Sang Pewaris Ilmu

Sang Pewaris Ilmu
Menguak misteri kematian Bagas


__ADS_3

“Begitulah ceritanya Yoga,” Dini yang mengakhiri cerita masa lalunya.


“Lalu Kevin itu siapa apakah dia adiknya Radit?” tanya Yoga kembali.


“Iya Kevin adalah adiknya Radit, semenjak kematian Radit aku merasa bersalah kepadanya dan Kevin pun berusaha untuk mendekati diriku, karena rasa bersalah aku kepada Radit akhirnya aku menerima Kevin dan belajar untuk mencintainya,” ujar Dini.


“Yoga bolehkah aku tahu kematian Mas Bagas karena apa?” Dini yang memang penasaran sedari dirinya di antar oleh Yoga ke pemakaman Bagas.


“Mata batinmu sudah aku buka Din, namun belum aku tutup kamu bisa berinteraksi dengan Bagas dan Bagas akan menceritakan semuanya kepadamu.


Dini pun melihat Bagas duduk di sampingnya dan mendengarkan kisah Bagas yang meninggal di bunuh oleh para perampok.


Dini yang mendengar cerita Bagas tidak kuasa menahan kesedihannya.


“Gara-gara aku semua seperti ini,” kata Dini yang menyalahkan dirinya sendiri sembari menangis.


“Tidak Din, ini bukan salahmu ini sudah jalan takdirku seperti ini jangan kamu sesali,” sahut Bagas mencoba menenangkan  hati Dini.


“Tapi aku sempat berprasangka buruk kepadamu Mas? Dan menerima lamaran Radit dan akhirnya Radit pun mengalami nasib yang naas setelah aku tolak Mas, aku hanya pembawa sial untuk kalian, belum lagi mungkin gara-gara aku papah dah mamah meninggal,” Dingin yang kembali menyalahkan dirinya.


Yoga berserta Bagas pun mencoba menenangkan hati Dini.


Setelah dua jam telah berlalu akhirnya Yoga menghentikan obrolannya dan berpamitan pulang.


“Bagaimana jika aku antar kamu pulang Yoga jalan rumah kita satu jalur?” ujar Dini yang memberi tumpangan kepada Yoga.


“Tapi Bagaimana jika Kevin melihat aku bersamamu pasti dia akan marah?” tanya Yoga.


“Yoga kalau aku boleh jujur yang di hatiku saat ini hanya kamu dan mas Bagas,” ucap Dini sembari memandang wajah Yoga.


Dini mulai mengungkapkan isi hatinya kepada Yoga begitu pula dengan Yoga sejak pertama kali bertemu dengan Dini ia sudah merasa ketertarikan dengan Dini hingga saat ini perasaannya terhadap dini semakin dalam.


Yoga pun memeluk Dini dengan eratnya di taman itu, rasa tenang mulai Dini dapatkan ketika bersama Yoga.


“Mau kah kamu menerima aku Dini?” tanya Yoga dengan memandang wajah Dini.


Dini tersenyum ke arah Yoga dengan menganggukkan kepalanya menandakan dirinya menerima Yoga.


Yoga yang sangat gembira memeluk dan mencium kening Dini.


Setelah itu mereka pun pulang bersama dengan menaiki mobil Dini.


Di dalam mobil sendiri Dini dan Yoga kembali mengobrol.


“Apa kamu tidak salah mau menerima aku Dini? Aku bukan dari keluarga yang tergolong mampu bukan seperti Kevin?” Yoga kembali meyakinkan Dini.


“Yoga hatiku sudah merasa nyaman denganmu rasa yang telah lama aku tidak pernah rasakan ketika Mas Bagas pergi, sekarang rasa itu aku rasakan kembali deganmu Yoga.


Yoga yang mendengar itu pun sangat bahagia dan tidak terasa ia sudah sampai di depan gang kecil menuju kostnya.


Yoga pun memandang wajah Dini dengan dalam lalu mendekatkan ke wajah Dini.


Ciuman lembut pun Dini sarankan ketika bibir Yoga menyentuh bibirnya.


“Terima kasih ya sudah menerima aku,” ucap Yoga sembari menampilkan senyuman lesung khasnya.


Dan setelah itu Yoga keluar dari mobil Dini.

__ADS_1


“Dini! Hati-hati!” seru Yoga.


Dini pun tersenyum ke arah Yoga lalu menjalankan mobilnya.


Dengan hati yang sangat senang Yoga kembali ke kamar kostnya.


Yoga berjalan ke tempat tidurnya sembari merebahkan tubuhnya serta tersenyum ketika mengingat ucapan Dini.


Arwah Bagas pun datang secara tiba-tiba di sampingnya.


“Aroma-aroma ada yang sedang jatuh cinta ini?” ledek Bagas.


“Terima kasih ya Bagas sudah mempercayai aku untuk menjaga Dini,” celetuk Yoga.


“Aku sudah lama tidak melihat Dini terseyum sebagian itu ketika Dini bersamamu Yoga, jaga dia baik-baik aku percayakan Dini kepadamu,” sahut Bagas.


“Tapi Bagas masih ada hal yang menganjal di hatiku, satu kematian mu ke dua apa kematian orang tua Dini ada sangkut pautnya dengan Radit?”


“Maksudmu Yoga, coba kamu pikir kejadian kamu di rampok itu hanya di kamar kostmu saja tidak di kamar yang lain, lalu di saat aku tadi malam meraga sukma aku melihat foto keluarga dini di tempat dukun itu,” ujar Yoga.


