Sang Pewaris Ilmu

Sang Pewaris Ilmu
Meninggalnya para Preman


__ADS_3

“Bos balik dulu ya,” ucap Bono salah satu preman berperawakan tinggi.


“Ya sudah, Mir kamu ikut ke rumah Tuan gak?” tanya Darto bos dari preman tersebut.


“Gak Bos, istriku nungguin di rumah,” ucap Amir anak buah Darto.


Mereka semua pun berpisah di pinggir jalan menuju tempat masing-masing.


Darto bos preman yang cukup di takuti Darto terkenal kejam, suka memalak orang serta merampok secara terang-terangan.


Malam itu Darto hanya berjalan kaki menuju rumah Kevin Tempat dimana ia tinggal.


Jalan sangat sepi malam itu di tambah lagi waktu sudah menunjukkan pukul 01.20 pagi.


Kendaraan yang lalu lalang hanya sedikit, hal itu membuat Darto dengan leluasa untuk menyeberang jalan.


Saat itu tiba-tiba Darto teringat dengan ucapan Yoga, Darto pun terkekeh tertawa karena menganggap remeh ucapan dari Yoga.


Namun Darto sendiri heran kenapa Yoga bisa sekuat itu dan mencekiknya hingga ia tak bisa melawan. Padahal tubuh Darto tinggi besar berbanding terbalik dengan tubuh Yoga yang tidak terlalu besar.


Sesekali Darto mengusap-usap lehernya seakan cekikan dari Yoga itu masih berasa di lehernya.


Semakin lama lehernya semakin sakit seperti tengah di cekikan oleh seseorang.


Nafasnya mulai tersengal-sengal, Darto pun memutuskan untuk duduk di pinggir trotoar jalan untuk mengatur nafas.


Namun bukannya membaik lehernya semakin sakit Darto Bahkan seperti tidak bisa bernafas. Ia mulai gelisah dan tak karuan rasa.


Tiba-tiba Darto meronta kesakitan hingga tanpa sadar ia berjalan ke tengah jalan. Saat itu juga sebuah truk mengangkut sampah melintas dan menabrak Darto.


Seketika Darto terkapar di aspal dengan keadaan kepala dan wajahnya bersimbah darah.


Bukan hanya itu saja, mulut Darto juga mengeluarkan darah.


Di sisi lain Bono yang saat itu dalam perjalanan pulang menaiki sebuah angkot yang masih beroperasi di tengah malam.


Dalam angkot tersebut hanya ada Bono sendirian saat di dalam perjalanan tiba-tiba angkot itu mendadak mogok hingga membuat sang sopir keluar untuk memeriksanya.


“Mogok pak?” tanya Bono.

__ADS_1


“Iya mogok. Maklum mesinnya udah tua,” sahut pria paruh baya itu.


Sang sopir pun mulai memeriksa apa yang terjadi, namun di luar dugaan mobil angkot yang di tumpangi Bono itu tiba-tiba mengeluarkan kepulan asap.


Bono pun bergegas ingin keluar dari angkot tersebut, tapi ia merasa seperti ada yang menahan tubuhnya.


Tubuhnya kaku tidak bisa bergerak, Bono berusaha keras untuk menggerakkan tubuhnya namun tidak bisa.


Kepulan asap di angkot itu semakin tebal hingga muncul percikan api dari bawah mesin angkot.


“Astagfirullah! Pak keluar pak cepat!” teriak sang supir angkot kepada Bono yang saat itu berada di dalam.


Bono berusaha berteriak meminta tolong namun mulutnya tidak dapat di gerakkan lagi, semuanya kaku.


Api semakin membesar hingga melalap sebagian besar badan mobil angkot itu.


Kobaran api itu melahap angkot beserta Bono di dalamnya.


Teriakan Bono terdengar ketika semuanya dilahap si jago merah.


Teriakannya begitu histeris penuh dengan rasa kesakitan, sang sopir hanya bisa berteriak meminta pertolongan.


Bukan karena angkotnya yang terbakar melainkan karena Bono terpanggang di dalamnya.


