agar semua bisa selesai" lanjutnya lagi. Kami pun hanya diam dan mendengarkan dengan seksama soal 'Janji' mereka berdua, termasuk sosok shanti yang dari tadi memandang kekasihnya dengan tatapan iba.
LESMANA POV
__ADS_1
Hari itu, kami berdua menuju kantin kampus, setelah mengambil undangan di percetakan, seperti biasanya layaknya dua sejoli yang sedang kasmaran, masih dengan seragam kerjaku yang merupakan bagian TU di kampus tersebut, kami pun memesan makanan yang merupakan kesukaannya, tiba-tiba ku lihat dia menerima telepon dari seseorang di seberang sana sebelum aku meninggalkannya ke kamar kecil
"siapa dek?" tanyaku padanya, "biasa a teman lama" jawabnya singkat, "kok mukanya sedih gitu?" tanyaku penuh selidik "yaqin?" tanyaku lagi, "iya a udah lah jangan bikin bt" sahutnya sambil berlalu pergi meninggalkanku.
...****************...
__ADS_1
"Setelah itu aku gak bisa menghubungi nomernya dan bertemu dia lagi sampai akhirnya aku dapat kabar itu" lanjut lesmana sambil menatap ke arah langit-langit rumah dengan tatapan kosong. "Tapi maaf bang saat jenazahnya di temukan apa abang juga di kabari sama pihak berwajib" tanyaku menyelidiki, hanya di jawab dengan gelengan kepala, "lalu apakah ada janji yang belum sempat tertunaikan dengan beliau?" tanyaku lagi lebih mendalam, "janji?" tanya lesmana menatap kami sekilas, yang hanya ku jawab dengan anggukan, "ya kami dulu sempat mengucap janji untuk saling menjaga sehidup semati sebelum dia menghilang" jelasnya pada kami semua yang ada di ruangan itu. "maaf bang, wir kalo sedikit menyela" ucap andi tiba-tiba, "hmm" jawabku. "Gimana kalo kita temuin mereka berdua, agar *janji* itu segera tertunaikan dan abang lesmana bisa dengan tenang melanjutkan semua dengan damai" jelas andi panjang lebar. "ketemu?, ta...tapi gimana caranya?" tanya lesmana terlihat bingung. "Kami akan bantu abang, kebetulan shanti juga ada di sini" jawabku langsung padanya, "baiklah bila itu bisa menyelesaikan semuanya" jawabnya tegas, "gue ikutan, gue juga pengen ketemu ama shanti" ucap sandra.
Kemudian Sandra mengambil posisi duduk di samping lesmana, "sekarang kalian tutup mata, jangan dibuka sebelum ku minta" pintaku pada mereka berdua, kemudian ku baca do'a untuk membuka mata batin mereka berdua sambil meniup pucuk kepala mereka berdua, "sekarang buka mata kalian" pintaku pada mereka berdua.
Mohon saran & kritiknya ya para reader jangan lupa tinggalin jempol manisnya buat penyemangat author dalam berkarya lebih baik lagi.
__ADS_1