
"Mas....mas.... bangun" sayup-sayup ku dengar suara Ratna memanggil.
"Hmm, ada apa" tanyaku sambil menggeliat dan mengerjabkan mata.
"Tadi Nana lihat sekilas di jendela ada sesuatu kaya bola api dari arah balkon" jelas Ratna padaku, seketika mataku langsung segar.
"Tolong bangunin yang lain, suruh ke sini penting!" pintaku padanya di jawab dengan anggukan kepala dan mengambil hpnya.
Sepuluh menit kemudian semua berkumpul di kamar.
"Ono opo Wir, Rat?" kata Reno.
"Yang ngelihat Ratna, jadi biar Ratna yang cerita" jelasku sambil melirik Ratna hanya di jawab anggukan kepala.
Kemudian Ratna pun mulai bercerita.
FLASH BACK ON
Jadi tadi jam 00.00 aku kebangun karena kebelet sama mau tahajjud, trus tak liat mas Ipul lagi tidur nyenyak banget, pas keluar kamar mandi mau ngelanjutin tidur aku liat ada sinar di balkon kaya sinar api ilang muncul, ilang muncul terus aku bangunin mas Ipul.
FLASH BACK OFF
Semua terdiam menyimak cerita Ratna.
"Wir, apa mungkin itu?" tanya Beni ragu.
"BANASPATI" jawab Ujang dan Reno bersama.
"Tapi kenapa kita? tanya Beni, sementara para cewek cuma diam mendengar perdebatan kami berempat.
"Jawabannya simple, karena kita udah menggagalkan ritual terakhir dari salah satu pengikut setianya yang turun menurun minta bantuan dari 'tuannya' " jelasku pada mereka semua.
"Maksud lo si Brama ama keluarganya" tanya Sandra membuka suara yang hanya ku jawab dengan anggukan.
"Terus gimana solusinya?" tanya Winda.
"Ya di hadapi bersama" jawabku singkat.
"Waktu kita gak banyak, kalo mau cepet selesai ya kita hadapi sama-sama, hati-hati mereka bisa dengan mudah memanipulasi pikiran kita, sebelum shubuh kita harus bisa melumpuhkannya" jelasku lagi.
"Cewek-cewek gimana Wir?" tanya Ujang.
"Cewek tetep di kamar, jangan buka balkon apapun yang terjadi dan sebelum dengar suara Adzan shubuh" kataku.
"Yuk kita keluar gaes kayanya ada yang mau datang" kata Reno.
"Mas, hati-hati" kata Ratna berpesan padaku.
"Telepon lek Fuad ceritain yang terjadi" bisikku pada Ratna di jawab oleh anggukan.
Kami berempat segera keluar menuju balkon, suasana yang tadinya sejuk oleh AC menjadi panas karena kehadiran Banaspati di hadapan kami berempat.
'Kalian uwes lancang ganggu apa yang menjadi punyaku' teriak banaspati tersebut dengan suara kencang.
"Kami ga tau apa maksudmu" teriak Reno membalas ucapan makhluk tersebut.
__ADS_1
'Kedua gadis itu adalah TUMBAL buatku' sambungnya lagi sambil memecah dirinya menjadi empat bagian yang sama besar hendak menyerang kami.
Tiba-tiba dari arah barat muncul kilatan cahaya putih yang sangat menyilaukan mata dan tepat berhenti di samping kiriku.
"Assalamu'alaikum, kalian mau seneng-seneng dewe ora ngajak" ucap gus Fuad
"Waalaikumsalam gus" ucap kami bersama yang sedikit terkejut dengan kehadiran beliau.
"Alhamdulillah" ucapku dalam hati.
Setelah hampir 2jam kami bertarung dan banaspati tersebut berhasil membuat lengan kananku terbakar oleh sosoknya mungkin bila gus Fuad tidak datang bisa jadi saat ini aku tinggal nama, akhirnya atas izin Allah kami berlima mampu mengalahkannya, seiring terdengar sebuah ledakan keras di salah satu rumah warga yang letaknya tidak jauh dengan kami menginap.
"Alhamdulillah" ucap kami bersama.
...****************...
"Matur nuwun gus" ucap kami pada gus Fuad.
"Yo wes kali istirahat, InsyaAllah udah aman dan lukamu akan hilang 2hari lagi Pul" pamit gus Fuad pada kami.
"Njih gus matur nuwun" ucapku pada beliau.
"Assalamu'alaikum" ucap beliau seraya menghilang berbarengan dengan suara tarkhim yang sayup-sayup terdengar.
"Waalaikumsalam" ucap kami bersama dan masuk ke dalam kamar.
"Gimana mas" tanya Ratna padaku.
"Alhamdulillah semua udah beres, berkat bantuan gus Fuad juga" ucapku menjelaskan.
"Kalian cewek-cewek tidur sini aja, Beni biar sama Ujang, Jawir sama aku" kata Reno yang udah kelihatan lelah.
