Sang Pewaris Ilmu

Sang Pewaris Ilmu
Ritual


__ADS_3

Yoga pun menyerah untuk mencari keberadaan Dini, hingga akhirnya Yoga melaporkannya ke kantor polisi.


Yoga melaju menuju kantor polisi untuk membuat laporan orang hilang.


“Permisi pak,” ucap Yoga pada salah satu polis yang bertugas.


“Ya ada yang bisa saya bantu,” sahut polisi itu.


“Saya ingin membuat laporan orang hilang pak,” ucap Yoga.


“Baik mari ikut saya ke dalam.”


Yoga pun membuat laporan orang hilang, Yoga juga memberikan foto serta memberi tahu kan waktu saat Dini meninggalkan rumah.


Polisi pun bergerak, bi Ijah pun di mintai keterangan.


“Dengan siapa terakhir saudari Dini pergi bu?” tanya polisi itu.


“Kemarin siang di jemput mas Kevin,” sahut bi Ijah.


“Kalau boleh tahu Kevin ini saudara atau siapanya?”


“Mas Kevin itu pacarnya non Dini.”


“Baik kesaksian ibu kami simpan dulu, selanjutnya kami akan menanyai kepada orang yang bernama Kevin ini,” ucap Polisi itu.


Mereka semua pun beranjak dari rumah Dini, sebelumnya para polisi sudah meminta alamat lengkap tempat tinggal serta tempat kerja Kevin.


Polisi mencoba mendatangi Kevin di tempat kerjanya namun para tekan kerjanya bilang jika Kevin tidak masuk kerja sudah dua hari.


Polisi pun mulai meminta nomor Kebin yang bisa di hubungi, setelah mendapatkannya polisi langsung menghubungi Kevin.


Cukup lama Kevin baru mengangkat teleponnya.


“Halo selamat siang,” ucap Polisi itu sembari menyalakan tombol speaker yang ada di ponselnya.


“Ya siapa?” jawab Kevin ketus.


“Kami dari pihak kepolisian ingin menanyakan sesuatu kepada anda.”


“Nanya apaan?”


“Ini mengenai saudari Dini, salah satu kerabatnya melaporkan jika saudari Dini menghilang. Dan dari saksi yang saya tanyain jika saudari Dini terakhir terlihat sedang bersama anda,” tutur polisi itu.


“Benar kemarin siang saya jemput dia tapi cuma buat makan siang, setelahnya kami pulang masing-masing karena saya harus pergi ke luar kota,” sahut Kevin.


“Jadi anda tidak mengetahui dimana saudari Dini berada?” tanya polisi itu lagi.


“Gak pak, Dini bahkan gak hubungi saya sampai saat ini,” sahut Kevin.


“Anda dalam rangka apa ke luar kota?”


“Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan,” sahut Kevin singkat.


Dari ucapan itu polisi mulai menaruh curiga kepada Kevin, karena pihak polisi sudah mendatangi kantornya dan dari beberapa orang Kevin sudah dia hari tidak masuk ke kantor.

__ADS_1


“Baik kalau begitu terima kasih atas informasinya,” ucap polisi itu.


Telepon pun langsung di tutup oleh Kevin tanpa membalas ucapan polisi itu.


Polisi mencurigai Kevin tapi mereka masih belum memiliki cukup bukti untuk menuduh Kevin.


Waktu terus berjalan, hingga sore hari polisi tidak menemukan titik terang.


Di sisi lain Dini yang saat itu sudah di pindahkan ke rumah mbah Seno pun siap untuk mengadakan ritual.


Kevin sebelumnya sudah mengangkat jasad Radit yang sudah menjadi tulang belulang itu ke rumah mbah Seno.


Di sebelahnya sudah ada Dini dengan keadaan tidak sadarkan diri dan kaki serta tangannya terikat.


Hingga malam pun tiba, bulan sudah berada di titiknya.


“Ini waktunya,” ucap mbah Seno.


Mbah Seno mengambil Darah Dini dengan cara menyayat tangan Dini dan darahnya di tampung di sebuah wadah.


Mbah Seno juga mengambil seekor kambing hitam dan juga di ambil darahnya.


Mbah Seno memulai ritualnya dengan menabur kemenyan di atas tungku serta membaca mantra.


Setelah itu mbah Seno mengambil mangkok yang di isi darah Dini serta di campurkan darah kambing hitam.


Mangkok yang berisi darah pun di asap-asapkan oleh mbah Seno di atas tungku yang telah di taburkan oleh  serpihan kemeyan tadi.


