
"Tolong apa? saya gak papa kok" kata beliau mulai terpancing emosi.
"Mungkin bisa di mulai dengan kakak mencoba terbuka dengan kami misalnya?" ucapku berusaha untuk tidak memancing emosinya.
"Sebenernya apa yang kalian mau sih" tanya beliau dengan nada tinggi, kalo memang ga ada yang ingin kalian bicarakan lagi saya harap kalian meninggalkan rumah saya.
'Hmmm' aku membuang nafas kasar.
Kamipun terpaksa mengalah dan pamit undur diri, saat bersalaman dengannya aku melihat sekelebat masa lalu beliau di sertai beberapa nama 'FRANS dan ADINDA'.
"Relakan Frans dan Adinda" bisikku pada beliau, dan beliau cukup terkejut dengan dua nama yang ku sebut itu.
"Tunggu" tiba-tiba beliau berseru saat kami mengantri mengenakan alas kaki kami.
"Masuklah dulu" ucap beliau lagi.
Kamipun kembali masuk ke dalam rumah beliau, dan kembali duduk di kursi ruang tamu.
"Gimana kak apa ada yang bisa kami bantu?" tanya Sandra yang tampak kesal.
"Maafin sikap saya tadi, tapi jujur aja ada beberapa rekan dosen yang sok tau berusaha mendekati saya dan ternyata mereka berusaha mengambil kesempatan dari keadaan yang sedang saya alami beberapa tahun belakangan ini" jelas beliau pada kami semua.
"Lantas apa yang kami bisa bantu untuk kakak" kata Ratna mengejutkan kami semua, karena sedari tadi Ratna hanya diam sebagai pendengar setia aja.
"Saipul, darimana kamu bisa sebutin dua nama tadi dengan benar dan tepat?" tanya bu Ulfa padaku.
"Jadi begini, saat saya bersalaman sama ibu tadi saya mendapat 'Gambaran' seorang pria yang cukup tampan sepertinya bukan orang Indonesia atau mungkin blasteran, dan seorang anak kecil dan ada suatu tempat di daerah Bandung, kejadiannya kira-kira sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu" kataku mulai bercerita, sementara yang lain hanya menjadi pendengar.
"Lantas dimana Frans sekarang?" tanya beliau kepadaku.
"Setelah kalian berpisah dia sempat kembali ke negara asal orang tuanya di singapura, karena hubungan kalian yang di restui oleh kedua orang tuanya yang anda sendiri berfikir kebanyakan orang luar berfikiran terbuka, namun anda salah" jelasku padanya, yang membuat bu Ulfa bersedih dan menitikan air matanya, sementara Ratna dan Winda langsung mendekati beliau untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Mas udah jangan di terusin" ujar Ratna padaku.
"Mbok..mbok.." panggil Sandra pada pembantu bu Ulfa..
"Iya neng" jawab si mbok yang tergopoh gopoh dari arah belakang.
"Tolong ambilin air buat kak Ulfa ya mbok" ucap Ratna.
"Iya neng" jawab si mbok sambil berjalan ke belakang.
Sambil menunggu si mbok datang kami pun melanjutkan perbincangan kami yang sempat terputus tadi.
"Wir, terus gimana karo si Adinda" tanya Reno sambil berbisik karena tak mau menyinggung bu Ulfa yang tengah bersedih.
'ssstt' "Engko wae" kataku ikut berbisik.
"Dinda maafin mama nak" kata bu Ulfa mengagetkan kami semua.
"Maaf kak, mungkin lebih baik kita berdoa untuk mereka berdua agar tenang di sana, dari pada kakak semakin terbebani dengan kesalahan yang kakak lakukan di masa lalu" kataku menenangkan beliau.
"Insya Allah kak, kami akan bantu kakak semampu kami" jawab Dina.
"Sekarang gimana kalo kita sholat Isya' berjamaah dulu walaupun sudah terlambat" ajak Ratna pada kami semua, terlihat seutas senyum bu Ulfa mulai mengembang.
Saat kami bergantian untuk mengambil wudhu tiba-tiba terdengar suara bayi menangis sangat keras dan menggema.
"Woi sopo kuwi?" tanya Beni lantang.
"Ben" ujarku menepuk pundak Beni sambil menggeleng.
"Mas itu suara si bayi" ucap Ratna ketika sudah di sampingku.
__ADS_1
"Yang tenang" ucapku mengingatkan semua.
"Yuk kita Sholat dulu, Jang imam" kataku pada Ujang.
"Oke Wir" jawab Ujang singkat.
Setelah sholat kamipun memanjatkan do'a untuk ketenangan suami kak Ulfa dan juga anaknya.
"Aamiin Ya Robbal Alamiin" ucapku menutup do'a.
Tiba-tiba terlihat sosok anak kecil sedang berlari-lari kecil mengelilingi kami, melihat ke arah kami satu persatu, dan menunjuk dengan jemari kecilnya ke arah kak Ulfa, beliau melihat ke arahku hanya ku jawab dengan anggukan.
"Maafin mama nak, harusnya mama gak menuruti ambisi kakekmu saat itu" ucap bu Ulfa pada sosok anak kecil yang berpakaian lusug tersebut.
"Mama...ma...ma.." ucap sosok tersebut dengan suara yang menyayat..
"Semua baca ayat kursi dengan yaqin" kata Ratna yang di jawab anggukan oleh semua.
"Maafin mama nak" ucap kak Ulfa lagi sambil memeluk anak tersebut sekitar lima menit kemudian melepasnya.
Terlihat sinar putih yang menyilaukan mata di hadapan kami semua.
"Adek maaf silahkan adek melanjutkan perjalanan adek" ucapku pada sosok tersebut.
"Terima kasih kakak" ucapnya pada kami semua dengan senyum manisnya menuju ke arah cahaya putih yang ada di hadapan kami semua.
Akhirnya tepat jam 10 malam kamipun berpamitan pada beliau untuk kembali serta meminta beliau untuk beristirahat dengan tenang dan nyaman.
"Wir, kowe sing nyetir yo?" pinta Ujang sambil melemparkan kunci mobil padaku.
"Hmm" dehemku sebagai jawaban singkat atas pertanyaan Ujang.
__ADS_1
Segera ku jalankan mobil dengan kecepatan sedang, tak lupa ku belokan mobil ke arah warung makan langganan kami semua untuk membungkus beberapa makanan untuk di rumah.
Mohon saran & kritiknya ya para reader jangan lupa tinggalin jempol manisnya buat penyemangat author dalam berkarya lebih baik lagi