
'Braaakk, Praaaank' membuat kami terkejut dan mengalihkan perhatian kami semua, sebuah foto milik almarhumah terjatuh dari dinding aku segera mendekati dan mengambil foto itu.
Heni Widyasari tertulis di pojok kanan bawah, segera ku bolak balik bingkai pigora foto tersebut mencari kejanggalan yang terjadi.
"Ono opo Wir? tanya Reno yang berdiri di samping kiriku.
"Mboh, ra ngerti" jawabku sambil mengangkat bahu menandakan ketidak tahuanku.
Aku menyerahkan foto itu pada Reno untuk di periksa lebih detail, aku berjalan menuju Ratna dan yang lain.
"Mas, coba liat deh" pinta Ratna padaku, sementara Winda beralih ke arah Reno.
Aku membaca surat tersebut
Buat Bapak/Ibu yang Heni sayang.
Maafin Heni yang tidak bisa menjaga amanah dari bapak ibu, heni sudah berbuat dosa, heni udah malu pulang kampung heni udah gak bisa jaga diri.
Maafin heni.
"Gimana mas?" tanya Ratna padaku, aku hanya mengangkat bahuku tanda ketidaktahuanku.
"Aa apaan ini?" tanya Sandra pada Ujang, kami mengalihkan perhatian pada sesuatu yang di tunjuk Sandra seperti kumpulan rambut yang di tanam di bawah ubin.
Aku ingat kata Ayah dulu bila ada orang yang meninggal gantung diri di bawahnya pasti ada bekas rambut/sesuatu kita harus mengambil dan memusnahkannya, kalo gak akan terus ada kejadian serupa di tempat yang sama.
"Jang ada korek" tanyaku.
"Nih, gawe opo Wir?" tanya Ujang memberikan koreknya padaku.
"Bismillah" lalu ku baca ayat kursi di dalam hati, kemudian ku bakar 'Rambut' itu.
"Woi rek lihat ini" teriak Reno.
Dibalik bingkai foto tersebut tertulis sebuah nama dan alamat memang bila hanya di lihat sekilas hanya seperti coretan.
"Balik yuk" kata Dina dan Rina bersamaan hawanya makin ga enak nih.
"Ya wes yuk balik" kata Beni menyahuti.
Saat kami berjalan keluar kamar tiba-tiba saja terdengar teriakan yang kencang dari arah belakang kost yang merupakan rumah dari mbok Sri.
"Wir, opo kuwi" tanya Reno dan Andi bersamaan, sementara aku hanya mengangkat kedua bahuku tanda ketidaktahuanku.
"Lihat yuk" kata Andi lagi.
"Wes ah gak usah ikut campur urusan orang, lagipula ga ada hubungannya sama almarhumah Heni" jawabku santai.
Saat sampai di kontrakan kami melihat sebuah mobil terpakir di halaman.
"Kaya ga asing sama mobil ini" kata Andi dan Ujang.
"Iyo koyo mobile gus Fuad" kata Beni menimpali.
__ADS_1
sementara Ratna mulai menyadari hal itu.
"Abi, Umi, sama lek Fuad mas" katanya padaku, yang segera ku jawab dengan anggukan kepala.
"Assalamu'alaikum" ucap kami bersama.
"Waalaikumsalam" jawab pak kyai dan bu nyai serta gus Fuad bersama.
"Abi, Umi, Paklek kok ora ngabari kalo mau dateng" rengek Ratna manja setelah membuka pintu dan masuk ke dalam.
Malam harinya kami para pria duduk mengitari gus Fuad sambil bercerita tentang banyak hal, yah meskipun beliau adalah orang yang tegas dan keras tapi di luar lingkungan pondok beliau di kenal sebagai sosok humoris dan mudah bergaul dengan siapa aja.
"Silahkan Mas-mas di minum semua" ucap Winda dan Sandra barsamaan.
"Makasih Cantik" celetuk Reno.
"Ngapunten gus, kok sebelumnya gak ngabari dulu" kataku membuka obrolan.
"Jadi kemarin kang Kyai abis ada undangan rapat di hotel Hy**t terus emang hari ini rencana mampir sengaja bikin kejutan buat kalian" jelas gus Fuad panjang lebar.
Kami bercerita tentang banyak hal, termasuk beberapa petualangan mistis yang kami alami termasuk sampai yang baru saja kami alami.
"Terus piye rencanamu le?" tanya gus Fuad sambil menatap kami satu persatu.
