
Setelah memberikan nomer teleponnya Yoga kembali keluar dari cafe dan pulang menuju kostanya.
Diantar oleh ojek online pesanannya Yoga kembali ke kostnya.
Sesampainya di kost Yoga melepas pakaian yang ia kenakan untuk dirinya pakai lagi nanti.
Sesudah mengganti pakainya Yoga pun berjalan menuju tempat tidurnya.
Yoga merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.
Di saat dirinya ingin memejamkan matanya arwah Bagas tiba-tiba berada di sampingnya.
“Yoga bangun?” arwah Bagas yang mengagetkan Yoga.
“Ada apa sih Bagas?” tanya Yoga.
“Aku butuh teman,” ujarnya.
“Kenapa kamu tidak kembali ke alammu Bagas, lagi pula para perampok yang telah membunuhmu sudah masuk penjara semuanya.
“Kamu mau tahu kenapa aku belum tentang, ada seseorang yang aku cintai, dia menungguku, dan mungkin dia tidak tahu jika aku telah tiada. Aku ingin melihat dirinya bahagia Yoga mungkin itu akan membuat aku menjadi tenang dan tidak menjadi arwah penasaran kembali,” arwah Bagas yang menjelaskan kepada Yoga.
“Susah banget permintaanmu Bagas, aku tidak tahu siapa wanita yang kamu cari?” tanya Yoga.
“Kamu harus membantuku mencari dia Yoga, aku mohon sekali saja batu aku dan setelah kamu membantuku dan aku melihat dirinya telah bahagia aku janji aku akan kembali ke alamku,” arwah Bagas yang memohon.
Yoga terdiam tidak bisa berkata apa-apa namun karena arwah Bagas berkali-kali memohon kepadanya, akhirnya Yoga pun mengiyakannya.
“Ya sudah aku bantu, Bagas aku boleh tanya tidak bagaimana sih rasanya menjadi arwah?” tanya Yoga.
“Untuk yang satu itu aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu kecuali kamu menjadi aku, barulah kamu akan tahu rasanya menjadi arwah,” kata Bagas.
“Gila masa aku harus mati dulu.”
“Ya seperti itu prosesnya Yoga, dan arwah itu ingatan mereka sangat minim mereka akan mengingat kejadian di saat mereka hidup saja,” arwah Bagas yang menjelaskan kepada Yoga.
“Oooo seperti itu lalu kenapa mereka dapat menembus dinding?” tanya Yoga kembali.
“Sebenar tidak bisa Yoga.”
“Mas tidak bisa terus jika aku melihat mereka menembus dinding itu bagaimana?” tanya Yoga yang binggung.
__ADS_1
“Begini ingatan arwah itu terbatas ia akan mengingat sesuatu di masa hidupnya saja, contohnya misalkan dia bunuh diri di hutan-hutan, setelah beberapa tahun. Hutan itu berubah menjadi rumah-rumah penduduk. Karena arwah hanya mengingat kejadian di saat dirinya masih hidup adalah sebuah hutan makan terlihatlah arwah itu dapat menembus dinding,” ujar Bagas yang kembali menjelaskan.
Yoga masih terdiam mencerna kata-kata dari arwah Bagas.
“Kamu masih bingung, aku jelaskan lagi, aku mati du saat rumah bu Dewi sudah menjadi tempat kost secara otomatis dalam ingatanku semua ya seperti yang aku lihat, dan aku di kala mengangamu itu membuka pintu kamar mandi, sekarang kamu mengerti tidak Yoga?” tanya arwah Bagas.
“Iya sekarang aku telah mengerti, ooo jadi begitu ya lalu bagaimana mereka bisa mengerakkan benda? Yoga kembali bertanya.”
“Tidak semua bisa sih Yoga kaya manusia saja jika tenaga manusia kuat dia dapat mengangkat beban yang lebih berat sama halnya dengan arwah jika energi yang di hasilkan arwah itu kuat maka arwah itu dapa mengerakkan benda tersebut,” arwah Bagas kembali menjelaskan kepada Yoga.
Yoga pun menyimak semua penjelasan Bagas, dan akhirnya dirinya mengerti.
