Sampai Disini Cinta

Sampai Disini Cinta
Ruangan Kerja Hans


__ADS_3

Hans pun kini sudah ada di hadapan Nina, menarik dagu Nina hingga hingga ke dua mata mereka saling beradu, sungguh Nina menyerah dengan keadaan ini, tak lama.... zeeep... tangan Hans satunya lagi sudah memeluk pinggang ramping Nina, hingga kedua tangan Nina berada tepat di dada bidang Hans...


Pacuan jantung itu pun sudah tak terelakkan lagi dan ketika mata itu pun beradu, tangan yang tadinya memegang dagu, kini sudah menyatu dengan tangan yang ada di pinggang Karenina, hingga pelukan itu pun terasa erat.


"Maaf, hanya dengan cara ini Om bisa dekat denganmu, Om tidak tau lagi bagaimana cara mendekatimu, tak mungkin rasanya kalau om secara terang-terangan mengatakan pada Laura (mama Nina) dan Prasetyo kalau Om menyukaimu sedang om belum yakin pada perasaan mu pada Om" dengan suara baritonnya yang lembut mencoba menahan gejolak yang ia pendam selama berbulan-bulan.


Hari ini perempuan yang dicintainya sudah ada di hadapannya, bahkan setiap hari dia akan selalu ada untuknya, sengaja Hans menawarkan lowongan aspri pada Prasetyo ketika ia tahu Karenina akan langsung turun lapangan setelah kelulusannya, dengan alasan aspri nya sudah menikah jadi urusan kantor tak bisa sepenuhnya di pegang, apalagi untuk urusan bisnis luar kota.

__ADS_1


Masih beradu pandang, dan Nina benar-benar terpaku pada mata hitam itu, terlihat jelas cinta disana, namun Nina sadar, ia tak bisa.


"Maaf Pak, tak seharusnya nya seperti ini..."


Belum selesai Nina berkata, Hans dengan cepat mencium lembut bibir Nina, perlahan.... lembut... perlahan... lembut... dan makin dalam hingga akhirnya tangan Nina merangkul leher Hans, menikmati ciuman itu yang makin menghangat, Ciuman yang sudah di tahan Hans, hingga akhirnya Hans melepasnya di kala Nina yang sudah nampak kehabisan oksigen. Tangan Hans mendarat di pipi Nina, membelai dengan lembut, dan menyatukan dahi mereka berdua dengan nafas yang masih tidak beraturan Hans berkata "Nina ku mohon, jangan ada kata penolakan, mau kah kau menjalani ini dulu? aku sungguh-sungguh dengan mu dan ingin memiliki, bagaimana pun cara nya, maaf Nina ku mohon"


Ku mohon juga, jangan kau siksa perasaan ku ini, karena ku sadar ini salah, kau sudah beristri dan mempunyai anak, ku tak mampu menjadi duri di rumah tangga kalian

__ADS_1


"Ku mohon Nina, jangan seperti ini" sambil menambah pelukan eratnya dan menyandarkan kepala Nina di dadanya "Nina, jujurlah, kalau kau tak suka, dari awal ku memeluk mu, sudah pasti kau menolak. Tapi ini, kau tak pernah menolak ku. Kau secara pasrah seakan menyerahkan dirimu. Nina, kau tau, cara pandang mu, sikap mu, membuat ku tak bisa berhenti memikirkan mu, sekarang pun kau tak bisa menolak ku, apa yang kau ragukan pada ku?"


Akhirnya Nina membangun kekuatan pada dirinya, menghembuskan nafasnya dan mulai berkata "Istri om... sadarlah om, ini salah.... Om sudah beristri.... harusnya om mencintai istri om bukan Nina" ucap Nina terbata-bata di sela-sela isak tangisnya.


"Aku tak mencintai istriku. Aku hanya mencintaimu, dan kini ku ingin memiliki, utuh" tegas nya tak terbantahkan sambil melonggarkan diperlukannya dan mencengkram erat bahu Nina, hingga tatapan mata Hans yang menghunus tajam tak terelakkan.


****

__ADS_1


Terima kasih Kaka dah baca karya saya.


Mohon vote, like, comment, dan bintang 5 nya ya :-):-):-)


__ADS_2