“Berti Dini dalam bahaya Yoga kita harus menolongnya.”


“Tunggu jangan gegabah kita harus memecahkan misteri ini, aku ingin kamu menakut-nakuti perampok yang telah membunuhmu buat mereka bercerita sebenarnya apa kamu bisa Bagas?” Yoga yang menyarankan kepada Bagas.


“Hal itu kecil untukku Yoga, nanti malam aku akan menjalankan aksiku sekalian membalas perbuatan mereka kepadaku,” sahut Bagas.


Dimalam harinya di saat Yoga sedang pergi bekerja Bagas memulai aksinya kepada dua perampok yang telah membunuhnya.


Bagas menembus dinding sel tahanan itu dengan mudah, terlihat dua pembunuh itu tengah duduk santai di lantai penjara.


Bagas memulai aksinya dengan menjatuhkan beberapa barang yang ada di sel mereka.


“Kampret! Bikin kaget saja!” pekik Dirman salah satu preman.


Ia pun mengembalikan mangkuk itu ke tempatnya semula, saat ia berbalik Bagas kembali menjatuhkan mangkuk itu hingga tiga kali.


Hal itu membuat mereka berdua terheran dan memandangi mangkuk itu setelahnya melempar mangkuk itu ke dinding.


Setelahnya Bagas mencolek pinggang Dirman.


“Apa sih Sur colak-colek kurang kerjaan aja,” ucap Dirman.


“Lah siapa yang colek kamu,” sahutnya.


Bagas pun menjatuhkan beberapa barang yang ada di meja mereka, Bagas melemparnya ke segala arah hingga membuat para preman itu ketakutan.


“Pak! Pak!” panggil Surya pada sipir yang berjaga.


“Ada apa?”


“Pak di sel kami ada hantunya, barang-barang kami di berantakin,” ucap Surya.


Sipir itu malah tertawa dan menganggap kedua preman itu tengah berhalusinasi.


“Kalian jangan mengada-ada, kalau mau kabur lebih baik cari alasan yang logis,” ucap sipir tersebut sembari tertawa meninggalkan sel mereka.


“Tapi pak saya serius!” teriak Surya.

__ADS_1


Waktu terus berjalan, kedua preman itu mulai merasa tenang, hingga malam hari mereka berdua bersiap untuk tidur.


Sejauh ini mereka tidak merasakan apa pun karena Bagas sengaja ingin menakuti mereka saat tengah malam.


Kebetulan Surya bangun saat itu berniat untuk ke toilet, usai dari toilet Surya terkejut karena melihat sosok pria berdiri membelakanginya.


“Siapa kamu? Bagaimana kamu bisa masuk?” tanya Surya.


Pria itu hanya terdiam sambil terus membelakanginya tanpa bergerak sedikit pun.


“Kamu tuli ya? Cepat minggir jangan menghalangi jalanku!” ucapnya lagi.


Pria itu tetap diam tanpa bergerak hal itu membuat Surya emosi dan langsung membalikkan tubuh pria itu dan berniat untuk memukul wajahnya.


Namun saat pria itu terbalik, ia terkejut bukan kepalang karena yang ada di hadapannya adalah sosok Bagas pria yang ia bunuh dulu.


Bagas muncul dengan wajah mengerikan dan penuh luka persis seperti saat mereka menghabisi nyawa Bagas.


Seketika Surya berteriak hingga membangunkan Dirman yang saat itu masih tertidur.


“Apa sih Surya teriak-teriak berisik!” ucap Dirman.


Dirman pun bangun dan melihat Surya dengan wajah sudah ketakutan.


“Kamu kenapa sih Sur?” tanya Dirman.


Dirman pun menghampiri Surya dan saat mendekat ia terkejut karena melihat sosok Bagas berdiri di depan  Surya.


“Si-siapa kamu?” pekik Dirman.


“Man ingat Man, dia yang kita bunuh waktu itu!” ucap Surya.


Seketika Dirman mundur, Bagas mendekat perlahan ke arah Surya, lalu Bagas pun mencekik leher Surya.


Dirman yang ketakutan pun tidak berani berbuat apa-apa, ia mundur dan berteriak meminta pertolongan namun mulutnya seperti kaku dan tidak bisa mengeluarkan suaranya.


“Maaf ... maafkan aku hanya di suruh untuk menghabisimu. Aku mohon maafkan aku,” ucap Surya sembari memegangi lehernya.


“Siapa yang menyuruh kalian?” tanya Bagas.


“Ra-Radit,” sahut Surya.


Hingga beberapa menit Bagas pun menghilang dan meninggalkan kedua preman itu dalam ketakutan.


Bagas berencana menakuti mereka hingga mereka berdua mau mengakui dan menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Bagas kembali ke kost Yoga, di sana Yoga tengah tertidur pulas Bagas tidak ingin membangunkan Yoga dan lebih memilih untuk berbicara dengan Yoga besok pagi.


Keesokan harinya saat Yoga tengah sibuk berpakaian, Bagas meminta Yoga untuk mendatangi kedua preman itu lagi di penjara.


“Tadi malam aku mencoba menampakkan diriku di hadapan mereka, aku senang melihat wajah mereka yang ketakutan,” ucap Bagas.


“Lalu mereka bilang apa?” tanya Yoga.


“Mereka ternyata orang suruhan Radit,” ucap Bagas.


“Jadi kamu meninggal bukan karena beneran di rampok tapi di bunuh,” ucap Yoga.

__ADS_1


“Iya benar.”


__ADS_2