Sang Pewaris Ilmu

Sang Pewaris Ilmu
Kematian pak Heru


__ADS_3

Beberapa menit kemudian seorang Dokter keluar dari ruang UGD.


Dini berserta Reni ibunya pun mendatangi sang Dokter dengan wajah khawatir serta cemas.


“Dok bagaimana dengan keadaan papah saya?” tanya Dini.


“Iya Dok bagaimana keadaan suami saya Dok?” kembali bertanya Reni dengan khawatir.


Dokter yang menangani Heru pun menghela nafas panjang.


“Ibu Reni dan bu Dini harap bersabar, saya sudah semaksimal mungkin menolong pak Heru tapi Tuhan lebih sayang kepada pak Heru, maafkan saya,” ujar sang Dokter sembari menghela nafas panjang.


Reni yang mendengar ucapan Dokter pun tak kuasa menahan dirinya ia langsung berlari masuk ke ruang UGD dan langsung memeluk jenazah sang suami menangis histeris di atas jenazah Heru.


“Pah bangun, Pah,” pekik Reni sembari menggoyang-goyangkan tubuh Heru yang tidak bernyawa lagi berharap Heru kembali hidup.  


“Sudah Mah, sudah,” kata Dini yang mencoba menenangkan ibunya dengan mengelus-elus pundaknya.


“Dini, Papah Din sekarang meninggalkan kita,” ujar sang ibu menangis sembari memeluk Dini.


“Iya Dini tahu Mah, tapi sekarang Papah sudah tidak merasakan sakit lagi Mah,” ujar Dini dengan air mata yang terus mengalir ke pipinya.


Dini berusaha untuk menenangkan sang ibu dan ia juga berusaha tabah melepas kepergian sang ayah yang Dini sangat cintai.


Jenazah Heru pun kembali di masukkan ke dalam mobil ambulan dan di pulangkan kembali ke rumahnya.


Dini berserta Reni mengikuti di belakang mobil ambulan.


Sepanjang jalan Reni yang duduk di samping sang anak yang sedang mengemudikan mobilnya pun menangis tiada henti.


“Mah yang kuat ya, sekarang Papah sudah tidak sakit lagi, papah selama beberapa bulan ini menahan sakit yang tidak kunjung sembung dan sekarang Papah sudah tenang di sana Mah,” ucap Dini sembari mengelus-elus bahu sang ibu.


Beberapa menit mobil ambulan sampai di rumah mereka jenazah Heru pun di sambut hangat oleh semua tetangga serta kerabat di sana.


Para tetangga, kerabat tidak mengira Heru akan secepat ini pergi meninggalkan mereka semua.


Di tambah lagi Heru terkenal orang yang ramah, baik dan humoris membuat mereka yang mengenal Heru sangat kehilangan sekali apa lagi Reni dan juga Dini.


Seampainya di rumah di bantu oleh para tetangga menyiapkan peralatan untuk memandikan jenazah Heru.


Semua perlengkapan telah selesai di siapkan Jenazah Heru pun mulai di mandikan namun kejadian aneh kembali muncul di saat Jenazah Heru mulai di mandikan saat jenazah Heru mulai di siram dengan air darah hitam keluar dari lubang hidung serta lubang telinga Heru.


“Astagfirullah,” ucap salah seorang yang sedang mengguyur tubuh Heru dengan air.

__ADS_1


“Ada apa dengan Pak Heru,” sahut salah seorang Bapak-bapak yang memakai baju kaos hitam.


“Iya aneh sekali berulang kali di jenazah pak Heru di siram rapi selalu saja keluar darah hitam dari hidung dan kupingnya, apa jangan-jangan ada yang kematian pak Heru yang tidak wajar ini ada hubungannya dengan santet,” sahut Bapak berkumis yang mengguyur tubuh Heru.


“Ah tidak mungkin pak Heru orang yang baik dan tidak punya musuh,” sahut bapak berkaos hitam.


“Hust! Sudah-sudah jangan ngomongin orang yang sudah meninggal tidak baik kasihan, ayo lebih baik kita doakan saja pak Heru agar di beri kemudahan untuk menguburkannya,” celetuk sorang kakek yang ikut memandikan Heru.


Setelah beberapa menit berlalu Heru pun telah selesai di mandikan dan kembali di kafani.


