Rumah Kost Angker

Rumah Kost Angker
Petunjuk


__ADS_3

Sudah hampir seminggu semenjak pak kyai pulang tak ada gangguan lagi sesuai perjanjian kami semua akhirnya pada hari sabtu sore kami berangkat dari kontrakan ke alamat yang ada di belakang foto, tepatnya di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah sekitar daerah Cirebon.


Jum'at malam kamipun bersiap yah itung-itung refreshing "sambil menyelam minum air" kalo kata anak bahasa.


"Yuk udah pada siap belum?" tanya Sandra pada kami semua.


"Wir lu di depan ya temenin si Aa" pinta Sandra padaku.


"Oke boss" sahutku segera menaiki samping Ujang.


Disusul semua menaiki mobil, di barisan tengah di isi para pujaan hati, sementara di barisan belakang di isi oleh Reno, Andi dan Dina.


"Bismillah yuk berangkat" seru Ujang.


......................


......................


Sekitar kurang lebih 2jam perjalanan kami pun memasuki kota Cirebon, hanya berbekal alamat yang belum jelas kamipun bermodal nekat datang ke sini demi 'membantu' memecahkan masalah Heni yang beberapa hari belakangan cukup mengganggu kami semua.


Ujang segera menepikan mobil di rest area untuk beristirahat sejenak.


"Istirahat dulu yuk, yang mau ke toilet juga boleh" kata Ujang


"Mas, mau di pesenin makan gak?" tanya Ratna padaku.


"Samain aja, yang pedes ya" ujarku lagi.


"Oke deh mas Ipul" jawab Ratna, sementara aku hanya tersenyum sambil berlalu menuju toilet untuk menyegarkan badanku.


Toilet yang cukup sepi di saat weekend, ku hampiri wastafel segera ku cuci muka guna menyegarkan wajah dan fikiranku namun saat aku mengangkat muka ke kaca aku melihat sosok pocong di belakangku.


"Astaghfirullah" ucapku membatin sambil mengusap wajah dan mencoba untuk berkomunikasi padanya.


Aku segera keluar toilet menuju meja teman-temanku.


"Wir, tadi ada cewek nyariin kamu tuh katanya ada perlu" ucap Ujang dan Reno bersamaan.


"Siapa mas" tanya Ratna penasaran.


"Iyo tadi udah ketemu di kamar mandi" ujarku datar.


"Hah tenan kowe dia masuk kamar mandi" tanya Andi cengar cengir.


"Sekarang mana cewek itu" tanya Andi.


"Ntar di tujuan akhir kita, dia nunggu di sana" sahutku pada Andi.


...****************...

__ADS_1


...****************...


Setelah sekitar kurang lebih 30 menit kami beristirahat kamipun memutuskan melanjutkan perjalanan ke daerah Harjamukti Cirebon, kemudian kami mencari daerah Dukuh Semar setelah beberapa kali bertanya akhirnya kami tiba di sebuah rumah yang cukup asri.


"Yaqin iki omahe Wir" tanya Reno seperti biasa.


"Insya Allah No, ga ada salahnya di coba" jawabku singkat.


'Tok...tok...' "Assalamu'alaikum pak, bu" ucapku sambil mengetuk pintu, sementara yang lain duduk di teras rumah.


"Waalaikumsalam, saha eta?" (siapa itu) terdengar jawaban dari dalam rumah.


'ceklek..ceklek' terdengar suara kunci yang di di putar dari dalam.


Terlihat seorang bapak-bapak yang berusia cukup lanjut membuka pintu namun berbadan cukup tegap, dari posturnya bisa di bilang beliau adalah pensiunan tentara.


"Nyari siapa ya nak" tanya beliau dengan logat sunda.


"Maaf pak kami teman kostnya Heni di Jakarta" jawabku sesopan mungkin, terlihat raut muka beliau sedikit terkejut dengan jawaban yang ku berikan.


"Ma...mari masuk kita bicara di dalam" pinta beliau sambil melihat sekitar rumah.


Aku memberi kode Reno, dia pun segera mengerti maksudku.


"Maaf pak saya mau ke warung dulu beli rokok" pamit Reno, sementara kami semua masuk ke dalam rumah.


Setelah kami semua masuk rumah, beliau pun memanggil Ibu dan Adik Heni dan mulai bercerita.


"Jadi apa yang pengen bapak ceritakan" tanya Sandra pada beliau.


Bapak tersebut memandang langit-langit rumahnya, kemudian menghembuskan nafas kasar.


"Kurang lebih sekitar 5tahun yang lalu ada pemuda bersama keluarganya datang kemari untuk meminang Heni sebagai istrinya, namun Heni menolak pinangan tersebut dengan alasan ingin bekerja di Ibukota pada keluarga tersebut, dan sampai saat ini pemuda itupun masih melajang karena mungkin Heni adalah cinta pertamanya" cerita bapak tersebut sambil berkaca-kaca.


