
"Hah bu sri, sampean yaqin?", tanya indra menyelidiki. "iya bro, emang ada masalah apa?" tanyaku terkejut. Ustadz indra pun menarik nafas "jadi gini wir, sekitar 3 atau 4 tahun yang ada salah satu cewek penghuni kost mati gantung diri di balkon lantai 2 kost itu" cerita indra, "sekarang jadi penghuni pohon mangga depan kost kan?" sambungku mengagetkan semua orang "sampean udah ketemu?" tanya ustadz indra, aku mengangguk mantab "trus, kami musti ngapain?" tanyaku padanya. "doain aja mas, almarhumah dulu juga sempat kuliah di depan" sahut pak rt "ya wes ndra, kami balik kost dulu" sahutku sambil ku ajak beni yang kulihat udah membayar makanan kami berdua.
"Wir tunggu, ikut" seru ustadz indra pada kami, segera menyusul kami setelah berpamitan pada bapak² di warteg. "dah yuk jalan, aku sek kangen ngobrol sama sampean" jelas ustadz indra yang berjalan ke arah kami, "oke skuy" kata beni.
__ADS_1
Hawa dingin mulai terasa saat kami memasuki pelataran kost, "wir, kok bedo yo howone karo wingi" ( hawanya beda ama kemarin ya) kata beni, aku cuma mengangguk tanda setuju, sekilas kulirik arah balkon ada seutas tali yang mengayun di sana, kami segera memasuki langkah kami. "Ndra itu?" ucap beni, "iyo nah kuwi bocahe neng wit pelem" (iya, tuh orangnya di pohon mangga) jawabku enteng.
Kami berjalan melewati kost²an wanita, beberapa di antaranya nampak sedang bercengkrama di teras kamarnya, "mas orang baru ya?, kok di lantai atas kedengeran ramai dari kemarin" celetuk salah satu dari mereka, kamipun menjawab dengan anggukan. sampai di atas kulihat kamar andi, ujang, dan reno nampak berkumpul di kamar ujang, beni pun memberikan beberapa nasi bungkus yang kami beli dari warteg tadi, sementara dan ustadz indra berjalan ke kamarku yang tepat berada di samping balkon lantai dua.
__ADS_1
"Tolong.... hiks....hiks" jawabnya sambil menangis, "Astaghfirullah" kata teman-teman yang baru menyadari kehadiran miss K, "apa yang bisa kami bantu?" tanya ustadz indra tegas, "tolong aku" kata makhluk itu dengan mata memerah dan semakin melayang ke arah kami, aku memegang bahu indra "biar aku coba" kataku meyaqinkan ustadz indra mengangguk setuju lalu aku maju beberapa langkah ke depan sambil terus berdzikir dan melafalkan doa yang ku hafal, saat dia mendekat padaku nampak pemandangan berbeda, ya situasi yang sama di waktu yang berbeda.
Yah ini rumah kostku dan aku sedang berdiri di halamannya yang luas, ada seorang gadis berkepang dua, dengan kacamata menghias hidung mancungnya.
__ADS_1
Mohon dukungan dan masukannya ya reader, ini karya pertama, jangan lupa kasih dukungannya biar author lebih semangat dalam menulis.