
Dalam kejengahannya, Ida menggila, ya dia gila karena Hans, Ida ingin lebih dari sekedar status, walau kenyataan nya Hans tidak pernah tertarik dengan nya, Ida pun pernah menggodanya, yang ada malah Hans keluar rumah, dan tidur di hotel, selalu begitu. Hans seperti tidak ingin terikat lebih dalam, bahkan dalam hal berhubungan sex.
Tapi kali ini Ida mencoba dengan lain. Ya tepat pada saat itu. Ketika Hans pulang dalam keadaan setengah mabok, ntah kenapa juga dia pulang ke rumah hari itu, biasa nya Hans tidak pernah pulang dalam keadaan seperti itu. Tapi Hans tidak ke kamar mereka, Hans menuju kamar nya dulu bersama Radinka, Ida yang melihat itu mengikuti dari belakang, Ida melihat Hans yang meracau, menangis, dan seakan menenggelamkan kerinduannya dalam mabuk nya pada lukisan Dirinya dan Radinka di dinding kamar.
Ida pun berfikir... sekarang lah saat nya... Ida pun memulai aksinya menanggapi setiap ocehan Hans seakan akan dia adalah Radinka kakaknya, Hans pun luluh, seakan mempercayai yang di hadapannya adalah Radinka, sekilas memang Ida dan Radinka mirip secara fisik, namun jelas secara kontras sifat mereka berlawanan, Radinka sosok yang penuh kelembutan, sedangkan Ida selebor dan sesuka hatinya.
__ADS_1
Akhirnya Hans benar-benar luluh terhadap Ida, seakan-akan ia melepas hasrat selama 6th kepergian Radinka kepada Ida. Permainan dan pergulatan panas yang mereka lakukan begitu memuaskan hasrat kedua nya, walau ada rasa sakit di dada Ida setiap desahan Hans yang menyebutnya Radinka.
Semenjak kejadian itu Hans tambah membuat jarak dengan Ida, seakan tak ingin mengulangi kesalahannya, karena ntah mengapa ia merasa menghinati Radinka, walau sosoknya sudah tidak ada. Namun seperti nya Ida yang udah tau kelemahannya ketika dalam pengaruh alkohol dan sabu, Ida selalu mengambil kesempatan itu, dan Hans di pastikan tidak bisa menolak.
Bulan berganti tahun, Hans tetap sama, tak pernah berubah, walau kini sudah ada anak ke dua mereka wicky, namun Hans tetap saja dingin, ia hanya menjalankan kewajibannya sebagai suami yang setia mendampingi istrinya, dan ayah yang baik bagi anak-anaknya, tapi kehangatan akan urusan ranjang, itu tidak akan pernah ada. Begitu pula dengan cinta, tak pernah sedikit pun ia lihat cinta di mata Hans untuk dirinya.
__ADS_1
Kini Ida berfikir, apakah ia harus menyerah? padahal ia sudah berupaya sekuat tenaga untuk bertahan, dan merendahkan dirinya bahkan menurut nya gila hingga harus merayu Hans dalam keadaan setengah sadar nya, walau wajar karena dia istrinya, namun tetap saja, Hans tidak pernah memberikan hatinya untuk nya.
Apakah aku harus lebih gila dari ini lagi Hans? sesulit itukah kau untuk memenangkan hatimu? Apa kurang ku? Apa hebat nya gadis kecil itu? mengapa bukan aku yang kau cintai?
Batin Ida lirih, sambil berjalan menuju ranjang mereka, dimana Hans sudah duluan merajut mimpinya. Hanya sebatas tidur satu ranjang, tak kan pernah lebih, bahkan untuk saling memelukpun tidak pernah terjadi.
__ADS_1
Hans.... aku mencintaimu... ku harap ada secuil cinta untuk ku... ku harus bertahan.... agar ku dapat memenangkan hatimu...
Lirih tak terdengar saat Ida menatap Hans yang sudah tertidur pulas. Ida harus cukup puas hanya dengan memandang Hans dengan posisi tidur miring menghadap Hans.