Rumah Kost Angker

Rumah Kost Angker
Terungkap


__ADS_3

"Jian**k, maumu apa sebenernya dari kami ayo duel ae karo aku" tanya Reno yang bersiap maju dengan nada emosi.


"Ren, sabar" kataku mengingatkannya.


Tiba-tiba hawa di sekitar kami terasa dingin, seluruh bulu kuduk kami meremang.


"Dia datang" kataku pada yang lain.


'Hiiii.....Hiiii.....' tawa yang mengerikan terdengar memenuhi seluruh ruangan.


'Setelah semua yang terjadi padaku, kamu dan cecungukmu mau lepas tangan BRAMA kata makhluk yang "menyerupai" HENI tersebut.


Tanpa kami sadari jarak kami dengan komplotan Brama pun sudah semakin dekat.


'Bukankah kalian pengen bersamaku tiap malam HAH, ayo temani aku hihi....hihi....' lanjut makhluk tersebut, sementara kami semua hanya bisa menyaksikan "kejadian" di depan kami hanya mampu berdo'a tanpa bisa berbuat apa-apa.


'Kamu' tunjuk Heni pada orang yang ada di sisi kiri Brama, secara tiba-tiba tubuh orang tersebut melayang beberapa senti dari permukaan tanah..


"Bos tolong bos, gua belum mau mati bos tolongin gua bos" teriaknya meminta tolong sambil menangis meratapi nasib yang akan menimpanya sesaat lagi sambil meronta meregang nyawa.


Secara mengejutnya matanya mendelik dengan lidah menjulur seperti tengah tercekik sesuatu yang menariknya ke atas.


"Mas" bisik Ratna yang mengeratkan pegangannya ke lengan kiriku, yang hanya ku jawab dengan anggukan sambil mengelus jari tangannya untuk menenangkan.


Terdengar suara beberapa langkah kaki mendekat dari arah belakang, terlihat adik Heni, Bapaknya serta beberapa anggota kepolisian berlari mendekat, mereka pun tampak terkejut dengan apa yang terjadi di hadapan mereka.


"Teteh, lepasin teh biar hukum yang membalas mereka" teriak Elis pada kakaknya.


Sementara Heni yang mendengar hal itu menghentikan sesaat aksinya.


'Abah, Elis mereka juga harus merasakan apa yang Heni rasain' ujar Heni dengan tatapan berkaca-kaca.


"Nduk bocah ayu kami semua udah ikhlas, biar hukum negara ini yang menghukum mereka" ucap si Abah di buat setenang mungkin.


"Teh kasian ku si Ambu teh, sing ikhlas teh biar teteh tenang di sana" ucap Elis lagi.


Terlihat sorot keraguan terpancar dari mata Heni, keraguan antara dendam dan cinta keluarganya..


'Tapi eta cucunguk yang buat Heni kaya gini' ucap makhluk itu lagi dengan sorot mata yang memerah penuh dengan amarah.


"Semua yuk kita berdo'a" ajakku pada mereka semua di jawab dengan anggukan kepala.


"Braaakk" terdengar suara benda terjatuh dari atas yang cukup membuat kami semua terkejut, sebuah pasak kayu terlihat meluncur dari atas menembus bahu kiri si Bram.


"Arrggghh ampuuunn" teriak Bram di saat yang sama tiba-tiba sosok Heni pun menghilang.


"Alhamdulillah" ucap kami bersama.


...****************...


...****************...


Seluruh pasukan kepolisianpun di kerahkan untuk menyisir lokasi untuk mencari barang bukti kejahatan yang telah dilakukan oleh Bram dan kawan-kawannya.


"Praaaank" sebuah cermin pecah mengagetkan kami semua, yang berhasil membuat kami semua menengok ke arah lemari kecil yang terletak di sudut ruangan.


Dua orang anggota kepolisian mendekati lemari itu dengan berhati-hati dan waspada.

__ADS_1


"Astagfirullah, Ndan ini ada boneka pocong kecil, dua buah foto sama beberapa kembang" teriak salah seorang petugas pada komandannya.


Segera komandan polisi itu mendekati mereka berdua dan ikut mengamati temuan anak buahnya tersebut.


"Kalian bisa bantu kami" teriak komandan polisi tersebut pada kami. Aku, Reno dan Ujang segera mendekati ke arah Komandan polisi tersebut, dan ikut mengamati hasil temuan mereka.


"PELET yang gagal" gumam Reno lirih.


"Musti di ancurin Wir" sambung Ujang ku sambut dengan anggukan kepala.


"Maaf Ndan boleh kami hancurkan ini?" tanyaku pada Komandan polisi berpangka AIPDA tersebut.


"Tapi ini barang bukti dek" kata Komandan itu.


"HMMM" ku hela nafas panjangku, mencoba beefikir harus melakukan apa untuk meyaqinkan komandan polisi ini.


Tiba-tiba Elis meraung dan berteriak seperti orang kesurupan berlari ke arah petugas yang memegang alat bukti tersebut, aku segera mendekapnya, tak ada energi negatif yang terpancar apa mungkin dia sedang berpura-pura kesurupan pikirku, Elis mengerlingkan matanya padaku dan segera mendorongku, aku pun terjerembab ke belakang.


