Sang Pewaris Ilmu

Sang Pewaris Ilmu
Pertemanan Yoga dengan Arwah Bagas.


__ADS_3

Setelah melihat kematian Bagas yang sangat mengenaskan lewat mata batinnya, seketika arwah Bagas keluar dari dalam tubuh Yoga dan Yoga pun kini kembali tersadar.


“Jadi sekarang kamu kesal dengan mereka yang ada di kost ini tidak ada yang membantu atau memedulikan kamu?” tanya Yoga kepada arwah Bagas.


“Iya aku begitu kesal dengan mereka semua yang ada di kost ini di saat aku butuh pertolongan tidak ada satu orang pun yang peduli bahkan menolongku jadi itu alasannya mengapa aku mengganggu di kost ini,” ujar arwah Bagas.


“Bagas tidak semua dari mereka itu jahat, sama sepertimu ada dari mereka yang tidak mengganggu dan mengusik ketenanganmu di kost ini tapi kamu tetap mengganggu mereka, yah menurutku kamu dengan mereka yang menurutmu mereka semua jahat karena tidak ada yang peduli saat kamu seperti itu,” Yoga yang memberi kritikan kepada arwah Bagas.


Seketika arwah Bagas terdiam mendengar kata-kata dari Yoga.


Wajah Bagas yang berlumuran dara serta goresan luka di lehernya kini seketika menghilang.


Bagas kembali terlihat menjadi sosok laki-laki yang tampan dengan alis tebal mempunyai senyum yang menawan bertubuh profesional dan berkulit putih hampir sama tingkat ketampanannya dengan Yoga hanya saja di kala Yoga tersenyum terlihat manis dikarenakan lesung pipi yang mengiasi wajahnya ketika Yoga tersenyum.


Yoga pun melihat pakaian arwah Bagas yang ia pakai sekarang adalah pakaian di waktu Bagas di bunuh.


Bagas memakai kaos berwarna hitam dan celana levis.


“Kamu bisa berubah menjadi setampan ini Bagas?” tanya Yoga yang bingung.


“Iya karena, ucapanmu membuat hatiku merasa tenang tidak dendam kepada mereka kembali sehingga tubuhku kembali seperti di waktu aku hidup hanya saja terlihat wajahku yang pucat karena sekarang aku sudah menjadi arwah bukan manusia kembali,” arwah Bagas yang menjelaskan kepada Yoga.


“Ooo seperti itu, lalu kenapa kamu tidak kembali ke alammu, apa kamu masih menyimpan dendam kepada para perampok itu?” Yoga yang bertanya kepada arwah Bagas.


“Sudah tidak Yoga mereka sudah berada di penjara sekarang?”


“Lalu kenapa kamu masih berada di dunia ini?” tanya Yoga yang penasaran kepada Bagas.


“Karena seseorang yang aku cintai, dia pasti mencari-cari aku?” ujar arwah Bagas yang berjalan menuju jendela kamar.


Bagas memandang dari luar jendela kamarnya.


“Memang kekasih mu tidak tahu kamu tinggal di kost ini?” tanya Yoga menatap Bagas sedang berdiri di pinggir jendela kamarnya.


“Tidak Yoga, aku menutupi semua tentang diriku karena dia adalah bukan orang sembarangan, ayahnya pemilik perusahaan Garmen tidak mungkin aku menceritakan siapa diriku sebenarnya, akan tetapi kami saling mencintai, ada aku berjanji akan menikahi dirinya di tahun ini jika rancangan bangunan ku di terima. Karena aku hannyalah seorang arsitek biasa Yoga,” sahut arwah Bagas dengan wajah sedihnya sembari memandang jendela luar.


 “Sudah jangan di sesali, semua ini sudah ada yang mengatur tidak perlu di ratapi, nanti kamu akan ketemu kekasihmu kembali,”  celetuk Yoga memberikan nasehat kepada arwah Bagas.


Hari pun mulai semakin larut Yoga pun berulang-ulang kali menguap menahan kantuknya, sementara arwah Bagas tidak henti-henti bercerita tentang semasa dirinya hidup.

__ADS_1


Yoga yang sangat mengantuk pun tidak dapat menahan itu, sayup-sayup mata Yoga sembari mendengarkan cerita Bagas.


Sampai akhirnya Yoga tidak menahan kantuknya dan ia pun tertidur.