Setelah selesai barulah mbah Seno menaburkan darah Dini di jenazah Radit.


Kevin yang juga menyaksikan ritual itu pun di panggil oleh mbah Seno.


“Baik mbah,” ucap Kevin.


Kevin pun menyuruh anak buahnya yang berada di ruang tamu mbah Seno.


“Agus dan Edi kemari!” pekik kevin memanggil mereka berdua.


Agus berserta Edi yang mendengar panggilan mbah Seno pun segera berjalan menghampirinya.


“Iya bos ada apa!” tanya Agus.


“Angkat jasad Dini dan buang ke dalam hutan!” perintah Kevin.


“Baik Bos,” sahut Edi.


Mereka berdua mengangkat jasad Dini ke masuk dalam mobil.


Edi yang bertugas mengemudikan mobil pun mulai menjalakannya dan pergi masuk meninggalkan rumah gubuk mbah Seno masuk ke dalam hutan.


15 menit kemudian karena di hutan itu pohon sangat rindang mereka berdua tidak dapat membawa mobil mereka masuk ke dalam hutan lebih dalam lagi.


“Gus bagaimana ini mobil tidak dapat masuk?” tanya Edi.


“Sebaiknya kita angkat saja jasad wanita ini dan berjalan kaki menuju ke dalam hutan,” saran Agus.

__ADS_1


“Benar juga apa katamu,” sahut Edi.


Akhirnya mereka berdua pun membawa jasad Dini masuk ke dalam hutan dan berjalan memasuki hutan yang sangat rindang itu.


“Edi kita bung di sini saja, di sini tidak mungkin ada orang bisa menemukannya,” kata Agus.


“Iya Gus, aku juga sudah lelah menggotong jenazah ini,” eluh Edi.


Mereka berdua pun telah sepakan membuang jasad dini di bawah pohon beringin tua serta rindang di sana.


Setelah selesai membuang jasad Dini Agus berserta Edi pun meninggalkannya kembali ke dalam mobil.


 Sesampainya di mobil Agus serta Edi masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan jasad tersebut.


Beberapa menit telah berlalu Kevin pun menyuruh mereka berdua untuk mengembalikan jasad kakaknya ke makamnya.


“Kembalikan jasad Abangku Radit ke tempat semula, kalian mengerti!” perintah Kevin kembali.


  “Baik bos,” sahut Edi.


Mereka berdua kembali mengangkat jasad Radit ke dalam mobil untuk di kembalikan ke tempatnya.


Di perjalanan menuju pemakaman Edi berserta Agus pun kembali berbincang-bincang.


“Aduh Gus, aku lelah ini mayat dari tadi di bawa ke mana-mana terus, tadi suruh mengambil habis itu di suruh kembalikan, dasar bos Kevin tidak tahu diri,” eluh Edi kembali.


“Ya sudahlah di kita turuti saja kemauan bos Kevin biar dia senang siapa tahu kita dapat imbalan yang besar,” Agus yang memberikan saran kepada Edi.


“Ya sudahlah aku ngikut apa katamu saja,” ujar Edi sembari mengela nafas panjang.


Satu jam telah berlalu jam pun sudah menunjukkan pukul satu dini hari mereka telah sampai di pemakaman.


Agus berserta Edi kembali menggotong mayat Radit dan berjalan menuju kuburannya.


Tidak perlu waktu lama untuk kembali menemukan kuburan Radit.


Mereka yang telah menemukan pun segera mengali kembali kuburan Radit.


Setelah selesai mengali Radit pun di kembalikan ke tempat peristirahatan terakhirnya.


“Tenang-tenang di sini ya Bos Radit,” ujar Edi sembari memasukkan tanah ke dalam kuburan Radit.


Namun telah separo jalan aksi mereka hampir saja ketahuan oleh penjaga kubur.


“Woi siapa di sana!” teriak penjaga kubur.


Edi berserta Agus yang mengetahui aksi mereka ketahuan pun segera berlari sekencang mungkin lalu menuju mobil.


Sesampainya di mobil Agus langsung menyalakan mobil dan meninggalkan pemakaman tersebut.


Sang penjaga kubur pun menuju kuburan Radit.


“Gila malam-malam gini masih ada saja orang yang berniat jahat mengambil mayat,” celetuk penjaga kubur yang tidak mengetahu jika mayat Radit telah di kembalikan.


“Untung saja aksi mereka segera aku ketahui jika tidak sudah hilang ini mayat,” sambungnya kembali.

__ADS_1


Penjaga kubur pun merapikan kuburan Radit  seperti semula.


    


__ADS_2