“Sekarang aku sudah mengerti,” kata Yoga.
“Ya sudah aku ingin beristirahat dahulu,” ucap kembali Yoga.
Tidak lama Yoga matanya mulai terlihat sayup-sayup dan akhirnya Yoga mulai tertidur.
“Ini anak malah tertidur katanya mau menemani aku?” ujar arwah Bagas yang kesal lalu menghilang.
Berjam-jam telah berlalu kini hari pun mulai menjelang sore.
Terdengar suara ponsel yang berbunyi di atas meja kamar Yoga.
“Hallo ini dengan mas Yoga.
“Iya pak benar, ini siapa ya?”
“Saya manager dari cafe rindu tadi kata karyawan saya mas Yoga ingin bekerja di cafe ini, dan kebetulan cafe rindu in sangat membutuhkan karyawan mas Yoga bisa datang sekarang dan langsung bekerja.”
“Bilang saja di panggil oleh pak Danu, nanti karyawan mengerti dan akan membimbing mas Yoga bekerja, apa mas Yoga bersedia menerima tawaran pekerjaan ini?”
“I-iya pak, saya mau sekali.”
“Jika begitu saya tunggu mas Yoga di cafe secepatnya.”
“Ba-baik pak Danu.”
Telepon pun di matikan oleh Danu Yoga yang mendengar kabar baik itu sangat senang sekali dirinya dapat di terima bekerja di cafe rindu.
“Yes, akhirnya aku di terima kerja di cafe itu” ucap Yoga dengan wajah sangat semringah.
__ADS_1
Yoga pun kembali melepas pakaiannya dan menggunakan kemeja berwarna biru malam kembali serta celana kain berwarna hitam.
Di saat Yoga tengah bersiap-siap arwah Bagas kembali muncul.
“Wih rapi banget mau ke mana kamu Yoga?”
“Aku di terima bekerja di cafe tadi dan hari ini aku langsung di suruh bekerja,” Yoga menjelaskan kepada arwah Bagas.
“Wah selamat ya, aku boleh ikut tidak,” sahut arwah Bagas sembari meringis ka arah Yoga.
“Tidak usah kamu di rumah saja nanti kamu mengganggu aku sedang kerja lagi.”
“Tidak Yoga aku janji tidak akan mengganggu kamu, boleh Ya, aku bosan di kamar kost terus.”
“Ya sudah tapi ingat ya jangan mengganggu aku sedang bekerja!” peringatan keras yang di sampaikan Yoga.
“Baik komandan,” kata Bagas yang wajah yang senang.
Yoga kembali memesan ojek online, setelah beberapa menit ojek online pesanan Yoga telah tiba dengan terburu-buru Yoga keluar dari kamar kostnya menuju driver ojek yang sedang menunggunya di luar.
Yoga yang telah keluar kost menghampiri dan berangkat menuju cafe tersebut.
Selang beberapa menit Yoga telah tiba di depan cafe tersebut, tidak lupa dirinya membayar ojek online yang telah ia pesan tadi.
Setelah itu barulah Yoga masuk ke dalam cafe itu.
Saat dirinya masuk Yoga di sambut ramah oleh beberapa pegawai laki-laki di sana.
“Ada yang bisa saya bantu Mas?”
“Saya tadi di telepon oleh pak Danu kata pak Danu saya di terima bekerja di cafe ini dan hari bisa langsung bekerja,” Yoga yang menjelaskan kepada pegawai laki-laki tersebut.
“Oh mas Yoga ya, iya tadi pak Danu sudah bilang kepada saya, mas Yoga bisa ikut saya ke belakang sekalian mengganti seragam mas Yoga,” ujar pegawai itu mengajak Yoga.
“Iya Bang, panggil saja Yoga, Yoga boleh tahu nama abang?”
“Panggil saja Adam.”
Yoga pun mengikuti Adam ke belakang untuk mendapat pengarahan serta mengganti pakainya dengan seram cafe tersebut.
Setelah Yoga selesai mengganti bajunya dengan seragam cafe tersebut Yoga pun mulai bekerja dengan arahan para karyawan senior yang mengarahkan Yoga dalam melayani pembeli, hingga menyajikan makanan di meja.
__ADS_1