Rumah Kost Angker

Rumah Kost Angker
Villa Cemara 3


__ADS_3

Kami bertiga saling memandang satu sama lain, terlihat beberapa pekerja melewati lebih tepatnya "menembus" badan kami bertiga.


"Piye iki wir?" tanya reno yang masih mengamati sekitar


"Delok disek ae" (lihat dulu aja) kataku pada mereka, karena saat ini kami benar-benar tidak mengetahui apa tujuan kami ada di tempat ini hamparan luas kebun teh dengan di penuhi para pekerja yang mayoritas perempuan ini.


"Selamat datang Meneer, saya rasa panen kita kali ini akan melimpah" sapa seseorang di belakang kami membuat kami menengok ke belakang, ya beberapa orang belanda yang salah satunya sempat kami lihat sempat ribut di villa, kemudian mereka mendatangi salah seorang pekerja ya itu wanita dalam foto yang sempat di ributkan di villa tadi.


"Wir itu kan?" kata beni segera ku jawab dengan anggukan, tiba-tiba tubuh kami bertiga berada di dalam ruangan tidur yang cukup luas dengan penerangan yang minim sekali.


"Habisi saja cewek itu, sikap jujurnya bisa mengancam kita semua" terdengar percakapan dari depan ruangan kamar, tiba-tiba pintu kamar terbuka terlihat beberapa pria bertubuh gempal memasuki kamar.


Lagi dan lagi tubuh kami bertiga tertarik tepatnya di kebun belakang villa,


"Udah beres tugas dari "tuan" ucap seorang pria di jawab anggukan yang lain.


" yang penting jangan sampai ada yang ngomong sama meneer belande itu" kata salah seorang yang mungkin pimpinan mereka. saat kami merasa kebingungan dengan semua yang terjadi tiba - tiba tubuh kami tertarik lagi yah kami telah kembali ke villa ini.


"Wir, opo kuwi mau? (apa tadi?) tanya beni.


"Wes nanti aja di bahas sekarang kita balik ke bawah dulu, sakno yang lain udah nunggu" kataku di sambut dengan anggukan oleh yang lain.


Kami segera menuruni tangga di bawah ternyata mereka udah menunggu.


"Gimana mas?" tanya Ratna padaku.


"Ayo, kita balik ke belakang lagi" ucapku sambil menggandeng tangan ratna.


Kami berkumpul mengelilingi api unggun.


"Mang dodo maaf, apa di belakang bangunan villa ini ada pohon mangga" kataku memanggilnya, dan langsung bertanya padanya.


"Iya den, ada den tapi gimana aden bisa tau kan aden baru pertama kesini" jawabnya padaku.


"Anu mang tadi Sandra cerita kalo di belakang villa ada kebun mangga yang buahnya enak" jawabku menghindari kecurigaannya.


Sandra yang mendengar itu langsung melotot ke arahku, segera ku kedipkan mata padanya sebagai tanda.


"Yo wes istirahat yuk, wes bengi" kata Beni yang dari tadi masih berkutat dengan bukunya.


" Yok, yok tidur ngantuk nih" seru yang lain sambil mulai masuk ke dalam villa.


...----------------...


...----------------...


Pagi pun tiba kami pun bersiap sarapan dengan menu ala Sunda yang sudah di siapkan oleh mang Dodo dan kedua anaknya, kami makan dengan lahapnya.


"Jawir, lu serius mau lihat kebun mangga belakang villa?, tapi kan gua gak pernah ngomong sama lu kalo ada kebun mangga di belakang" tanya sandra panjang × lebar.


'Uhuk', aku sempat tersedak mendengar pertanyaan dari Sandra yang tiba-tiba itu.

__ADS_1


"Ngombe sek wir, ngunu ae keselek" (minum dulu, gitu aja kesedak) ujar reno yang mulai ke isengannya.


"Nih mas kopinya" ujar Ratna yang muncul dari dapur bareng Dina.


"Cie kok cuma yayang jawir yang di bikinin kopi" ucap Reno semakin menggoda kami, Ratna yang mendengar itu langsung merah pipinya.


"Anu...punya kalian dibawain Dina tuh" ucapnya malu.


"Nih kopi sama air jahe buat kalian biar anget" ujar dina.


"Udah sih kalian jadian aja, nunggu apalagi wir ntar keburu ratna di samber orang lho" sambung Reno.


"Ntar NANGESSS" celetuk Winda dan Sandra di sambut tawa yang lain.


"Yuk kita ke belakang villa, selesaiin ini semua baru nanti sore kita balik ke kost" terang Beni.


"Woke wes ayo berangkat" ajakku pada yang lain.


Kami segera keluar dari villa menuju perkebunan belakang di dampingi mang dodo dengan putranya berjalan mendampingi kami.


"Maaf neng den, kalo mamang boleh tau emangnya kok tiba-tiba den ipul pengen ke kebun mangga" tanya mang dodo.


