Rumah Kost Angker

Rumah Kost Angker
Ungkapan Perasaan


__ADS_3

Setelah puas bercengkrama dan beristirahat, kami pun berpamitan untuk kembali ke ibukota, kami semua kemudian berpamitan pada mang Dodo beserta putra putrinya.


"Den terima kasih mau bantu membersihkan villa ini" kata mang Dodo saat bersalaman denganku.


"Sama-sama mang, jangan lupa pesen aku tadi ya?" jawabku sambil mengingatkan beliau.


"Insya Allah den" kata mang Dodo.


'Kriiing....kriiing" tiba-tiba ponsel Sandra berbunyi.


"Mang Dodo om Krisna mau bicara samagi mamang" kata Sandra memberikan hpnya pada mang Dodo.


Kami kembali duduk di ruang tamu menunggu mang Dodo kembali.


"Gimana rencana kita abis ini?" kata Andi bertanya kepada kami semua.


"Yo kuliah ndi" jawabku santai di sambut tawa yang lain.


"Den Ipul ini ada titipan dari juragan" katanya sambil menyerahkan bungkusan kepadaku.


"Lho apa ini mang?" tanyaku bingung.


"Juragan pernah bilang ke saya kalo ada yang bisa "menenangkan" villa saya di suruh ngasih ini" sambung mang Dodo lagi.


"Ambil Wir" kata Reno.


"Ma..makasih mang" kataku pada mang Dodo.


"Sama-sama den" ucap mang Dodo.


Kemudian ponsel Sandra berbunyi lagi.

__ADS_1


"Pagi om Krisna" ujar Sandra.


"Iya, udah di kasih sama mang Dodo kok, om mau ngomong sama dia" jawab Sandra lagi.


"Wir, nih" ujar sandra memberikan ponselnya.


Akupun menerima telepon itu dari Sandra, mendekatkan ke telingaku.


"Se..selamat pagi bapak" ujarku menghilangkan kegugupanku.


"Pagi, gak usah panggil pak panggil om aja ya?" kata beliau.


"I...iya pak, eh om" jawabku lagi.


"Mang Dodo dan Sandra udah cerita semuanya, om Terima Kasih sama kamu karena berhasil mengatasi permasalahan yang ada di villa, di dalam tas itu ada HP buat kamu dan ada sedikit uang sebagai ucapan terima kasih dari saya, tolong jangan dilihat dari harganya" jelasnya panjang lebar.


"Te...terima kasih om" ujapku lagi.


"Ya sudah kalo kalian ada waktu lagi kalian semua bisa mampir kapan saja kalian suka" ucap beliau lagi.


"tuuut....tuuutt" terdengar sambungan telepon di tutup.


Ku berikan benda itu pada Sandra..


"Makasih San" ujarku padanya yang hanya di balas dengan anggukan dan senyuman.


Kamipun akhirnya pamit kepada mang Dodo dan semua.


"Hati-hati ya neng, den" kata mereka.


Kali ini tugasku menyetir mobil, bersama sang pujaan hati Ratna di sampingku, hampir satu setengah jam perjalanan tiba-tiba Reno sang biang kerok teriak dari belakang.

__ADS_1


"Wir, mandek warung luwe" (berhenti warung laper) teriak Reno.


"Siap bos" jawabku.


Kemudian aku menepikan mobil di Saung Sunda, kami semua turun dari mobil.


"Mas, ini mau dibawa gak, apa di tinggal aja?" tanya Ratna saat akan turun.


"Bawa aja mungkin ntar di dalem kita butuh" kataku.


"Mas yakin Nana yang bawa" tanyanya lagi hanya ku jawab dengan anggukan kepala.


Akhirnya kami makan sambil bersantai sejenak, kemudian aku dan Ratna pamit untuk membayar makanan kami.


"Wir patungan ae" kata Beni.


"Ra usah ben, aku ae" ( Ga usah ben, aku aja)jawabku pada Beni


Saat berjalan menuju kasir, aku mencoba menyatakan perasaanku pada Ratna, cuma jujur aja aku ragu apa mungkin aku di terima olehnya.


"Na..." ujarku tertahan


"Ya mas" jawabnya sambil menghentikan langkah kami.


"Boleh ngomong gak" tanyaku ragu.


"Se..sebenarnya aku suka dan sayang sama Nana, mau gak Nana jadi mmmm calon makmumku" ucapku gugup menyatakan perasaanku.


Terlihat wajah Ratna menjadi bersemu merah.


"Eee..... kalo masih ragu-ragu gak usah di jawab sekarang besok aja waktu masuk kuliah kasih jawabannya, yuk kita bayar dulu kasian anak-anak nungguin" lanjutku lagi..

__ADS_1


Kira-kira gimana ya jawaban Ratna buat Saipul alias Jawir di TERIMS atau di TOLAK?


Mohon saran & kritiknya ya para reader jangan lupa tinggalin jempol manisnya buat penyemangat author dalam berkarya lebih baik lagi.


__ADS_2