Rumah Kost Angker

Rumah Kost Angker
Teror


__ADS_3

"Akhirnya dateng juga nih makanan" ucap Reno yang mulai keusilannya.


"Win, emang gak pusing apa punya cowok rese kaya Reno" tanya Sandra pada Winda sementara yang ditanya cuma senyum.


Kami akhirnya menikmati makan malam kami bersama, tiba-tiba 'Praank' terdengar bunyi sesuatu yang di banting dengan keras dari arah dapur.


"Jian**k, sopo iku" (siapa itu) teriak Beni terlonjak kaget, baru kali ini kami mendengar Beni si kutu buku mengumpat.


'Clap...Clap...' lampu mati dan menyala secara tiba-tiba.


"Wir" panggil Andi.


"Hmmm" jawabku menggumam.


"Wes, terusin makannya biar aku yang ngecek ke depan" ujar Reno.


"Yaqin No" tanya Ujang.


"Tenang" jawab Reno.


'Ceklek...' terdengar suara anak kunci di buka.


Reno pun membuka pintu guna melihat apa yang terjadi dengan aliran listrik di kontrakan ini, sementara kami memperhatikan dari dalam.


"Piye No" tanya Ujang lagi dari dalam.


"Aman kok" jawab Reno dari luar.


Sesaat kemudian lampu kembali menyala normal, Reno pun kembali masuk ke ruang tengah dan melanjutkan acara makan kami yang sempat tertunda kemudian para cewekpun membersihkan sisa makanan dan piring ke dapur.


Tiba-tiba Dina berteriak dari arah wastafel yang berhadapan langsung dengan jendela arah belakang, kami segera berlari ke arah Dina.


"Ada apa sih Din" tanya Sandra.

__ADS_1


"I...itu San, tadi ada cewek lagi ngintipin kita di situ deket pohon" jawab Dina dengan suara gemetaran sambil menunjuk ke arah pohon.


"Mana sih ngaco lu ah" sanggah Sandra


"Apaan sih yang?" tanya Ujang sambil memeluk bahu Sandra.


"Ini si Dina katanya ada yang ngintipin kita deket pohon itu yang" ucap Sandra menjelaskan.


Ujangpun membuka tirai penutup kaca sedikit melongok ke arah luar.



"Wir, No, Ben, Ndi" teriak Ujang yang nampak terkejut.


Kami pun segera menuju arah Ujang.


"Ono Opo Jang" tanya Reno.


"I...itu ada Heni" jelasnya terbata-bata.


"Ya Allah serius" kata Ujang lagi.


Segera kami menuju jendela tempat Ujang mengintip tadi, untuk memastikan apa yang sedang terjadi



Terlihat tali bekas gantung diri menggantung serta mengayun di salah satu dahan pohon.


"Astaghfirullah" ucap kami bersamaan.


"Piye bener kan?" ucap Ujang lagi.


Kamipun menutup Jendela dan kembali ke ruang depan.

__ADS_1


"Gaes, koyoke kita mesti balik ke kostan untuk mencari tahu ada apa sebenarnya" kata Reno pada kami semua.


"Tapi beb kenapa mesti kita" tanya Winda.


"Menurutku sih simple karena kita bisa melihat dan berkomunikasi sama mereka, dan mereka mempunyai pesan yang gak bisa di sampaikan orang lain" jawabku menimpali mereka hanya mengangguk memahami.


...----------------...


Selepas kuliah kami semua berkumpul di kantin kampus, untuk membahas langkah apa yang di ambil selanjutnya sambil menikmati makanan yang kami pesan.


"Wir, piye jadi ke kost gak?" tanya Beni.


"Jadilah Ben, udah pada kumpul belum nih" ujarku pada Beni.


"Koyoke udah Wir" jawab Andi.


Kamipun berangkat ke kost mbok Sri dengan berjalan kaki, sementara Ujang dan Sandra balik ke kontrakan lebih dulu menggunakan mobil.


Di depan kost kami tidak menemukan kejanggalan apapun, tak ada sesuatu yang mencurigakan masih ada garis polisi yang membatasi, kami memasuki kamar almarhumah untuk mencari bukti-bukti kasusnya.


'sreeeeet...' terdengar suara meja di seret, Ratna dan Winda mendekati meja tersebut ada sebuah laci kecil di situ.


"Rat.. Kamu yang buka" kata Winda.


"Kamu yakin Win" tanya Ratna, hanya di jawab anggukan oleh Winda.


Ada selembar kertas terlipat rapi di situ.


"Gays lihat ini" kata Ratna sedikit berteriak.


Kamipun melihat dan mendekat ke arah Ratna aku segera berdiri di samping Ratna.


"Mas" panggilnya sambil melihatku, sementara aku cuma mengangguk.

__ADS_1


Saat Ratna mencoba membuka surat itu, tiba-tiba..........


Mohon saran & kritiknya ya para reader jangan lupa tinggalin jempol manisnya buat penyemangat author dalam berkarya lebih baik lagi.


__ADS_2