Sang Pewaris Ilmu

Sang Pewaris Ilmu
Kamar angker


__ADS_3

Sesampainya di kota Yoga mulai mencari-cari kos-kosan murah.


Tanpa tujuan dirinya harus ke mana dan harus tinggal di mana, Yoga terus berjalan mencari tempat tinggal yang murah untuk dia tetap bertahan di ibu kota.


Namun setelah berjalan cukup jauh Yoga masih belum mendapatkannya.


Yoga yang mulai merasa lapar pun masuk ke warteg.


“Pesan apa Nak?” tanya ibu penjual


“Nasi campur satu Bu,” ucap Yoga memesan makanannya. 


“Iya Nak, dari mana Nak ibu lihat bukan orang sini,” kata ibu penjual.


“Iya Bu, saya dari desa dan baru sekali ini menginjakkan ibu kota mencoba mencari ke peruntungan di sini,” sahut Yoga.


“Pantas saja, di ibu kota sendiri agak susah Nak, jika tidak punya kerabat, oh iya ini pesanannya.”


“Terima kasih Bu,” kata Yoga.


Yoga pun mulai menikmati makanannya sembari berbincang bincang dengan ibu pemilik warteg itu.


“Oh iya Bu, ibu tahu tidak di sini di mana tempat kos-kosan yang murah?” tanya Yoga.


“Oh ada Nak, nanti lurus saja dari warteg ibu ini setelah itu ada gang kecil masuk saja ke dalam gang tersebut nanti di sana ada tulisan kos-kosan putra. Pemiliknya bernama ibu dewi tanya saja kepada ibu dewi, karena setiap kamar itu harganya berbeda Nak,” kata ibu pemilik warteg itu menjelaskan kepada Yoga.


“Terima kasih ya bu,” sahut Yoga sembari menikmati makanannya.


“Sama-sama Nak.”


Setelah selesai makan dan membayar Yoga pergi ke tempat kosan yang di berita tahu ibu tadi.


Yoga terus berjalan sampai dirinya melihat gang kecil yang di beritahukan oleh ibu pemilik warteg tadi.


‘Ini mungkin gangnya yang di beritahukan ibu tadi,' gumam Yoga.


Setelah itu Yoga masuk ke dalam gang tersebut dan mencari rumah yang bertulisan terima kos-kosan.


Yoga terus berjalan dan menyelusuri gang tersebut hingga ujung gang barulah Yoga melihat rumah besar dengan di depan ada sebuah papan yang bertulisan terima kos-kosan putra.


Yoga masuk ke dalam rumah besar tersebut.


Terlihat di teras rumah ada seorang ibu-ibu sedang duduk sembari bermain ponselnya.


“Permisi Bu?” ucap Yoga.


“Iya ada apa Mas?” tanya Ibu itu.


“Apa benar ini rumah ibu dewi pemilik kosan putra?” tanya Yoga.


“Iya saya sendiri ada apa Mas? Apa Mas mau ngekos?” tanya bu Dewi.

__ADS_1


“Iya Bu saya mau ngekos di sini tapi saya belum kerja kalau bisa cari kosan yang paling murah.”


“Ada kalau Mas mau?” 


“Wah apa benar Bu, oh iya panggil Yoga saja Bu” ucap Yoga yang sangat senang.


“Ada di kamar paling ujung, sebulan hanya 200 saja dan kamar itu sudah lama tidak di tempati,” ujar bu Dewi.


“Iya Bu tidak apa-apa yang penting Yoga punya tempat tinggal untuk tidur dan mencari pekerjaan di sini.”


“Tunggu sebentar ibu ambilkan kuncinya terlebih dahulu,” bu Dewa yang masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Yoga di teras luar.


Selang beberapa menit bu Dewi pun kembali menghampiri Yoga.


“Ayo ikut ibu,” ujar bu Dewi.


Bu Dewi pun berjalan di pinggir rumahnya dan masuk ke dalam rumahnya rumah ibu dewi yang sangat besar di sekat di depan rumah pribadinya dan di belakang di jadikan kosan putra.


Setelah masuk ke dalam rumah terdapat banyak kamar yang berjejer di sana bu Dewi membawa Yoga ke kamar paling ujung.


Bu dewi membukakan pintu kamar tersebut.


“kamarnya seperti ini apa Yoga mau, sudah lama memang tidak ada satu orang pun yang mau membersihkan kamar ini,” ucap bu Dewi.


Yoga melihat isi kamar paling ujung dan dirinya tidak mempermasalahkannya.


