Sang Pewaris Ilmu

Sang Pewaris Ilmu
Bertemu dengan Dini


__ADS_3

Saat berada di rumah Yoga merasa jengkel dan tidak Terima karena Dini adalah kekasih dari arwah Bagas. 


Hingga keesokan harinya saay Yoga tengah bekerja pun selalu menghindar dari Dini.


Hingga Dini menjadi sangat bingung.


Beberapa kali ponsel Yoga berdering terlihat nama kontak Dini yang sedari tadi menghubungi Yoga.


Tidak lama arwah Bagas muncul di hadapan Yoga, hal itu membuatnya semakin jengkel.


“Tumben kamu tidur-tiduran,” ucap Bagas.


Namun Yoga tidak menggubris ucapan dari Bagas.


“Woy ... Jangan melamun nanti kesambet!” ucap Bagas lagi.


“Yoga kok diam sih?”


“Halo Yoga!” 


“Kamu kenapa sih? Apa kamu udah gak bisa lihat aku lagi ya?” ucap Bagas lagi.


Yoga masih tetap diam sembari bersedakap melipat tangannya. 


“Yoga ... Halo Yoga! Kamu beneran gak lihat aku?”


Yoga menghela nafasnya dan menatap ke arah Bagas, “kamu kenapa gak bilang sama aku?” tanya Yoga.


“Bilang apa? Apa aku ada salah sama kamu?” tanya Bagas.


Yoga tersenyum sinis, “Ya kamu berbohong. Kenapa kamu gak cerita kalau Dini itu kekasihmu?” tanya Yoga.


“Kamu tahu dari mana?” tanya Bagas.


“Kamu pikir dari mana hah?” 


“Apa dari Dini?” tanya Bagas.


Yoga hanya terdiam tanpa mengatakan hal apa pun.


Bagas menghela nafas, “sebenarnya aku mengetahui jika bos kamu adalah kekasihku Andini, saat aku mengikutimu di pemakaman ayahnya waktu itu. Awalnya aku ingin bilang sama kamu,” ucap Bagas.


“Kenapa kamu gak bilang dari awal Gas? Aku kecewa sama kamu.”


“Semua itu ada alasannya, lagi pula aku sudah mati apa yang bisa Dini harapkan dari arwah penasaran seperti aku?”


Yoga terdiam, ia bingung harus berkata apa lagi. Yoga mulai menurunkan egonya dan meredakan perlahan emosi di hatinya.


“Yoga, aku hanya meminta sama kamu untuk memberi tahukan keadaanku sebenarnya. Aku juga tidak bisa bersamanya kita sudah beda alam. Lagi pula aku ingin Dini bahagia dan yang dapat membahagiakannya adalah kamu Yoga,” ucap Bagas.


“Itu gak mungkin Bagas, aku miskin dia adalah bos ku. Aku dan Dini bagaikan langit dan bumi!”

__ADS_1


“Gak ada yang gak mungkin di dunia ini jika Tuhan berkehendak maka akan terjadi,” ucap Bagas.


“Sekarang bukan saatnya untuk berdebat Yoga. Dini membutuhkan kita berdua, aku punya firasat buruk akan terjadi suatu hal entah apa itu.”


Yoga pun akhirnya berusaha memahami situasi ini, ia masih mengingat misi awalnya bersama Bagas. Yoga pun mengambil ponselnya dan menghubungi Dini.


“Halo Yoga, kamu kenapa kok gak angkat-angkat telepon dari aku?” tanya Dini yang langsung mengangkat telepon dari Yoga.


“Bu Dini ada hal yang ingin saya bicarakan. Apa besok kita bisa bertemu?” ucap Yoga.


“Iya bisa, tapi apa yang ingin kamu katakan sepertinya sangat serius,” sahut Dini.


“Nanti akan aku jelaskan saat kita bertemu.”


“Baik aku akan mengirimkan lokasinya besok siang.”


Yoga pun langsung menutup teleponnya, hal itu membuat Dini semakin bingung sekaligus penasaran apa yang ingin Yoga bicarakan kepadanya.


Di sisi lain Yoga memilih untuk langsung tidur dan meninggalkan Bagas sendirian. Bagas tidak bisa berkata apa-apa lagi karena dia tahu kalau ini lebih baik dari pada menyimpannya terus-terusan.


Saat merebahkan dirinya Yoga berpikir ulang, ‘seharusnya aku tidak perlu marah,’ batin Yoga.


Yoga pun kembali membuka ponselnya dan menulis pesan singkat kepada Dini, ia meminta maaf jika sedari tadi ia mengabaikan telepon dari Dini dengan alasan sedang sibuk.


Yoga pun terlelap, hingga ke esokan harinya ia bangun dan langsung pergi ke kamar mandi.


Saat keluar dari kamar mandi Bagas tiba-tiba muncul di depan pintu kamar mandi.


“Apa kamu masih marah sama aku?” tanya Bagas.


“Serius kamu gak marah lagi sama aku?” tanya Bagas lagi.


