
Dini menangis terisak di samping tubuh Reni yang saat itu terlelap, Dini merasa bingung apa yang sebenarnya terjadi pada wanita yang melahirkannya itu.
Dini pun kembali ke rumahnya untuk mengambil beberapa perlengkapan Reni yang saat itu harus segera diganti.
Saat Dini hampir sampai ke rumahnya, Tiba-tiba Dini bertemu dengan Yoga yang saat itu baru pulang dari kerjanya.
“Dini, malam-malam begini habis dari mana?” tanya Yoga.
“Habis dari rumah sakit,” sahut Dini.
“Loh siapa yang sakit?” tanya Yoga.
“Mama, kemarin sakit jadi aku bawa ke rumah sakit,” sahut Dini.
“Mau mampir?” tanya Dini.
“Boleh deh, tapi kita di teras aja ngobrolnya,” ucap Yoga.
Mereka pun masuk ke halaman, Yoga juga memarkirkan motornya di halaman Dini dan duduk di teras.
“Kamu duduk aja dulu aku bikinkan minum,” ucap Dini.
“Gak usah repot-repon Din,” ucap Yoga.
Selang beberapa menit Dini kembali sambil membawa segelas teh hangat untuk Yoga.
“Di minum dulu,” ucap Dini.
“Makasih Din, kebetulan haus,” ucap Yoga yang langsung menyeruput teh itu.
“Memang bu Reni sakit apa?” tanya Yoga.
Dini menggelengkan kepalanya, “Aku juga gak tahu, Tiba-tiba tubuh mama gatal-gatal dan lama-lama muncul ruam dan bernanah,” sahut Dini.
Yoga pun terdiam, tiba-tiba arwah Bagas muncul saat mereka berdua membicarakan Reni.
“Lalu apa kata dokter?”
“Tadi siang saat aku di perjalanan ingin kembali ke rumah sakit, pihak rumah sakit menghubungiku dan bilang kalau mama histeris sampai berguling di lantai. Saat aku sampai di sana wajah mama penuh luka dan dokter bilang mama kesakitan sampai histeris tapi saat di cek semuanya normal,” tutur Dini.
“Ini ada yang tidak beres,” ucap Bagas yang ada di belakang Yoga.
“Gak beres kenapa?” bisik Yoga.
“Ini bukan sakit biasa, pasti ada yang jahil atau bahkan dendam,” sahut Bagas.
“Ah masa sih?” sahut Yoga
“Iya benar Yoga, dokternya bilang gitu ke aku,” sahut Dini pada Yoga.
“Tuh kan kamu sih!” bisik Yoga pada Bagas karena Dini malah menyahuti ucapannya.
“Maaf Dini, sebelumnya apa ibu Reni punya masalah dengan orang lain?” tanya Yoga.
“Setahuku gak ada sih, kenapa memangnya?”
“Gak kok aku cuma tanya aja,” sahut Yoga.
Yoga beberapa kali melihat ke arah jam tangannya dan memutuskan untuk pamit pulang, Yoga pun berpamitan dengan Dini lalu pergi melaju menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah rupanya arwah Bagas masih berada di belakangnya, