
Kamipun segera melaju meninggalkan kota Cirebon, sementara aku konsentrasi mengemudi ada Ratna duduk di sampingku, tiba-tiba Reno bertanya sesuatu padaku.
"Wir, kowe eling si Heni gak?" tanya Reno padaku
"Heni sopo yang mana No?" tanyaku padanya.
"Almarhumah Heni anak ibu kost, yang dulu pas awal-awal kita kost dulu sering muncul minta tolong kita" jelas Reno padaku.
"Iya nyapo No?" tanyaku pada Reno.
"Udah ah ntar aja kalo brenti bahasnya biar si Jawir fokus nyetir dulu" kata Sandra.
"Tau nih Reno" celetuk Ratna yang ikut sewot, sementara aku hanya tersenyum melihat bullyan mereka pada Reno.
"Wir, engko neng rest area ganti aku yo" celetuk Ujang yang duduk tepat di belakangku.
"Beres Jang" jawabku santai.
__ADS_1
Setelah hampir 30menit perjalanan kamipun tiba di Rest Area, kami segera turun dari kendaraan untuk melemaskan otot-otot persendian kami.
"Mas mau di pesenin kopi atau teh?" tanya Ratna padaku.
"Teh panas jumbo boleh deh" jawabku sambil tersenyum, kemudian berlalu ke toilet untuk menyegarkan badanku.
Setelah selesai aku segera kembali ke meja tempat para sahabatku berkumpul.
"Wir, kowe sih iling sama Heni anake bu kost gak?" tanya Reno padaku.
"Mhmm, nyapo emang No?" tanyaku balik padanya.
Aku kali ini hanya mendengar pertanyaan Reno sambil menikmati teh beraroma melati yang tersaji di hadapanku.
"Yang buat aneh adalah kalo semua belum berhasil kita ungkap kenapa dia gak pernah menampakan diri lagi?" tanya Beni tiba-tiba.
Sementara aku hanya menjadi pendengar setia dari pertanyaan demi pertanyaan yang mereka lontarkan bergantian sambil berusaha mengalisa segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi ke depan.
__ADS_1
"Terus rencana kalian gimana?" tanya Winda dan Ratna bersamaan, aku hanya menaikan bahuku sebagai jawaban atas ketidak tahuanku atas pertanyaan mereka berdua, sementara yang lainpun hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Wir, gimana kalo kita coba buat mediasi" kata Ujang mencoba memberikan solusi.
"Kapan trus Siapa yang mau jadi mediator?" tanyaku balik pada Ujang.
Kami kembali terdiam sambil menikmati hidangan yang tersedia di depan kami.
15 menit berlalu, belum ada jawaban dari para sahabatku, sampai santapan yang tersaji di meja kami habis tak bersisa.
"Sekarang menurutku kita tunggu aja sampai ada pertanda lagi dari Heni, karena jujur aja semenjak peristiwa waktu itu kita tanpa disadari di "takdirkan" untuk "membantu" mereka yang tak kasat mata, dan Alhamdulillah kita bisa menyelesaikan semua" ujarku di amini oleh anggukan mereka semua.
"Iya gara-gara kalian juga gue ama cewek-cewek jadi bisa ngelihat yang begituan" jawab Sandra sewot.
"Tapi kan seneng bisa deket dan bikin insyaf playboy cap Tiga Roda" kata Reno sambil melirik Ujang.
"Wo jia***k" maki Ujang sambil melempar kulit kacang ke arah Reno di sambut tawa semua orang.
__ADS_1
" Wes yuk cabut, keburu hujan" kataku lagi pada mereka, kemudian aku menyerahkan kunci mobil pada Ujang, sementara Ratna dan Winda menuju ke meja kasir untuk menyelesaikan pembayaran.
Mohon saran & kritiknya ya para reader jangan lupa tinggalin jempol manisnya buat penyemangat author dalam berkarya lebih baik lagi