“Apa aku harus mengulangi ucapanku lagi?”


“Hari ini kamu harus ikut, kamu juga harus mendengarkan keluh kesahnya nanti,” ucap Yoga.


Yoga pun berpakaian dan bersantai di depan teras rumahnya untuk menikmati udara pagi hari sembari menyeruput segelas kopi instan yang sudah ia olah sebelumnya.


Ia duduk di teras kecil miliknya sambil bersandar di dinding rumahnya, memandangi kumpulan awan-awan yang lalu lalang perlahan tertiup angin.


Hingga terdengar suara dentingan kecil dari ponselnya pertanda jika pesan singkat masuk ke ponselnya.


Rupanya itu adalah Dini, ia mengirimkan alamat tempat mereka akan bertemu yaitu di sebuah taman hijau yang baru di bagun oleh pemerintah setempat.


Yoga pun bersiap dan menghabiskan kopinya, tak lupa ia memesan ojol terlebih dulu.


Beberapa menit kemudian pesana ojol itu pun datang menjemputnya, Yoga pun menaiki ojol tersebut dan melaju menuju sebuah taman.


Saat Yoga dalam perjalanan ponselnya kembali berdenting, pesan singkat kembali masuk dan Dini meminta bertemu jam 10 pagi, sedangkan sekarang masih jam sembilan pagi.


Saat sampai di taman, Yoga memilih berkeliling sejenak sembari menunggu Dini yang akan datang satu jam lagi.

__ADS_1


Taman itu cukup ramai karena hari libur jadi cukup banyak orang yang duduk santai di taman. Dengan  ditemani Bagas Yoga berkeliling sembari menghirup udara segar.


Waktu tidak berasa sudah menunjukkan pukul 09:55 dan Yoga pun menerima telepon dari Dini yang akan segera sampai di taman tersebut.


Mereka pun akhirnya bertemu, mereka duduk di kursi taman yang saat itu kebetulan kosong.


“Apa yang ingin kamu bicarakan Yoga?” tanya Dini.


“Mengenai kekasihmu Bagas, sebelumnya apa dia memberi kabar tentang dirinya saat itu?” tanya Yoga.


Dini menggelengkan kepalanya, “enggak, dia tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar, nomornya pun sudah tidak aktif lagi,” sahut Dini.


“Apa ada keluarga dari Bagas yang kamu kenal?” tanya Yoga lagi.


“Aku belum sempat bertemu keluarganya waktu itu dan aku juga tidak tahu harus mencarinya kemana,” sahut Dini.


“Menurut kamu Bagas sekarang berada dimana?” tanya Yoga sembari menatap ke arah Bagas.


“Entahlah, sedang di tempat lain bersama yang lain mungkin,” sahut Dini.


Mendengar hal itu Bagas tersenyum kecil, “Iya bersama yang lain tapi bukan perempuan,” sahut Bagas sambil tertawa karena selama ini Bagas selalu mengikuti Yoga.


“Apa ... Kamu masih mencintainya?” tanya Yoga.


“Gimana ya, walaupun dia menghilang tanpa kabar aku merasa dia selalu berada bersamaku. Aku bahkan tidak bisa melupakannya begitu saja,” sahut Dini.


Bagas pun tersenyum kecil sembari menunduk, ia tidak menyangka cinta wanita yang di tinggalkannya itu begitu besar untuknya.


Yoga pun mulai memberi kode kepada Bagas apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


“Tanyakan bagaimana jika sebenarnya aku sudah mati,” ucap Bagas.


“Kamu serius?”


Bagas pun menganggukkan kepalanya dengan tatapan yakin pada Yoga.


“Kalau misalkan Bagas sebenarnya sudah gak ada gimana?” tanya Yoga.


Dini terdiam sejenak, “Mana mungkin sih, dia cuma gak ada kabar bukan berarti dia sudah mati Yoga,” ucap Dini terkekeh.


Mendengar jawaban dari Dini membuat Yoga kebingungan untuk memberi tahukan kebenaran tentang Bagas.


“Seseorang pernah bilang sama aku di dunia ini gak ada yang gak mungkin jika Tuhan berkehendak maka terjadilah.”


“Maksud kamu apa Yoga? Kamu mau bilang kalau Bagas itu udah mati. Atas dasar apa kamu bisa menyimpulkannya seperti itu?” ucap Dini sedikit kesal.


Yoga menghela nafasnya, “Ayo ikut aku sekarang,” pinta Yoga.


“Kemana?” tanya Dini.


“Kamu ingin bertemu Bagas kan? Aku akan memberi tahumu dimana tempatnya,” ucap Yoga.

__ADS_1


“Jadi selama ini kami tahu dimana Bagas berada? Lalu kenapa kamu menyembunyikan ini dari aku? Apa maksud kamu Yoga?”


“Sudahlah tidak ada waktu untuk berdebat, ikut aku maka kamu akan tahu nanti,” ucap Yoga.


__ADS_2