
Sepanjang perjalanan pulang, tak ada yang di bicarakan oleh kedua suami istri tersebut.
Hening, tampak indah di luar namun rapuh di dalam.
Begitulah hubungan suami istri ini, memang terlihat romatis, kompak, dan serasi. Tapi itu hanya sekedar cover permainan peran suami istri yang meraka perankan dengan apik agar terlihat baik-baik saja.
Akhirnya mobil BMW biru metalik itu sampai di pelataran parkir rumah yang di dominasi dengan warna hitam dan merah, nampak garang namun mewah.
Setelah membersihkan badan, Hans mulai merebahkan dirinya di atas tempat tidur berukuran king itu, luas, namun hampa.
"Hans...." panggil Ida sembari duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidur. "kau sudah mau tidur?"
__ADS_1
Hans pun bangun, dan menyenderkan punggungnya di ranjang beralaskan bantal "ada apa?" seraya mengambil posisi duduk yang nyaman
"Kau serius dengan anak kecil itu?"
"oh, ayolah... Kau tidak harus membahas ini sekarang kan?!!?"
"Aku melihatnya Hans, bagaimana kau melihatnya, memandangnya, memeluknya, dan terakhir, kau mengecupnya" dengan suara yang agak di tekan.
"Hans, ku tau kau selalu terpaksa dengan ku, ku tau tak pernah sedikitpun ada cinta di hati mu untuk ku, namun kau selalu ada untuk ku, tapi bisakah cinta itu untuk sekarang. Ayolah Hans, kita sudah tua, bukan nya kita harusnya menikmati masa tua kita ini untuk selalu bersama? anak itu lebih cocok dengan Alex, dia seumur dengan anak kita?"
"Itu urusan ku Da, kau tak perlu repot-repot mengaturnya, bukan kah cukup ku ada di sisimu, bukan begitu?"
__ADS_1
"Hans!!!!!! harus nya perkara ini kita selesaikan dari dulu, hingga kau bisa membuka hatimu untuk ku.... Kau milik ku Hans, Milik ku.!!!!! Tak kan pernah ku biarkan anak kecil itu memilikimu!!!"
"Ya, aku milik mu, hanya milikmu, aku tidak akan kemana-mana, sesuai janjiku, bukankah aku tidak akan kemana-mana" jawab Hans lirih sambil membenamkan dirinya di ranjang kesangannya "sudah, tidurlah, aku tak akan kemana-mana" lanjut Hans sembari menutup matanya.
Ida pun terdiam, ia tahu Hans hanya menghindarinya, tidak ingin membahas sesuatu yang menyangkut pribadinya, apalagi perasaan nya. Namun Ida tak tahan dengan gejolak cemburu yang ada, apa lagi rasa takut kehilangan yang mulai mengusiknya. Ia tahu benar hari itu akan tiba, dimana Hans akan benar-benar meninggalkannya.
Tatapan Hans tadi pada gadis itu, adalah tatapan ingin memiliki, pelukan itu, begitu hangat, Hans bahkan selama menikah tak pernah memeluknya seperti itu, dan kecupan itu sungguh membuat Ida yakin, Hans akan segera pergi darinya.
Hans sebenarnya tak pernah menyentuhnya secara sadar. Hans menyentuhnya terkadang karena mabuk, atau dalam keadaan fly setelah nyabu.
Ya, Hans adalah pengguna, pengedar, sekaligus bandar sabu terkemuka, di balik bisnisnya property, hotel, dan beberapa club yang tersebar di daerah-daerah dan kota besar yang di kelolanya, ia adalah mafia sabu yang berpengaruh dan sudah menjadi incaran aparat hukum, tapi selalu saja para penegak hukum kesulitan menggapainya. Ntah karena Hans yang terlalu licik dan pintar memanipulasi keadaan, atau memang orang-orang yang di bawahnya yang begitu loyal hingga dapat melindungi nya, belum lagi aparat hukum yang dengan mudahnya di peralat oleh Hans.
__ADS_1