
Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan akhirnya kami semua sampai di kontrakan kembali berkutat dengan panasnya pinggiran Ibukota.
"Assalamu'alaikum Ndi, Din" kata Rina mengetuk pintu sambil memberi salam.
"Tumben sepi apa masih tidur mereka berdua?" tanya Winda.
Tiba-tiba pintu terbuka sendiri membuat kami terkejut, aku pun melangkah masuk rumah mendahului yang lain di susul Reno yang berdiri di sampingku.
"Andi.... Dina.... Salamualaikum" teriak Reno, lengang gak ada jawaban.
"Coba telepon" pintaku pada yang lain.
"Ora diangkat Wir" kata Beni.
"Iya punya Dina juga gak diangkat" kata Rina menimpali.
"Assalamu'alaikum" terdengar ucapan salam dari arah belakang.
"Waalaikumsalam" jawab kami serentak melihat ke arah pintu masuk.
"Lho kok kalian bisa masuk?!" tanya Andi dan Dina keheranan sambil mengernyit.
"Bukanne kowe sing buka lawang?" tanya Beni.
"Gak kok, aku karo Dina abis dari swalayan depan, nih blanjaan kita" ujar Andi sambil menunjukan kantong belanjaan.
"Wes lah cuekin ae, ayo kita beres-beres dulu terus istirahat" ucapku menghentikan perdebatan mereka.
__ADS_1
"Wir, besok kita masuk kelas baru nih coba bukaen grup" kata ujang memberitahuku.
"Iyo wes gampang ntar aja" kataku lagi.
...****************...
...****************...
Setelah beristirahat seharian kamipun bersiap pergi ke kampus hari ini, seperti kata Ujang kemarin hari ini kami memasuki ruang kelas baru yang terletak dekat dengan kantin dan berdekatan dengan gedung fakultas Ekonomi Syariah tempat para kekasih kami menuntut ilmu.
"Wir, denger-denger gedung baru itu bekas tanah kuburan terus ruangan itu sebenernya udah lama ga di pakai, cuma di renov lagi mau kita tempati sekarang" jelas Beni yang memang dasarnya adalah seorang kutu buku.
"Serius lu Ben" tanya Sandra yang mulai nimbrung di tengah obrolan kami.
"Infonya sih gitu" kata Beni lagi.
"Yo wes ayo istirahat dulu, kita lihat gimana besok" ujar Reno menimpali.
......................
Sang Surya menampakan sinarnya malu - malu karena tertutup oleh mendung, belum ada seorangpun yang bangun dari alam mimpinya, segera ku basuh muka dan berwudhlu bersyukur atas semua yang telah kami alami selama ini.
Kemudian aku menuju dapur untuk membuat beberapa gelas kopi dan teh hangat untuk kami semua.
"Wir, tumben kowe tangi disek" sapa Reno dari belakang.
"Hmmm, ayo ewangi" pintaku pada Reno.
__ADS_1
"Oke bos" ucapnya sambil membawa nampan berisi minuman ke ruang tengah, sementara aku membawa piring cemilan.
Nampak satu persatu terbangun dari mimpi indahnya, sambil menanti giliran untuk mandi kamipun ngobrol membahas hal-hal yang tak seberapa penting, akhirnya semuapun telah siap, atas kesepakatan bersama kamipun berjalan kaki menuju kampus.
Sesampai di kampus kami segera menuju fakultas masing-masing, diantara kami berlima hanya Beni dan Ujang yang berbeda jurusan mereka berdua mengambil jurusan seni, setelah masuk ke dalam kelas baru tercium bau cat yang lumayan menyengat, dengan situasi yang terbilang "aman dan nyaman" paling tidak untuk saat ini.
"Wir, Ren duduk mana kita" tanya Andi pada kami berdua.
"Manut" jawabku dan Reno bersamaan.
Tak lama kemudian masuk seorang dosen wanita ke kelas kami, yah bisa terbilang masih cukup muda, cantik serta dengan pakaian modis, tapi aku "melihat" beliau sedang "menggendong" sesuatu di punggungnya.
"Ndi, No" panggilku pada mereka berdua.
"Hmmm" jawab mereka kompak.
"Lihat di punggung ibu itu" kataku pada mereka.
Terlihat ada bayi bergelayut manja di punggungnya, dengan wajah yang cukup menyeramkan separuh wajahnya rusak namun tak ada dendam di matanya hanya ingin berdekatan dengan sosok ibunya.
"Wir, ku....kuwi" kata Andi sambil menunjuk, sementara aku cuma mengangguk.
"Terus piye Wir" tanya Reno.
"Ya gak piye-piye, itu bagian dari masa lalu beliau" jawabku pada mereka kembali fokus ke depan mengikuti mata kuliah dari ibu dosen yang terkenal killer tersebut.
Mohon saran & kritiknya ya para reader jangan lupa tinggalin jempol manisnya buat penyemangat author dalam berkarya lebih baik lagi
__ADS_1