"Pintu penghubungnya biarin kebuka biar kalo ada apa-apa bisa cepet" kata Winda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hoaaaam" ku renggangkan sejenak tubuhku, ku lihat jam di HPku udah menunjukan jam 07.30wib ku lihat Reno masih pulas di buai mimpinya, aku segera melangkah ke kamar Ujang dan Beni ternyata mereka pun masih lelap dalam tidurnya segera aku beranjak ke kamar para cewek pun belum ada tanda-tanda kehidupan yah mereka semua terlalu lelah dengan kejadian semalam.
Aku pun kembali ke kamar untuk membuat secangkir kopi panas dan menonton siaran TV untuk menghilangkan jenuh, ku ambil hpku untuk menelepon Ayah dan Ibuku karena beberapa bulan belakangan aku sangat merindukan mereka dan jarang menghubungi mereka.
"Assalamu'alaikum le, piye kabarmu?" terdengar suara Ibu di seberang sana.
"Alhamdulillah bu Ipul sehat, Ayah kalian Ibu pripun?" tanyaku pada beliau tak terasa air mataku membasahi pipi.
"Alhamdulillah sehat kabeh Pul, iki Ayahmu" kata ibu.
"Assalamu'alaikum le, sehat kowe? tanya Ayah.
"Alhamdulillah, Insya Allah dua bulan lagi kita semua pulang yah, gus Fuad mau nikah" jelasku pada ayah.
"Alhamdulillah, iyo pak kyai juga ngundang ayah sama ibumu yo wes ndang sarapan sek" terang Ayah menjelaskan padaku.
"Njih yah, sampun njih Assalamu'alaikum" jawabku seraya menutup sambungan telepon.
"Wir, wes do tangi urung" tanya Reno yang baru bangun tidur.
"Koyoe sih durung No" ucapku menerangkan.
__ADS_1
"Wes ayo bangunin ae, trus ndang sarapan selak jatahe ilang wes luwe aku" terang Reno sambil memegang perutnya, sementara aku cuma tersenyum melihatnya sambil menuju kamar Ujang dan Beni
"Jang, Ben ayo bangun sarapan terus siap-siap" kataku sambil membangunkan mereka berdua.
"Oke Wir" sahut Ujang.
Akhirnya kami membereskan perlengkapan kami masing-masing dan turun untuk menikmati sarapan pagi, kami duduk di sebuah meja besar.
"Wir, Jang, Ben bantuin abot iki" teriak Reno yang membawa banyak makanan di kedua tangannya.
"Wes Angel musuh weteng karet" kata Ujang di sambut tawa yang lain.
Setelah selesai makan kamipun berbincang sejenak di resto hotel tersebut.
"Kita nanti jadi mampir tempat Heni" tanya Sandra.
"Iya sebentar aja ya itung-itung sebagai ucapan terima kasih mereka udah bantu kita kemaren" jawabku pada sandra.
"Ya jujur sih gue pikir tuh anak kesurupan beneran lho, aktingnya dapet bener dia kalo si Aa gak ngasih tau mungkin gue udah ikut bantuin petugas kemarin" sambung Sandra lagi.
"Ya udah yuk balik kamar rebahan bentar, Wir engko kowe sing nyetir yo" kata Ujang padaku.
"Beress wes yuk balik kamar" kataku mendukung keputusan Ujang.
Tepat jam 12.00wib kami check out dari kamar menuju ke rumah Heni sambil berpamitan, jalanan lumayan lancar kami sengaja memarkirkan mobil di depan gang dan berjalan kaki ke rumahnya.
"Assalamu'alaikum" ujarku mengucap salam begitu sampai rumah tersebut.
"Waalaikumsalam" terdengar suara Elis menjawab salam kami dan membuka pintu.
"Eh Aa, Teteh mangga calik ti lebet" katanya mempersilahkan kami masuk.
"Abah aya teu" tanya Ujang dalam bahasa Sunda.
"Aya aa, tungguan sakedap" jawabnya berpamitan masuk ke dalam.
Tak lama si Abah terlihat dari arah belakang di susul Elis di belakangnya.
"Eh aya tamu, punten pisan Abah habis dari kamar mandi" ujar beliau menjelaskan, sementara Elis membawa nampan berisi minuman yang di sajikan pada kami.
"Abah cuma mau bilang makasih banyak buat neng sama temen-temen semua" kata Abah membuka suara.
"Mudah-mudahan dengan begini, Heni bisa tenang di sana" kata si Abah lagi.
"Aamiin" ucap kami bersama.
Kurang lebih tiga puluh menit kami di sana kamipun berpamitan pada Abah dan Elis untuk kembali ke jakarta.
"Nuhun nya Aa Neng" ucap elis sambil menyalami kami satu persatu.
"InsyaAllah si Ambu teh bulan depan bade balik ka bumi" ucap Abah setelah ikut menyalami kami dan berkali-kali.
"Sami-sami Abah tos jadi Kawajiban kami nulungan sesama" ucap Ujang mewakili kami semua.
"Assalamu'alaikum" ucap kami bersama meninggalkan rumah tersebut...
"Waalaikumsalam hati-hati di jalan" sahut Abah dan Elis mengingatkan.
__ADS_1
Mohon saran & kritiknya ya para reader jangan lupa tinggalin jempol manisnya buat penyemangat author dalam berkarya lebih baik lagi.