“Tidak apa-apa bu, nanti Yoga bisa membersihkan sendiri, oh iya Bu ini Yoga bayar satu tahun dulu ya bu,” kata Yoga mengambil uang di dalam tas ranselnya lalu menyerahkan kepada bu Dewi.


“Ibu Bu,” kata Yoga.


“Ya sudah ibu tinggal dahulu ya,”  kata bu Dewi meninggalkan Yoga.


Yoga mulai masuk ke dalam kamar kosannya di sana juga terdapat kamar yang berukuran kecil.


Yoga mulai membersihkan kamar kosnya, dari menyapu mengepel serta membersihkan kamar mandinya.


Hingga 1 jam telah berlalu akhirnya kamar Yoga telah rapi.


“Akhirnya selesai juga, aku ingin beristirahat sejenak,” ucap Yoga yang merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya.


Di saat Yoga sedang menatap langit-langit kamarnya ada sekelebat bayangan hitam yang lewat dan masuk ke dalam kamar mandi.


Pintu kamar mandi yang tadinya terbuka tiba-tiba tertutup dengan sangat kencang.


Yoga yang kaget pun terbangun dari tempat tidurnya.


“Ada apa lagi ini, bisakah aku tenang sebentar saja tanpa kehadiran mereka,” ucap Yoga.


 Yoga yang sangat merasa lelah memilih mengabaikan keadaan di sekitarnya, sayup-sayup mata Yoga mulai terpejam dan Yoga pun mulai tertidur.


Di saat Yoga tidur pintu kamar mandi yang tadinya tertutup dengan kencang kini terbuka kembali seperti ada yang membukanya.

__ADS_1


Dari kejauhan ada sesosok arwah yang sedang memperhatikan Yoga yang sedang tertidur.


Belum sempat Yoga tertidur nyenyak tiba-tiba dirinya mendengar seseorang berteriak di kupingnya dengan mengucapkan kata Bangun.


Sontak saja Yoga kembali terbangun dari tidurnya.


Yoga dengan tenangnya tidak memedulikan sesosok arwah laki-laki yang sedang mengganggunya Yoga berjalan mengambil tas ranselnya lalu merogoh ponselnya berserta earphone.


Setelah mendapatkan kedua benda itu Yoga memasang earphone di telinganya dan menyalakan lagu di ponselnya dan Yoga pun kembali melanjutkan tidurnya.


Berjam-jam telah berlalu sampai hari pun menjelang sore Yoga yang telah terbangun dari tepat tidurnya ingin mandi untuk membersihkan dirinya.


Yoga masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa handuk berserta perlengkapan mandinya.


Di dalam kamar mandi itu sendiri terdapat kaca kecil Yoga yang sedang menggosok gigi sembari menghadap kaca itu melihat di sesosok arwah laki-laki dengan sayatan di lehernya sedang memperhatikan Yoga.


Yoga tetap saja tidak memedulikan arwah yang mengganggunya itu sampai dirinya selesai mandi.


Namun di saat Yoga membuka pintu kamar mandi terlihat sepasang kaki yang melayang di depannya.


Yoga pun mulai menengok ke atas sesosok arwah laki-laki dengan wajah penuh darah dan sayatan di lehernya telat sedang berada di depannya.


Namun Yoga tetap saja tidak memedulikan arwah itu Yoga berpura-pura tidak melihat arwah itu.


Yoga pun berjalan mendatangi tas ranselnya mengambil baju yang ingin ia pakai.


Setelah Yoga selesai memakai baju, ia pun keluar untuk mencari makan.


 Yoga keluar dari kamar kosaannya dan di tegur oleh seseorang yang berada di samping kamar Yoga.


“Eh Bro kamu tidak takut di kamar itu,” ujar anak muda yang menegur Yoga.


“Memangnya kenapa?” tanya Yoga yang berpura-pura tidak tahu.


“Kamar yang kamu tempati itu angker tidak ada satu orang pun yang betah dan berani di kamar itu.”


“Ah tidak bisa saja kok,” sahut Yoga.


“Kita lihat saja paling satu minggu kamu tidak betah di kamar itu, oh iya perkenalkan namaku Indra.”


“Semoga saja aku betah di kamar itu, salam kenal Indra aku Yoga.”


“Ya semoga saja kamu betah di sana Yoga, ya sudah kalau begitu aku tinggal dahulu ya, aku Cuma ingin ngasin tahu kamu aja sih,” ujar Indra yang kembali masuk ke kamarnya.


“Makasih ya Indra udah memberitahu aku,” sahut Yoga berjalan meninggalkan Yoga.    


   


 


 

__ADS_1


__ADS_2