
“Le-lepaskan a-aku,” ucap Yoga terbata karena kesulitan bernafas.
Yoga mencoba melepas cekikikan arwah jahat tersebut.
Yoga yang tertidur pun mulai terasa sesak bernafas karena akibat mimpi dirinya di cekik arwah jahat tersebut sambil memegang lehernya Yoga mulai meronta-ronta di tempat tidur sampai akhirnya Yoga pun terbangun dari mimpinya.
“Astagfirullah, makhluk apa itu energinya begitu kuat,” celetuk Yoga dengan nafas yang tersengal-sengal.
Yoga mencoba menenangkan dirinya mengatur nafas yang tidak beraturan, Yoga mulai berdiri dari tempat tidurnya lalu menuju meja di kamarnya.
Yoga mengambil segelas air putih dan meminumnya.
Beberapa menit Yoga mulai merasa tenang, arwah Bagas pun secara tiba-tiba berada di samping Yoga yang sedang duduk di pinggir tempat tidurnya.
“Kami kenapa Yoga, seperti orang sedang lari jarak jauh,” celetuk Bagas yang melihat Yoga.
“Aku bermimpi seram, baru kali ini aku bermimpi ada makhluk yang akan membunuhku di dalam mimpi,” Yoga mulai menceritakan kepada Bagas.
“Sosok seperti apa makhluk yang ingin mencelakakan mu Yoga?” tanya Bagas.
“Sosoknya tidak aku lihat secara jelas banget tapi seperti sosok arwah yang ada di belakang bu Dini, dan arwah itu memperingati aku agar menjauhi bu Andini,” ujar Yoga.
Sontak saja mendengar kata Andi Bagas merasa terkejut.
“Siapa tadi namanya Andini?” tanya Bagas mengulang.
“Iya Bu Andini, di panggil bu Dini,” ujar Yoga yang memperjelas.
“Nama itu–“ celetuk Bagas tiba-tiba terhenti karena mengingat seseorang.
“Mengingatkan kamu dengan siapa Bagas?” tanya Yoga dengan penasaran.
“Kekasihku,” sahut Bagas dengan singkat.
“Tidak mungkin kali Bagas, soalnya nama semacam itu banyak orang yang menggunakan, memang kekasihmu dulu pemilik cafe?” tanya Yoga yang mulai penasaran.
“Usahanya banyak, selain sebagai desainer kekasihku juga punya usaha sampingan seperti butik, dan aku tidak tahu lagi,” sahut Bagas.
“Loh kamu aneh pacaran kok tidak tahu dengan pekerjaan sang pacar.”
__ADS_1
Bagas pun mulai bercerita tentang dirinya dengan sang kekasih.
“Kami dekat baru beberapa bulan saja, kalau tidak salah baru 3 bulan aku pun tidak menceritakan secara detail tentang diriku sampai akhirnya, aku menyuruhnya untuk menungguku karena aku berjanji untuk menikahinya namun nasib naas menimpa dirinya sampai aku menjadi sosok arwah seperti ini Andini tidak tahu,” Bagas bercerita kepada Yoga dengan raut wajah yang sedih.
“Sabar ya Bagas, aku akan membantumu untuk mencari kekasihmu itu,” ujar Bagas.
“Terima kasih ya Yoga,” sahut Bagas.
“Lalu di mana kamu di makamkan Bagas?” tanya Yoga.
“Di desa di tempat ayahku di makamkan tapi saat aku meninggal aku sering melihat ibuku melamun sampai akhirnya ibu ku pun pergi, ayah dan ibu sudah tenang di sana namun aku belum bisa pergi karena aku masih belum tenang jika melihat Andini sendiri, aku ingin melihat dia bahagia walau tidak bersamaku, sebenarnya aku sudah lelah berada di dunia aku ingin ikut berkumpul dengan ibu dan ayahku di sana,” ujar Bagas menjelaskan kepada Yoga dengan mata yang berkaca-kaca.
“Nasib kita hampir mirip tapi bedanya aku masih hidup tapi kedua orang tuaku sudah tenang di sana.”
Mereka berdua pun bercerita-cerita sampai jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari, Yoga pun mulai menguap dan mulai merasakan kantuk kembali.
