
“Abang tidak apa-apa?” tegur pengamen cilik itu.
Teguran dari pengamen cilik itu seketika menyadarkan lamunan Yoga.
“Eh iya, uang kamu sendiri tidak apa-apa?” tanya Yoga.
“Tidak bang tapi, uangku di rampas semua sama preman itu, memang dasar tuh preman dari dulu sampai sekarang bikin onar terus dan gak mati-mati,” kata Pengamen cilik tersebut.
“Sudah biarkan saja paling nanti tuh si preman akan mendapat batunya.”
“Iya Bang semoga saja tapi nanti aku mananya bagaimana, itu uang aku kumpulkan untuk makan soreku bersama adik-adikku di rumah, pasti mereka sedang menunggu ku di rumah berharap aku membawa makanan untuk mereka,” pengamen cilik itu bercerita kepada Yoga.
“Siapa namamu, dan ke mana orang tuamu?” tanya Yoga.
“Ibu sudah lama meninggal bang karena sakit, terus ayah entah ke mana awalnya pamit pergi cari pekerjaan sudah 5 tahun tidak pernah pulang kembali,” sahut Wahyu dengan wajah sedihnya.
“Lalu di rumah dengan siapa?” tanya Yoga
“Aku tinggal di rumah bapak bersama satu ceweku yang berusia lima tahun,” sahut Bayu.
Yoga yang mendengar kehidupan Wahyu begitu sangat miris ternyata Yoga mengira dirinya yang sangat memperhatikan di dunia ini, masih ada bernasib lebih menyedihkan ketimbang dirinya.
Yoga yang tidak sampai hati melihat wajah Wahyu pun merogoh kantong celananya mengeluarkan uang 100 ribu untuk di berikan kepada Wahyu.
Di belakang Wahyu terlihat seseorang bapak-bapak berkumis dengan memiliki tahi lalat di ujung alisnya.
“Ini uang untuk Wahyu, oh iya bapak Wahyu berkumis ya dan memiliki tahi lalat di ujung alisnya,” kata Yoga sembari memberikan yang untuk wahyu.
Wahyu pun menerima uang Yoga dengan hati yang sangat gembira, dan Wahyu juga sangat terkejut dari mana Yoga tahu akan ayahnya, pertemuan Yoga dan Wahyu pun baru hari ini.
“Terima kasih Ya bang, semoga Allah membalas kebaikan Abang, oh iya kok Abang tahu wajah ayah Wahyu, kalau Abang mau lihat foto ayah dan ibu Wahyu ini kedua orang tua Wahyu,” Wahyu yang memperlihatkan foto kedua orang tuanya di belakang ukulele kesayangannya.
Kedua foto orang tua di tempel Wahyu di belakang ukulele yang sering di pakainya untuk mengais rezeki.
Yoga yang melihat foto kedua orang tua Wahyu pun tersenyum, karena awalnya Yoga hanya melihat ayah dari Wahyu dan beberapa menit kemudian di samping Wahyu ada sesosok arwah ibu-ibu di sampingnya Wahyu.
__ADS_1
Kedua sosok orang tua Wahyu ternyata tidak meninggalkannya melainkan selalu menemani Wahyu ke mana pun ia pergi dalam mencari rezeki sekali pun.
“Wahyu, ayah Wahyu tidak jahat di selalu menemani Wahyu ke mana pun Wahyu pergi, dan ibu pun seperti itu, ayah Wahyu ingin Wahyu menjadi seseorang tentara ya,” Yoga yang menjelaskan kepada Wahyu.
Seketika Wahyu pun kaget mendengar kata-kata dari Yoga.
“Eh iya bang Yoga, kok Abang bisa tahu tentang Ayah. Apa sebenarnya Abang teman dari Ayah?” sahut Wahyu dengan wajah polosnya.
“Hahahah, Wahyu, Wahyu mana mungkin Abang teman dari Ayahmu bertemu saja Abang saja tidak pernah,” Yoga yang tertawa mendengar cerita Wahyu.
“Habis Abang Yoga ini aneh kok bisa tahu semua tentang orang tua Wahyu,” celetuk Wahyu yang keheranan.
“Ya sudah sana kamu pulang belikan makanan kasihan adekmu menunggu mu dari tadi siang mungkin ademu sedang lapar menanti makanan dari Wahyu,” Yoga yang mengingatkan Wahyu.