Jam pun sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, kabar kematian ayah Dini terdengar sampai ke para karyawan cafe rindu terutama Yoga.


Yoga yang saat itu berada di Warteg bu Ani mendapat telepon dari Adam karyawan senior di cafe rindu.


“Hallo Yoga.”


“Iya bang Adam ada apa tumben sekali menelepon?”


“Ada berita duka, ayah bu Dini meninggal baru saja, anak-anak cafe sudah aku beritahu, kamu mau ikut tidak kalau mau ikut sekalian kan kost mu satu jalur dengan rumah Bu Dini jadi sekalian ikut aku,” ujar Adam yang menjelaskan lewat telepon.


“Innalillahi wainna ilaihi rojiun, ini serius bang?”


“Iya Yoga buat apa aku bohong dan dengar-dengar kabarnya saat pak Heru di larikan ke rumah sakit dirinya sempat muntah darah berserta paku dan juga silet, ngeri sekali aku dengarnya.


“Astagfirullah, ya sudah bang jangan di omongin kasihan pak Heru, ya sudah kalau begitu aku tunggu di kost ya bang,” ujar Yoga sambil mematikan telepon genggamnya.


“Loh kok terburu-buru Yoga ada apa?” tanya bu Ani pemilik warteg.


“Yoga mau menghadiri pemakaman, orang tua dari bos Yoga meninggal bu,” celetuk Yoga pergi keluar dari warteg bu Ani.


“Ya sudah hati-hati di jalan Yoga,” ujar bu Ani.


 Yoga pun berjalan kembali ke kosatnya, untuk mengganti bajunya.


Arwah Bagas yang tiba-tiba muncul pun menegur Yoga.


“Mau ke mana kamu Yoga, terburu-buru sekali,” tanya Bagas.


“Itu ayahnya bu Dini meninggal, aku mau ke sana, dan kata bang Adam ada kejadian aneh saat pak Heru di larikan ke rumah sakit,” Yoga yang mulai menceritakan kepada Bagas.


“Memanggangnya kejadian apa Yoga,” tanya arwah Bagas yang sangat penasaran.


“Pak Heru muntah darah bercampur paku dan silet,” sahut Yoga sembari mengancing baju hemnya.

__ADS_1


“Santet itu Yoga, ada orang yang ingin mencelakai keluarga bu Dini.”


“Iya benar katamu Bagas, aku pun mengiranya begitu.”


“Yoga aku ikut ya,” pinta arwah Bagas.


“Ya sudah tapi jangan bikin masalah ya di sana?” Yoga yang memperingati.


“Siap komandan,” ujar arwah Bagas.


Tidak berselang lama ponsel Yoga kembali berbunyi, dengan cepat Yoga mengambil ponselnya yang berada di meja kamarnya lalu mengangkatnya.


Ternyata dari Adam yang memberitahu Yoga sedang menunggu dirinya di depan gang.


Yoga pun langsung mematikan ponselnya dan bergegas menghampiri Adam.


Sesampainya di tempat Adam, Yoga pun menaiki motor Adam yang di bonceng oleh Adam.


Mereka berdua pun pergi ke rumah bu Dini.


Sesampainya di halaman rumah Dini. 


Bagas muncul dan langsung bertanya kepada Yoga.


“Yoga mana yang bernama Dini yang kamu sukai itu?” tanya arwah Bagas.


Yoga mulai melihat di sekelilingnya mencari keberadaan Dini dan terlihat Dini yang sedang berada di depan pintu rumahnya.


“Itu bu Dini yang sedang berdiri tepat di depan pintu,” celetuk Yoga dengan spontan sembari menunjuk Dini dari kejauhan.


Adam yang mendengar Yoga berbicara di sampingnya pun membalas ucapannya.


“Iya aku sudah tahu kalau itu bu Dini di depan pintu, ayo cepat kita masuk ke rumahnya ” balas Adam.


Yoga yang merasa tidak nyaman pun terdiam.


Sementara arwah Bagas terdiam tidak berkedip memandang Dini.


“Ternyata benar kalau kamu adalahlah Andini kekasihku yang aku cari selama ini,” ucap arwah Bagas sembari memandangi Dini dari kejauhan.


  


  

__ADS_1


     


   


__ADS_2