Beberapa menit kemudian, terdengar dengkuran dari Yoga yang membuat arwah Bagas berhenti bercerita kepada Yoga.


“Ini anak di ceritain malah tertidur dikiranya aku sedang mendongeng untuk dirinya,” arwah Yoga yang kesal karena Yoga tidak mendengar sepenuhnya cerita dirinya malah Yoga tinggal tidur.


 “Ya sudahlah biarkan dia beristirahat kali ini aku tidak mau mengganggu dirinya.


Arwah Bagas pun menghilang dari kamar kostnya Yoga.


Keesokan Yoga yang tidur dengan sangat nyenyaknya di sambut kembali oleh arwah Bagas yang sedari tadi duduk di bangku yang terletak di dekat meja.


“Sudah bangun Yoga, bagaimana tidurnya nyenyak?” tanya arwah Bagas.


 “Eh kamu Bagas, sejak kapan kamu di situ?” 


“Sebelum ini menjadi kost mu ini dulu kostku jadi terserah aku mau di mana saja.”


“Hahahah aku hanya bercanda ternyata arwah bisa marah juga ya,” sahut Yoga pergi menuju kamar mandi.


“Aku mau mandi!” teriak Yoga.


Beberapa saat kemudian Yoga yang telah selesai mandi pun bersiap-siap untuk keluar.


“Kamu mau ke mana Yoga?” tanya Bagas.


“Aku mau beli makan kenapa?” tanya Yoga.


“Aku ikut ya, aku sepi di sini baru kali ini aku menemui manusia yang bisa melihat arwah yaitu kamu, kamu mau jadi temanku,” kata Bagas yang mendekat di samping Yoga.


“Iya Bagas aku orangnya tidak memandang teman kok siapa saja mau arwah sekalipun,” celetuk Yoga.


“Tapi janji ya kalau keluar jangan mengganggu aku,” Yoga yang memperingati Bagas.


“Oke.”


Yoga pun keluar dari kamarnya melintas di saat anak-anak kost yang sedang kumpul di luar pelataran.

__ADS_1


“Eh aku kok merinding ya saat Yoga lewat,” kata salah satu anak kost.


“Iya aku pun,” sahut temannya.


Yoga yang mendengar ucapan mereka dari kejauhan pun tidak menghiraukannya malah sebaliknya di dalam batinnya Yoga tertawa.


Yoga berjalan keluar dari gang kecil itu menuju warteg bu Ani.


Saat di perjalanan menuju warteg bu Ani, ada seseorang yang memanggil dirinya.


“Bang Yoga!” terika Wahyu dari kejauhan menghampiri Yoga.


“Eh Wahyu, bagaimana ngamennya lancar?” tanya Yoga kepada Wahyu.


“Alhamdulillah lancar, oh iya Bang ada berita ini wahyu mau ngasih tahu Abang pokoknya berita ini sangat penting?” kata Wahyu yang sangat antusias.


“Berita apa sih?” tanya Yoga yang di buat penasaran.


“Bang Yoga tahukan preman yang mengambil uang Wahyu dan mukulin Abang.”


“Iya memangnya kenapa Wahyu?” tanya Yoga.


“Pereman itu mati Bang jasadnya di buang ke semak-semak, menurut saksi mata yang melihat kejadian itu ada preman lain yang sudah lama menaruh dendang dengannya dan akhirnya preman yang ngambil uang Wahyu itu di bunuh dan jasadnya di buang ke semak-semak,” Wahyu menceritakan informasi yang ia dapat dari warga setempat.


“Astagfirullah, balasan setimpal dia dapatkan,” ujar Yoga yang kaget mendengar berita dari Wahyu.


 “Iya Abang benar kata Abang bilang dia akan menerima balasan yang setimpal,” kata Wahyu.


Perkataan Wahyu mengingatkan akan ucapannya di saat dirinya marah di pukuli oleh preman itu Yoga yang secara tidak sadar mengucapkan di dalam hatinya preman itu akan mati.


Kejadian itu membuat dirinya teringat akan pesan di dalam buku dan seorang kakek penjual bunga.


Bahwa jika Yoga mengucapkan di kala dirinya marah maka akan terjadi kejadian yang akan menyelakakan orang tersebut.


    


 


 

__ADS_1


   


__ADS_2