
Pesawat kami mendarat dengan mulus di Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Balikpapan. Ku pijaki satu persatu anak tangga pesawat dengan hati berdebar, Hans tak melepaskan genggaman tangannya padaku seakan menguatkan ku, dan semua kan baik-baik saja, seperti yang di katakan Hans.
Setelah melewati pintu kedatangan, Nina melihat Papa dan Mama nya berdiri melambaikan tangan seakan memberi kode mereka disana, Nina pun menghampiri dan memeluk kedua orang tuanya.
"Kenapa jemput?" tanya Nina, yang jujur sangat terkejut dengan acara penjemputan ini.
"Tak apa, hanya kebetulan saja tadi anter kolega Papa, jadi sekalian aja tunggu kamu" jawab Papa.
"Mana Hans? bukannya kamu pergi dengannya?" ujar Mama menimpali
"Ech iya... Nina kira tadi dia di belakang Nina" Nina pun mencari keberadaan Hans dengan melihat kesekelilingnya.
Tak lama yang di cari muncul juga, tapi sungguh menyesakkan wait... kenapa ada tante Ida, apa dia menjemput Hans juga..
"Hai Laura" ujar Ida sambil memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan mama Nina
"Hai Da, jemput Hans?" ujar mama
__ADS_1
"Tidak juga, ku sebenarnya jemput anak sulung ku, dia akan mampir liburan sebentar sebelum perkuliahan nya dimulai, kebetulan saja berdekatan dengan kepulangan Hans. Hai Nina, apa kabar mu? apa suamiku merepotkan mu?" tanya Ida sambil memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri ku
Nina tak sanggup menjawab, dia hanya membalas nya dengan senyum.
Sungguh kikuk dan memalukan bagi Nina. Ntahlah, sepertinya ini sudah di rencanakan, karena baginya tak ada sesuatu yang kebetulan.
"Bagaimana kalau kita makan malam bersama di resto sana, sambil menunggu kedatangan anakku" ajak Ida pada kami
Mama, Papa dan Nina seakan saling berpandangan, Nina pun memberi kode kalau bisa jangan, sungguh Nina tak ingin berdekatan dengan Tante Ida, sejuta rasa bersalah seakan menghampiri dan menusuk-nusuk jantungnya.
"Ayo lah... kapan lagi kita makan bersama" ujar Ida sedikit memaksa.
"Ayo Nina, tante ingin kau sekalian kenalan dengan anak tante, kau pasti menyukainya, anak tante selain ganteng juga baik" ucap tante Ida sepanjang jalan menuju resto.
Tak ada penolakan dari orang tua Nina, mereka mengekori Ida dan Nina menuju Resto. Hans pun hanya bisa ikut serta dalam permainan yang diciptakan Ida.
Mereka pun sampai di resto, dan memesan masing-masing memesan makanan. Selagi menunggu makanan datang mereka pun saling bercengkrama khas orang tua yang diam-diam seakan ingin menjodohkan anak mereka. Sebenarnya ada apa ini? monolog Nina dalam hati.
"Pras, Laura, kamu tak keberatan kan kalau ku mengenalkan putra ku pada Nina" ujar Ida membuka obrolan
__ADS_1
"Tak apa, hanya perkenalan ini, dan selama Nina tak keberatan, bagaimana Nina bukan begitu?" jawab Papa sambil melirik ke arah Nina
"Ecch... iya Pah, ga papa..." jawab Nina singkat
"Ku kira putra mu cuma Wikky saja, ternyata ada yang besar nya lagi" ujar Laura menimpali
"Putraku satu itu lebih suka nemanin Oma nya di Surabaya, kasian kata Oma sendirian, makanya dia bersekolah disana, sewaktu liburan saja atau dia lagi ingin ke Balikpapan, baru dia pulang" jelas Ida pada kami.
Nina, Papa dan Mamanya hanya menggangguk mengiyakan.
Tak lama makanan yang kami pesan datang. Kami pun menyantap makanan dengan khidmat tanpa ada suara, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Namun suara yang tak asing di telinga Nina pun mengagetkannya.
"Hai Ma, Pa... I'm coming" ujar nya sambil memeluk Ida dan Hans bergantian.
Nina yang sedang makan menghentikan makannya dan memandang ke arah depan dimana dia terpaku pada sosok pria di depannya.
"Karenina" ucap nya yang sedikit terkejut melihat keberadaan Nina disana.
"Alex" ucap Nina tak kalah terkejutnya.
__ADS_1