Orang-orang yang ada di lokasi itu pun menitikkan air mata ketika menyaksikan hal mengerikan tersebut, suara teriakan minta tolong dari Bono itu seakan menggema di indra pendengaran mereka.


Hampir setengah jam api dapat di padamkan, mobil ambulan pun sudah bersiap di lokasi untuk membawa jasad Bono yang tewas terpanggang.


Sedangkan Amir yang saat itu sudah berada di rumahnya, rupanya yang menunggunya di rumah bukanlah istrinya melainkan seorang wanita muda hasil dari tawar menawar di pinggir jalan.


Amir membawanya ke rumah karena menurutnya itu adalah tempat paling aman.


Amir mulai menggoda wanita muda itu, ia bahkan membelai rambut serta tubuh wanita itu.


“De ayo abang udah gak tahan,” ucap Amir.


“Sabar dong bang,” sahutnya dengan manja.


Karena sudah keburu nafsu Amir langsung memeluk wanita itu dan menggerayanginya. Amir dengan liat mencumbu setiap jengkal tubuh wanita itu hingga ia melepas semua pakaian yang wanita itu kenakan lalu langsung melancarkan serangan.

__ADS_1


Amir memaju mundurkan tubuhnya hingga membuat wanita muda itu merasa melayang hingga ke awan.


“Terus bang!” pekiknya.


Baru setengah jalan Amir menikmati surga dunia, Tiba-tiba pintu rumahnya di gedor oleh seseorang.


Gedorannya itu cukup kencang hingga membuatnya terkejut lalu langsung mengenakan sarungnya.


Amir puan keluar dan membuka pintunya, tiba-tiba sebuah golok mendarat ke lehernya.


“Mari kamu!” ucap seseorang di depan pintu.


Rupanya itu adalah kekasih dari wanita muda tersebut, pria itu menerobos masuk ke dalam rumah Amir lalu menarik wanita yang masih mengenakan sehelai kain itu keluar.


Wanita muda iti berteriak histeris ketika melihat Amir tergeletak di depan rumahnya dengan bersimbah darah.


“Pakai bajumu dan ikut aku!” ucap pria itu.


Wanita itu lantas bergegas masuk dan memakai pakaiannya lalu pergi bersama pria itu.


Amir masih sadarkan diri namun nafasnya sudah di ujung tanduk, terlihat tubuhnya mulai kejang darah terus keluar dari lehernya hingga akhirnya Amir meregang nyawa.


Keesokan harinya seorang tetangga sangat terkejut karena melihat Amir terkapar di depan rumahnya dengan darah yang masih mengalir, bau anyirnya pun masih tercium.


“Astagfirullah! Tolong!” teriak tetangga itu.


Seketika para warga berhamburan keluar rumah dan terkejut melihat kondisi Amir yang mengenaskan.


Rt setempat pun menghubungi pihak yang berwajib untuk mengusir dan menyelesaikan masalah ini.


Tidak lama terdengar suara sirine mobil polisi dan ambulan, sejumlah polisi turun dari mobil dan langsung melakukan olah TKP.


Seorang polisi pun berceletuk, “Hari ini ada tiga kasus yang harus kita tangani. Dan sepertinya dia juga preman di sekitar sini,” ucap polisi itu.


Bukan hanya polisi, para wartawan pun ikut datang ke TKP tersebut untuk meliput dan mencari tahu kejadian yang sebenarnya terjadi.


Beberapa warga ada yang senang karena preman yang selama ini mereka takuti dan membuat resah akhirnya mati juga, ada juga yang merasa kasihan bukan dengan Amir namun dengan anak dan istri Amir yang saat ini tengah berada di kampung.


Kematian ketiga preman itu menjadi berita dan perbincangan hangat baik di TV maupun di media sosial.

__ADS_1


Kini ucapan dari Yoga telah terwujud, mereka semua mati satu persatu di hari yang sama dengan cara yang berbeda.


Sebaliknya Yoga yang saat itu berada di rumah mencoba mengobati luka lebam yang ia dapatkan tadi malam akibat di pukuli oleh para preman suruhan Kevin itu.


__ADS_2