"Biasa mang saya suka mangga, makanya waktu Sandra bilang ada kebun mangga jadi pengen nyobain sebelum balik" jawabku sekenanya. yang hanya di tanggapi oleh anggukan oleh mang dodo.


Saat kami sampai di perkebunan tiba - tiba angin berhembus sangat kencang seakan memberi sambutan pada kami semua, mang dodo terlihat ketakutan.


"Kenapa mang?" tanyaku pada beliau sedikit berteriak karena anginnya sangat kencang.


"Emang ada yang mamang sembunyiin dari kita?" tanyaku mulai menyelidiki.


"Gak ada den" jawabnya singkat, namun menyiratkan suatu rahasia di dalamnya.


Kamipun berlindung di salah satu pohon mangga yang paling besar diantara yang lain, secara tiba-tiba anginpun berhenti berhembus.


"Alhamdulillah" ucap kami bersama.


Sejenak kami memperhatikan keadaan sekitar, sepi, sunyi, gelap yah ada kegelapan menyelimuti daerah ini.


"Wat wil je?"(mau apa kalian?) tiba-tiba saja terdengar suara wanita dengan bahasa belanda dengan nada marah.


"semuanya baca do'a dalam hati, minta perlindunganNya dan ingat jangan berpencar" perintahku pada semua.


"Maaf kami ga ada niat jahat kami hanya ingin membantu anda, semua sudah selesai" ucapku pelan mencoba berkomunikasi dengannya.


"Ik heb je hulp niet nodig, laat me gewoon hier" (aku tak butuh bantuan kalian, biarkan aku di sini) katanya lagi.


"Maaf tapi tempat anda bukan di sini lagi" kataku lagi.


"Dit is mijn huis"( ini rumahku) katanya tegas.


Lagi-lagi angin berhembus dengan kencangnya, awan mendung semakin pekat menyelimuti area perkebunan ini, berbeda 180° dengan daerah di sekitarnya yang terang benderang

__ADS_1


"Nyonya, urusan dendam anda sudah selesai, sudah saatnya anda pergi ke tempat selanjutnya" kataku lagi masih mencoba bermegosiasi dengan sosok wanita belanda tersebut.


"Bukankah semua yang menyakiti anda sudah gak ada lagi" ucapku lagi.


"Dit is mijn huis, gooi me hier niet weg" (ini rumahku, jangan usir aku dari sini) ucapnya lagi.


"Nyonya, bukannya anda ingin bertemu dan berbahagia dengan keluarga anda di Surganya" kataku lagi.


"hiks...hiks.." tiba-tiba saja terdengar suara tangisan yang memilukan.


"Biarkan kami mendo'akan anda, biarkan do'a kami mengantar anda bertemu dengan keluarga anda" kataku lagi.


Kulihat semua teman-temanku sedang fokus dengan do'anya masing-masing.


"hiks...hiks...hiks..." masih suara tangis yang terdengar memilukan itu.


Segera aku memfokuskan diri berdo'a pada Allah, di bantu oleh semua sahabatku.


"Prima, ik ga goed voor dit huis zorgen" (baik, aku pergi jaga rumah ini baik-baik) kata sosok itu lagi, hanya ku balas dengan senyum dan anggukan.


"bedankt"(terima kasih) ucapnya lagi, seiring hilangnya awan mendung dan angin yang ada di sekitar kami.


"ALHAMDULILLAH" ucapku sambil mengucap wajahku.


"Aamiin" ucap teman-temanku serempak.


"Mang dodo tolong besok atau lusa siapkan batu nisan dengan nama "ELIZABETH VAN MOORE", kataku pada mang Dodo.


"Iiyaaa den" kata mang dodo yang sedikit terkejut saat menyebut nama tersebut.


"Insya Allah ga akan ada lagi gangguan di sini ke depannya" ujarku lagi.


"Mas, minum dulu capekkan?" kata Ratna sambil memberiku sebotol air mineral.


"Eh, iya makasih" kataku tergagap.


"Dasar Jawir karo demit wani karo cewek grogi" ujar Reno mulai iseng.


Setelah kami mengambil sekeranjang buah mangga kamipun kembali ke villa, saat kembali ke villa mang Dodo dan putranya mendekatiku.


"Den...Hatur nuhun"(terima kasih) kata mang Dodo.


"Sama-sama mang" ucapku menimpalinya.


"O iya jangan lupa pesan saya tadi mang" sambungku lagi.


"Siap komandan" canda mang Dodo sambil mengambil sikap hormat, di sambut tawa semua orang.


Kami segera masuk dan duduk di lantai ruang utama villa, sementara mang Dodo di bantu kedua anaknya mengupas mangga dan membuat minuman di dapur.


Mohon saran & kritiknya ya para reader jangan lupa tinggalin jempol manisnya buat penyemangat author dalam berkarya lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2