"Seminggu yang lalu Elis adik Heni ini cerita kalo nak Doni, mau ke Jakarta untuk mencari Heni" lanjut bapak tersebut.


"Apa mungkin Doni menurut bapak adalah pelakunya?" tanyaku pada beliau, beliau hanya menggeleng sedih.


"Aa, teteh sebenarnya teh Heni pernah WA ke Elis kalo teteh lagi deket sama anak kota namanya kalo gak salah "BRAM" pernah juga di ajak pulang ke rumah cuma ari si bapak teh ga suka, soalnya si Bram teh genit udah gitu begajulan kaya preman teu aya sopan santun pisan" potong si Elis adik Heni.


"Sampe kejadian waktu itu teh di sini banyak anak buah Bram mondar mandir teu jelas naon maunya" ujar Elis melanjutkan ceritanya, kami hanya mengangguk sambil mencoba mengambil kesimpulan.


Akhirnya setelah mendengar cerita dari ayah dan juga adik Heni kamipun sepakat untuk pamit undur diri, Reno pun terlihat berjalan menuju mobil.


"Gimana mas?" tanya Winda yang nampak khawatir.


"Kita jalan dulu yuk kemana kek perasaan gue gak enak nih" ujar Sandra dari kursi tengah.


"Golek mangan Wir, luwe" seru Reno dari kursi belakang.

__ADS_1


Akhirnya kamipun berjalan meninggalkan kediaman Heni, mencari penginapan untuk kami singgahi malam ini untuk melepas lelah, kemudian mobil kami pun berhenti di salah satu losmen setelah menyelesaikan semua kami memasuki kamar masing-masing, aku sekamar dengan Reno, Ujang dan Beni.


Segera kami menuju lesehan di depan losmen untuk menikmati Empal Gentong salah satu makanan khas Cirebon sambil membicarakan rencana selanjutnya.


"Maaf Mas Mbak ada titipan surat" kata seseorang pelayan angkringan memberikan sepucuk surat pada Reno yang terdekat dengannya.


"TEMUI GUA DI PANTAI KEJAWANAN BESOK PAGI JAM 7.00"


"Nih kita dapet undangan surat kaleng" kata Reno menyerahkan surat itu padaku.


"San tolong hubungi polisi bilang kita bisa dapat pelakunya besok" ucapku pada Sandra di jawab anggukan olehnya.


"Mas, kamu yaqin" tanya Ratna.


"InsyaAllah" jawabku tenang.


Setelah menyelesaikan pembayaran kami segera kembali ke losmen untuk beristirahat.


...****************...


...****************...


"Gimana San udah" tanyaku pada Sandra saat kami sarapan di restaurant, kami semua duduk di satu meja besar.


"Udah beres Wir, ntar selesai makan kita sekalian Check Out" ucap Sandra menjelaskan.


"Ayo gaes ben ora buang-buang waktu" kata Reno sambil memeluk Winda.


"Yuk, Wir kowe nyetir yo" kata Ujang sambil memberikan kunci mobil padaku.


"Oke" jawabku singkat.


Tak lama kemudian kamipun sampai di Pantai Kejawanan, beberapa meter dari pintu masuk kami di "jemput" oleh dua orang pengendara motor meminta kami mengikuti mereka.


"San, live share ke petugas" pintaku ke Sandra.


"Oke Wir" jawab Sandra.


Sementara kami tetap mengikuti kedua orang bermotor tersebut, mereka nampaknya berhenti di bangunan bekas warung yang lama tak terpakai.


"Turun kalian" perintah salah seorang dari mereka.


Kami segera memasuki bangunan yang nampak terbengkalai itu, nampak sepi namun di depan sana nampak seluet seseorang dengan setelan rapi sedang duduk dengan kepulan asap rokoknya. Mereka berdua tampak mendekatinya dan membisikan sesuatu.


"Selamat Datang, apa yang kalian mau?" tanyanya sambil berteriak angkuh dengan logat sundanya.


"Kami hanya mau almarhumah tenang" balasku sambil berteriak.


"Dia udah tenang dengan 'Jalan' pilihannya sendiri, kalian orang kota lebih baik balik ke kota dan lupakan semua lagian aing udah minta dan ngomong baik-baik tapi dia nolak bos" Jelasnya masih berteriak.

__ADS_1


"Maaf tapi almarhumah sama sekali gak tenang, dia merasa berdosa pada keluarganya" ujarku menjelaskan sambil ku beri kode pada Ratna untuk merekam semuanya.


Mohon saran & kritiknya ya para reader jangan lupa tinggalin jempol manisnya buat penyemangat author dalam berkarya lebih baik lagi.


__ADS_2