Sampai obrolan yang panjang itu di hentikan oleh Yoga.
“Bagas aku mau tidur dahulu, aku sudah mulai mengantuk,” kata Yoga.
“Ya sudah tidur sana, oh iya nanti jika kamu kerja aku ikut ya aku mau liat wanita bernama Andini yang kamu taksir itu,” kata Bagas menggoda Yoga.
“Apaan kamu aku sadar itu tidak akan mungkin terjadi, status sosial kita berbeda dia kaya dan aku miskin, lagi pula bu Dini sudah mempunya teman dekat.”
“Benar katamu, ya sudahlah aku mau tidur dahulu,” sahut Yoga mulai memejamkan matanya.
Melihat Yoga yang sedang tertidur pun Bagas kembali menghilang entah ke mana.
Keesokan harinya Andini berserta ayah dan ibunya sedang menikmati sarapan sembari berbincang-bincang santai.
“Bagaimana keadaan Papah?” tanya Adini.
“Sudah lumayan membaik Dini,” sahut Heru ayah dari Andini.
“Dokter ini aneh Papah sakit perut sudah hampir setahun masa hanya gejala maag saja, tapi memang iya waktu di rontgen tidak ada masalah di pencernaan Papah, tapi terkadang papah suka muntah darah,” kata Andini mencoba menelaah penyakit sang Ayah.
“Justru itu Mamah dan Papah juga merasa bingung,” sahut Reni ibu dari Andini.
Saat mereka sedang menikmati sarapan baginya secara tiba-tiba perut Heru terasa sakit dan melimit.
__ADS_1
“Perutku saki sekali,” ujar Heru sembari memegangi perutnya.
“Pah, papah tidak apa-apa, Mah perut Papah sakit kembali,” ujar Dini yang mulai panik dengan kondisi sang ayah.
“Sebentar Mamah ambilkan obat papah dahulu di kamar,” ujar Reni yang pergi ke kamarnya guna mengambil obat Heru yang berada di atas meja kamar.
Heru yang merasa perutnya seperti di tusuk-tusuk paku, tidak dapat menahan sakit, Heru menjerit-jerit kesakitan.
“Perutku sakit!” pekik Heru.
“Sabar ya Pah, Mamah sedang mengambilkan obat untuk Papah,” ujar Dini yang mencoba menenangkan sang ayah.
Namun secara tiba-tiba Heru batuk-batuk dan merasakan ada sebuah benda yang ingin keluar dari dalam perutnya.
Heru terus menerus batuk sampai akhirnya ia pun memuntahkan darah segar berserta paku dan silet di dalam mulutnya.
Setelah Heru mengeluarkan beberapa benda tajam tersebut, ia pun tidak dapat menahan dirinya dan akhirnya Heru tergeletak tidak sadarkan diri di lantai.
Melihat sang ayah yang tergeletak di lantai, Dini menjadi tambah khawatir serta cemas.
Dini berlari menghampiri sang ibu di kamarnya dan memberi tahu kondisi sayang Ayah.
“Mah, Papah muntah darah dan benda-benda aneh dan sekarang tidak sadarkan diri Dinu mau telepon ambulan Mah, kita harus cepat bawa Papah ke rumah sakit,” kata Dini dengan sangat panik.
“Iya Dini, cepat sebelum terjadi apa-apa dengan Papahmu,” balas Reni dengan khawatir
Dini pun berlari ke kamarnya mengambil ponselnya di meja kamarnya, setelah Dini berada di kamarnya ia pun langsung mengambil ponselnya dan menelepon ambulan.
Selang beberapa menit terdengar ngiungan mobil ambulan yang sudah berada di halaman rumah Dini.
Dengan sangat sergap para petugas medis pun membawa Heru masuk ke ambulan untuk di bawa ke rumah sakit.
Sementara Dini dan sang ibu mengikut di belakang mobil ambulan tersebut dengan menaiki mobil pribadi mereka.
Sesampainya di rumah sakit harapan kita.
Heru langsung dilarikan ke unit gawat darurat untuk di tangani dengan cepat.
Sementara Reni berserta Dini menunggu di luar UGD, sembari berdoa agar Heru bisa di selamatkan
__ADS_1