"Dereng wonten gus" (Belum ada) jawabku singkat mewakili yang lain di sambut anggukan kepala yang lain.
"Menurut gus enaknya pripun?" tanya Beni.
"Tanya sendiri hatimu, karena kata hati lebih jujur dari apapun" jawab gus Fuad.
...----------------...
...----------------...
'Hoooaaam' aku menguap sambil menggeliat.
Dari kejauhan ku lihat ada sesosok penampakan sedang memperhatikan kami semua.
"Assalamu'alaikum ya ghaib" salamku mencoba berkomunikasi dengannya.
'Waalaikumsalam' jawabnya.
'Datanglah ke alamat di belakang fotoku, kalian akan dapatkan jawabannya' jelasnya lagi.
"InsyaAllah kami akan berkunjung ke sana" jawabku menjelaskan.
Tiba-tiba angin bertiup dengan kencangnya, dan sosok itupun menghilang dari hadapanku.
"Gimana sudah ada petunjuk" tanya gus Fuad mengagetkanku.
"Eh, lek insyaAllah" ucapku terkejut memang aku sering menyebutnya paklek atas permintaan beliau bila kami hanya ngobrol berdua karena beliau adalah sahabat dekat ayah dan ibu saat mondok dulu.
__ADS_1
"Piye Ratna" tanya beliau tiba-tiba membuatku salah tingkah.
"hahaha, ra usah salah tingkah ngunu" ujarnya sambil tertawa makin membuatku malu.
"Alhamdulillah lek biar waktu yang menjawab" jawabku berdiplomasi.
"Lek, mas ini kopinya" kata Ratna dan Rina yang mengejutkan kami berdua.
"Lha panjang umurmu nduk, aku karo masmu lagi ngomongi kamu, eh kowe muncul" goda gus Fuad yang berhasil membuat pipi Ratna memerah menahan malu.
"Ih, opo sih paklek iki" jawab Ratna sambil tersipu.
"Ayo bangunkan yang lain kita siap-siap jemaah shubuh" kata gus Fuad.
"Njih lek" jawabku sambil bergegas membangunkan mereka semua.
Selepas sholat shubuh dengan di imami kyai Zaenal beliau memberikan sedikit Qultum untuk sedikit menyejukan hati kami.
"Anak-anak semua yang semangat belajarnya, jangan lupa sholat dan berdo'a" kata pak kyai pada kami semua.
"Kyai doanya buat yang jomblo gimana kyai" tanya Reno di sambut tawa yang lainnya.
"Tuh gus Fuad juga jomblo" kata pak kyai juga dengan candaan.
"Tuh Din, adiknya pak kyai jomblo Din daripada jadi JONES" celetuk Reno lagi.
Kembali kami bersama tertawa seolah melepas beban yang ada.
Tepat jam 09.00 pagi pak Kyai, bu Nyai dan gus Fuad pamit untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Jombang, Ratna tampak sedih melepas Abi dan Umi karena memang cukup lama mereka tak bertemu.
"Ipul, abi sama umi titip Ratna sama kamu yo le" kata pak kyai sambil menepuk pundak kananku.
"Njih kyai InsyaAllah" jawabku sambil mencium tangan beliau.
Ayo Ad" ujar kyai Zaenal.
"Njih mas" jawab gus Fuad.
Setelah mobil pak kyai tak terlihat kamipun masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan sarapan kami yang sempat tertunda.
"Wir, piye apa udah ada petunjuk" tanya Ujang tiba-tiba, kemudian aku menceritakan apa yang aku alami semalam sementara mereka semua mendengarkan dengan seksama tanpa ada yang menyela.
"Ya wes gimana kalo hari sabtu kita cari alamatnya" celetuk Reno.
"Waduh aku gak melu yo, aku ngerjani tugas jee" kata Beni tiba-tiba.
"Rina gimana?, mau ikut apa mau bantu Beni ngerjain tugas" tanya Sandra.
"Aku nemenin Beni aja deh" jawab Rina mantab.
"Ben, sikat boss" goda Reno di sambut tawa kami semua.
"Ya wes yuk siap-siap ngampus" kataku yang akhirnya membubarkan obrolan di meja makan pagi ini.
__ADS_1
Mohon saran & kritiknya ya para reader jangan lupa tinggalin jempol manisnya buat penyemangat author dalam berkarya lebih baik lagi.