Dia segera berlari menuju ke arah petugas tersebut dan "Praank" lagi-lagi terdengar suara pecahan yang cukup keras. dan terlihat Elis terlihat lemas dan pura-pura "pingsan" kepulan asap hitam pekat terlihat dari serpihan alat-alat pelet tersebut.


"Alhamdulillah" ucapku dan Reno bersamaan.


......................


......................


Setelah membereskan semua kamipun bergegas menuju kantor polisi untuk memberikan keterangan dan rencana kembali ke ibu kota agaknya harus kami tunda beberapa hari guna proses pemeriksaan di kepolisian, sementara Elis dan Ayahnya di bawa ke Rumah Sakit untuk menjalani perawatan ringan.


"Aa bawa mobil ya kita ke kantor polisi dulu?, kasian Jawir udah lemes banget" kata Sandra.


"Iya sayang iya" kata Ujang penuh semangat.


"Gak dia tadi cuma pura-pura kok, buat bisa hancurin barang bukti yang di bawa petugas" kataku menjelaskan.


Sampai di kantor polisi kamipun memberikan keterangan satu persatu di hadapan penyidik, menjelang malam semua sudah selesai kami segera pamit undur diri pada para petugas kepolisian, mereka pun mengucapkan terima kasih pada kami semua.


"Gaes kita gak ke rumah Heni lagi nih?" tanya Beni di depan kantor polisi.


"Boleh tuh, sekalian kita pamitan" kata Ujang.


"Besok aja lah sekalian kita pamit buat balik ke Depok" kata Winda.


"Woi mangan woi luweeee" kata Reno di sambut tawa yang lain.


"Ntar aja No kita cari penginepan dulu yuk buat malem ini" jawab Sandra.


"Oke sembarang" ujar Reno.


Setelah menemukan penginapan dekat Alun-alun kami segera memesan empat kamar dengan conecting door, Ujang dan Sandra, Reno dan Winda, pasangan kutu buku Beni dan Dina sementara aku dengan Ratna kami memesan tipe twin room.


"Mas mau mandi dulu gak" tanya Ratna setelah sampai dalam kamar hanya ku jawab dengan anggukan.


"Mau mandi bareng gak?" godaku pada Ratna.


"Yeee maunya, belum saatnya buruan sana mandi ntar gantian Nana" jawabnya sambil memanyunkan bibir tipisnya.


Aku hanya tersenyum melihat kekasihku, dan segera berlalu masuk kamar mandi.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan mandi dan merebahkan diri sejenak di kasur untuk melepaskan lelah kemudian kami bersama menuju alun-alun guna mencari makan untuk mengisi perut kami yang sedari tadi minta di isi.



Setelah puas berkeliling alun-alun Cirebon dan melaksanakan sholat isya' di Masjid At Taqwa Cirebon kami kembali ke hotel untuk mengistirahatkan diri malam ini.


Sesampai di kamar telepon Ratna berbunyi.


"Mas Abi telepon" katanya padaku.


"Mau ke kamar sebelah dulu" tanyaku padanya, sambil mendekat.


"Yuk gapapa deh, mas gak ikut?" tanyanya padaku.


"Ntar nyusul mau ke kamar mandi dulu" jawabku sambil masuk kamar mandi.


"Nana duluan ya?" pamitnya padaku.


"Iya" jawabku dari dalam kamar mandi.


...****************...


"Woy bubar bubar" candaku pada Reno dan Winda, sementara Ratna masih sibuk menerima panggilan dari pak Kyai.


"Mas, Abi sama lek Fuad mau ngomong" ucap Ratna yang ada di sampingku.


"Assalamu'alaikum kyai" ucapku setelah menerima telepon dari Ratna.


"Waalaikumsalam, piye kabarmu le" tanya Kyai Anwar.


"Alhamdulillah kyai, sebaliknya pripun kyai?" tanyaku balik pada Kyai.


"Ratna udah cerita semua le, aku titip genduk karo kowe le" ucap pak kyai.


"InsyaAllah kyai pangestunipun" jawabku mantab..


"2 bulan lagi kalian pulang Jombang yo, InsyaAllah Gus Fuad mau nikah mengko kalian bantu-bantu yo" pinta kyai Zaenal pada kami.


"InsyaAllah kalo ndak ada acara kyai" ucapku pada beliau.


Setelah panjang lebar kami ngobrol termasuk sama gus Fuad, akhirnya beliau mengakhiri teleponnya, akupun segera kembali ke kamar.


"Udah mas" tanya Ratna padaku.


"Udah" jawabku singkat sambil merebahkan tubuhku ke kasur.


"Mas, Abi bilang apa?" tanya Ratna padaku, aku segera berpindah tempat ke ranjangnya.


"Pengen tau aja, apa pengen tau banget" tanyaku meledek.


"Ih mas serius dong, KEPO" ucapnya serius.


"Abi bilang pengen cucu" jawabku dengan wajah serius.


"Apaan sih mas, serius ih" ucapnya lagi.


"Ya deh iya, Abi bilang buat jagain Nana" kataku sambil mencuri cium keningnya.

__ADS_1


"Udah ah yuk tidur, love you" bisikku ke telinganya sambil beranjak berpindah ke tempat tidurku yang berhasil membuat pipinya memerah.


Mohon saran & kritiknya ya para reader jangan lupa tinggalin jempol manisnya buat penyemangat author dalam berkarya lebih baik lagi.


__ADS_2