
Pagi menjelang siang waktu Tokyo kami disini, di Chidorigafuchi yang berada di sisi barat laut istana kaisar yang merupakan tempat Hanami paling populer. Di sini terdapat sekitar 200 pohon Sakura yang mekar.
Nina dan Hans tak ingin melewatkan momen melihat bunga sakura ini dengan mengambil foto bunga Sakura dengan latar belakang dinding batu Kastil Edo, sekarang Imperial Palace. Di Taman Chidorigafuchi yang terletak di antara Chidorigafusi sisi barat Imperial Palace dan Kedutaan Besar Inggris pun terdapat sekitar 170 pohon Sakura.
Hans dan Nina pun berjalan keliling kastil dan menikmati indah nya bunga sakura, terlihat walau kaku Nina merangkul lengan Hans sebelah kiri dan berjalan beriringan.
"Terima kasih Om" hanya kata itu yang mampu Nina ucapkan dan seualas senyum yang terpancar di wajah Nina.
"Kita nikmati hari ini, besok kita sudah kembali ke tanah air"
"Begitukah" ada sedikit rasa kecewa, sedih, dan ntah apa lagi yang berkecamuk di dada Nina, karena ia seakan belum ingin mengakhiri kebersamaan nya dengan Hans.
Nina pun menghentikan langkahnya. Hans pun yang selangkah di depan menghentikan langkah nya dan membalikkan tubuhnya menghampiri Nina.
"Kenapa?" tanya Hans mendekati Nina seraya merangkul pinggul Nina dan menempelkan dahi nya ke dahi Nina
__ADS_1
Nina pun menghela nafasnya dan berkata "sesampainya di Indonesia, Nina disuruh Papa berhenti jadi sekretaris Om untuk fokus kuliah, dan Papah juga sudah mengubah jadwal kuliah Nina, menjadi kelas reguler, kelas mahasiswa murni, Nina ga tau alasan Papa, hanya saja tadi pagi Papa cuma bilang begitu, apakah Om tau akan hal ini?" sebulir air mata mulai menetes di pipi Nina
"Tidak, aku tidak tau akan hal ini" ucap Hans yang bingung dengan keadaan ini.
"Ayo kita duduk dulu" Hans pun menggiring Nina untuk duduk di kursi taman yang tak jauh dari mereka berdiri.
"Sewaktu kau menerima telpon tadi, ku juga mendapat telpon dari mama mu, tapi Laura hanya menanyakan kabar dan jadwal kepulangan kita. Aku, mama dan papa mu baik-baik saja, bisnis kami lancar, tak ada masalah, tak ada yang harus kau khawtirkan Nina" ucapkan Hans seraya menenangkan.
"Entahlah Om. Nina hanya takut". Dengan wajah tertunduk sedih, tak ada isak tangin hanya buliran air mata yang menetes perlahan.
"Semudah itu kah?" tanya Nina meragu
"Kan ku permudah..."
"Tapi.... "
"Apa lagi?"
__ADS_1
"Aku merasa sangat kejam pada Tante Ida dan anak-anak om, bukankah dengan ini predikat pelakor akan ada padaku? bagaimana kalau Tante Ida tau penyebab perceraian kalian adalah diriku?"
Hans pun tertawa mendengar drama dari Nina.
"Tak akan ada yang menyalahkan mu, buang jauh-jauh pikiran itu, hubungan ku dengan Ida hanya terlihat baik di luar, tapi bobrok di dalamnya"
"Kenapa tidak di perbaiki, berusaha demi anak-anak kalian, sungguh aku takut, sebelum hubungan ini terlalu jauh, lebih baik kita seperti biasa saja, lagi pula setelah kepulangan nanti kita akan jarang bertemu, hubungan ini salah, sangat salah"
Nina masih berusaha bermain dengan logika nya, ia sungguh tak mau menyakiti Tante Ida yang di kenalnya sangat baik dan penyayang itu, Nina harus meredam cinta nya, karena pasti akan sakit jika harus berbagi.
"Tolong Nina jangan begini, tolong beri aku kesempatan, kita coba jalani ini"
Hans tak ingin ada penolakan lagi, ego menguasai dirinya.
"Ayo pulang, jangan membahas ini lagi, apapun yang terjadi, tetaplah menjadi wanita ku, hanya kau yang ku cintai.
Hans pun merengkuh Nina, mengajaknya kembali ke hotel, cukup acara jalan-jalan hari ini, esok perjalanan panjang akan mereka jalani.
__ADS_1