Rumah Kost Angker

Rumah Kost Angker
Bayi Bajang


__ADS_3

Akhirnya jam perkuliahan ibu dosen cantik nan killer itu selesai sudah, banyak diantara para mahasiswa menarik nafas lega.


Yah kalo di lihat dari usianya beliau tergolong dosen muda di kampus ini, namun cara berjalan beliau yang agak membungkuk serta wajahnya yang jarang menampakan senyum membuat wajah cantiknya terkesan ANGKER bagi mahasiswa seperti kami, namanya MARIA ULFA tapi beliau memperkenalkan diri dengan ibu Ulfa.


"Wir" panggil Reno mengejutkanku.


"Hmmm" jawabku cuek.


"Itu tadi bayi kan yang di punggung bu Ulfa" tanya Reno padaku.


"Koyoe ngunu No, tapi bayi itu separuh wajahnya kelihatan hancur" ucapku sambil mengingat ingat.


"Wir, bukanne bayi bajang kuwi sejenis tuyul?" tanya Andi padaku.


"Ada beberapa orang yang sengaja menumbalkan bayi mereka untuk kekayaan duniawi semata nah itu bayi yang katanya akan jadi Bayi Bajang, Waallahualam" jelasku pada Andi dan Reno.


Tak terasa jam istirahatpun datang, kamipun menuju kantin sambil menunggu Ujang dan Beni bergabung dengan kami tentu saja para kekasih kami.


'triing' suara dari hpku berbunyi.


"Mas udah di kantin blm?" tanya Ratna pada aplikasi hijau.


"Udah nih baru nyampe lagi pesen, mau di pesenin gak?" tanyaku padanya.


"Na, kaya biasanya aja mas abis ini kita selesai kok" balas Ratna lagi.


Tak lama kemudian pesanan kami pun datang, bersamaan dengan para pujaan hati kami.


"Tadi ada yang pelajaran akutansi bu Ulfa gak?" tanya Winda pada kami di sela-sela makan.


"Ada, kenapa yang?" tanya Reno.


"Kok ada yang aneh ya dari beliau" ucapnya lagi.


"Iya bener banget Win tadi di kelas gue masa marah-marah gak jelas terus jalannya jadi rada bongkok" jawab Sandra menimpali.


"Emang dulunya gimana Ndra?" tanya Reno, sementara aku dan yang lain hanya menjadi pendengar setia.


"Seingat gue dulunya bu Ulfa itu orangnya ceria banget, terus modis banget gitu lah, pokoknya perfectionist banget dosen muda paling cantik lah" jelas Sandra.


Akhirnya bel masuk berbunyi membubarkan kami ke kelas masing-masing untuk mengikuti mapel.


"Wir wocoen grup" kata Reno saat kami bersiap pulang.


"Ono opo emang" jawabku pada Reno.

__ADS_1


Segera ku buka aplikasi pesanku


"Gaes bu Ulfa" ketikan dari Sandra.


"Ada apa yang" tanya Ujang.


"Beliau tadi ke kelas katanya ada perlu sama gue, cuma bahasanya aneh banget di kuping gue denger ada tangisan bayi" ketik Sandra menjelaskan.


"Ya udah kita pulang dulu terus bareng-bareng ke rumah bu Ulfa, gimana?" ketik Dina.


"Deal" ketikku singkat.


Akhirnya kami sepakat pulang ke kontrakan dulu, sebelum menuju rumah dosen akutansi kami tersebut, sekitar 10menitan berjalan kaki kamipun sampai di kontrakan, setelah membersihkan diri kami berkumpul di ruang tengah.


"Gimana nih Wir?" tanya Sandra padaku.


"Ya udah yuk kita jalan sekarang aja biar dapat informasi yang akurat" jawabku padanya.


"Bentar gue kirim WA beliau dulu" kata Sandra.


"Semua ikut kan?" tanyaku pada yang lain.


"Ikut lah" jawab mereka kompak.


"Gimana San?" tanyaku pada Sandra.


Kami semua mempersiapkan diri masing-masing.


...----------------...


...----------------...


Bila di fikir-fikir lagi mungkin inilah yang Allah berikan pada kami semua, saling mengisi dan saling melengkapi. Awalnya berangkat bersama ke empat sahabatku untuk menuntut ilmu, lalu mendapat tempat kost yang angker, kemudian bertemu para kekasih kami ini yah mungkin inilah yang dinamakan TAKDIR dari sebuah perjalanan hidup.


"Wir, ayo" panggil Beni padaku yang membuatku terkejut..


"Wes siap kabeh" tanyaku pada Beni yang dijawab dengan anggukan kepala olehnya.


"Gimana San udah dapet sharelocnya?" tanyaku pada Sandra.


"Udah nih kayanya sih gak jauh kok dari sini" katanya padaku.


"Ya wes kamu sama Ujang aja di depan" sahutku padanya sambil menutup pintu utama.


"Bismillah yuk brangkat" ucapku pada yang lain.

__ADS_1


...****************...


Kurang lebih 45 menit perjalanan kamipun tiba di sebuah rumah yang lumayan besar namun terkesan berhawa angker, Ujang segera memarkirkan mobil tepat di depan rumah, lamat-lamat terdengar suara tangisan bayi kami pun segera menuju pintu.


"Assalamu'alaikum, selamat sore" ucap Sandra sambil mengetuk pintu.


"Maaf bu mau tanya, bu Ulfanya ada?" tanya Sandra lagi.


Beliau memandang kami satu persatu dari atas ke bawah.


"Kami mahasiswanya bu" sahut Ujang.


"Siapa mbok?" tanya seorang wanita dari dalam.


"Ini neng ada mahasiswa neng nyariin" jawab ibu tersebut.


"Suruh masuk mbok saya siap-siap dulu, jangan lupa siapin minum juga" teriak bu Ulfa dari dalam.


"Iya neng, mari masuk dek" sahut ibu tersebut kemudian mempersilahkan kami masuk.


Semakin kami masuk, semakin keras tangisan bayi yang kami dengar kemudian kami di persilahkan duduk di kursi panjang.


"Maaf lama menunggu" ucap bu Ulfa ketika keluar.


"Owh iya bu gak papa" ucap kami hampir bersamaan.


"Kalo di rumah kalian bisa panggil kakak atau mbak aja biar gak terlalu formal" jelas beliau pada kami.


Setelah menyajikan minuman pada kami si bibi pun mohon diri untuk ke belakang, kamipun mulai perbincangan santai mulai dari pembahasan pelajaran sampai dengan permasalahan pribadi tiba-tiba Beni pun bertanya sesuatu yang mengagetkan kami semua.


"Maaf bu eh kak boleh tanya sesuatu yang sifatnya agak pribadi?" tanya Beni.


"Silahkan kalo saya bisa jawab pasti akan di jawab kok" kata bu Ulfa datar.


"Gini kak apa kakak punya adik bayi, karena kami mendengar suara tangisan bayi?" tanya Beni yang membuat dosen cantik itu terkejut.


"Ka... Kalian dengar suara itu" tanya beliau terkejut.


"Kami bukan hanya dengar tapi kami juga lihat" kata Beni datar.


"Apa mau kalian sebenarnya" tanya bu Ulfa mulai curiga.


"Ben wes" kataku pada Beni yang hanya di balas anggukan olehnya.


"Maaf kami cuma ingin menolong ibu kalo di ijinkan" ucapku meyaqinkan beliau.

__ADS_1


Mohon saran & kritiknya ya para reader jangan lupa tinggalin jempol manisnya buat penyemangat author dalam berkarya lebih baik lagi


__ADS_2