“Iya Juga ya Bang, ya sudah Wahyu pamit dahulu sekali lagi terima kasih Bang, kapan-kapan kita bertemu kembali,” balas Wahyu meninggalkan Yoga pergi.
Yoga yang merasa bahagia dapat membantu Wahyu kembali berjalan masuk ke dalam gang untuk kembali ke kostnya.
Sementara Wahyu yang mendapatkan uang dari Yoga pun masuk ke warteg bu Ani dan memesan dua nasi bungkus untuk ia bawa pulang.
“Bu, Wahyu pesan dua nasi bungkus ikannya ayam,” ujar Wahyu yang memberikan uangnya.
Bu Ani sendiri adalah seorang janda beranak satu, karena suaminya mengalami kecelakaan di saat bekerja di pabrik ia sekarang harus banting tulang untuk mengongkosi anaknya yang masih duduk di bangku SMA.
Hari mulai menjelang malam Yoga mulai di ganggu kembali oleh sosok arwah yang mendiami kostnya.
Di saat Yoga tengah merebahkan tubuhnya sembari memandang langit-langit kamarnya dirinya di kagetkan kembali dengan pintu kamar mandi yang tertutup kencang.
Yoga yang memang sedari kecil sering melihat makhluk tak kasat mata dari yang mengerikan hingga yang biasa saja.
Membuat dirinya sudah terbiasa dengan hal-hal semacam itu di tambah lagi ritual-ritual aneh yang pernah Yoga lakukan untuk mewariskan ilmu turun temurun dari sang ayah.
Yoga yang terkejut pun menengok ke arah kamar mandinya.
Tidak ada arwah di sana namun secara tiba-tib keran kamar mandi Yoga pun menyala.
__ADS_1
‘Ini pasti ulah arwah itu,' batin Yoga sembari mendengus kesal karena ia merasa arwah itu selalu mengganggunya.
Yoga pun berjalan menuju kamar mandi untuk mematikan keran kamar mandi yang tiba-tiba hidup.
Sesampainya di kamar mandi dan telah mematikan keran tersebut.
Setelah itu Yoga ingin mencukur rambut-rambut tipis yang telah tumbuh di daerah dagunya.
Sembari mencukur jengkot serta kumisnya Yoga pun melihat ke arah cermin kecil yang ada di dalam kamar mandi tersebut.
Di saat sedang memandang wajahnya di cermin kecil itu Yoga melihat ada sesosok arwah di pojok kamar mandi dengan wajah bersimbah darah dan leher yang terdapat luka bekas digorok.
Arwah laki-laki itu menatap tajam ke arah Yoga lalu sedikit demi sedikit berusaha mendekati Yoga.
Yoga yang sedari tadi memang terlihat kesal kepada arwah itu akhirnya angkat bicara.
“Sebenarnya kamu mau apa sih Bagas mengganggu aku terus,” ucap Yoga dengan spontan.
Arwah itu pun seketika kaget mendengar ucapan Yoga yang mengetahui namanya.
“Kamu tahu namaku?” tanya arwah Bagas.
“Iya aku tahu karena ulahmu sering mengganggu orang di kost ini sehingga membuatmu terkenal di kalangan tempat ini,” celetuk Yoga yang telah selesai mencukur jenggotnya dan kembali menuju tempat tidurnya.
Arwah Bagas pun mengikuti Yoga kembali dan berdiri di tepi tempat tidurnya.
“Eh Bagas kenapa sih kamu mengganggu orang-orang yang ada di kost ini?” tanya Yoga.
“Kamu mau tahu, akan aku beri tahu,” ujar arwah Bagas yang mendekati Yoga dan masuk ke dalam tubuh Yoga.
Seketika Yoga terdiam tidak dapat bergerak dan melihat sesuatu kejadian di dalam mata batinnya.
Di saat Bagas di bunuh oleh perampok itu, Bagas masih hidup dan sempat ingin meminta tolong, Bagas pun sadar suara gaduh di kamarnya itu terdengar teman sesama kost di sampingnya namun mereka tidak menghiraukan, dan di saat Bagas mulai sekarat ia tidak dapat berteriak Bagas berjalan menuju pintu dan memukul-mukul pintu tersebut berharap ada seseorang yang menolongnya.
Namun karena luka di lehernya membuat darah terus menerus mengalir Bagas pun kehabisan darah dan akhirnya meninggal.
__ADS_1
Keesokan paginya baru ada yang menemukannya tergelatak di lantai di dekat pintu masuk.