Rumah Kost Angker

Rumah Kost Angker
Menanti Jawaban


__ADS_3

Tak terasa seminggu sudah aku mengungkapkan perasaanku yang selama ini ku pendam pada Ratna, namun hingga kini belum ada jawaban pasti yang ku dapatkan darinya walaupun hubungan kami kian akrab dari sebelumnya.


Hantu anak ibu kostku tak lagi menampakan dirinya, pagi ini kami berkumpul di dapur bawah tangga yang bersebelahan dengan kost putri, berencana mencari angin segar bersama pasangan masing-masing seperti biasa menggunakan mobil Sandra.


"Jang piye?" tanya Reno.


"Mereka lagi otw kesini katanya, barusan tak sms" jawab Ujang yang baru menuruni tangga.


"Yo wes yuk kita tungguin di depan" jawab Beni di jawab dengan anggukan yang lain.


"Wir, piye udah ada jawaban belum dari Ratna" tanya Reno yang sengaja menggodaku hanya ku jawab dengan gelengan kepala.


"Sabaaarrr ya wir" ledeknya lagi.


"JianC****k" umpatku panjang.


Di sambung tawa keras yang lain


"Puas.. puas...." ucapku menirukan jargon mas tukul dalam acara "BUKAN SIAPA-SIAPA"


"Eh tuh mereka dateng yuk" kata Ujang tak lama sebuah mobil berhenti di depan kami.


"Udah siap, yuk naik" tanya Sandra dari belakang kemudi..


Ujang segera naik menggantikan posisi Sandra, sementara kami berempat menaiki posisi belakang merapat duduk dengan pasangan masing-masing.


Kurang lebih 20menit perjalanan kamipun sampai di mall terbesar di kota Depok


"Eh makan dulu yuk, belum pada makan kan? Laper nih" usul Winda.

__ADS_1


"Yuk kebetulan di kontrakan tadi cuma nyemil" jawab Dina di sambut gelak tawa yang lain.


Kamipun berjalan beriringan, memasuki mall, mencari tempat makan.


"Situ aja yuk" kata Sandra menunjuk sebuah resto yang ada live musicnya dengan menggandeng tangan Ujang mesra..


"Eh kalian duluan deh ntar kita berdua nyusul" ucap Ratna kemudian menarik tanganku.


"Cie...Cie... pepet terus Wir" ujar Reno.


"GPL Na..." kata Rina, yang hanya di balas acungan jempol oleh Ratna.


"Mau kemana?" tanyaku karena merasa udah cukup jauh dari mereka.


"Mas" katanya sambil lama terdiam.


"Mas" ulangnya lagi.


"Iya ada apa?, ngomong aja" kataku lagi.


Sementara Ratna hanya diam memandangku terlihat ragu.


"Gak papa ngomong aja, aku udah siap kok" kataku sambil membuang nafas kasar.


"Beneran gapapa, mas gak marah" tanya Ratna lagi.


Hanya ku jawab dengan anggukan kepala sambil menata hatiku.


"Kalo masih entar balik dulu yuk, udah laper nih" jelasku cuma di tanggapi senyuman olehnya.

__ADS_1


"Ya Allah malah senyum, jadi kasih jawaban gak?" tanyaku lagi.


Kemudian Ratnapun melangkah mendekatiku.


"Mas, sini Na bisikin" katanya dengan jarak yang cukup dekat, kemudian aku sedikit merendahkan badanku sejajar dengan bibirnya.


"Bismillah, Na mau" bisiknya di telingaku 'deg..deg..' jantungku tiba-tiba berpacu dengan cepat.


"Se...serius..." tanyaku memastikan sekali lagi.


"Iya mas Saipul, Insya Allah" ucapnya pelan.


"Alhamdulillah" ucapku perlahan dan tanpa disadari kamipun berpelukan.


"Mas, udah malu dilihatin orang" kata Ratna


"Astaghfirullah, maaf" kataku.


Kamipun kembali ke resto tempat teman-teman berkumpul tadi dengan bergandengan tangan.


"Cie...cie... koyoke ada yang jadian nih" kata Reno si biang kerok melihat kedatangan kami.


Terlihat tersisa dua bangku berhadapan, kamipun segera mengambil duduk di situ.


"Piye Wir diterima?" kata Beni yang ikut serta menggoda kami berdua


"Alhamdulillah ora sia-sia dungone mendino" jawabku, di sambut gelak tawa semua orang termasuk juga Ratna.


Mohon saran & kritiknya ya para reader jangan lupa tinggalin jempol manisnya buat penyemangat author dalam berkarya lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2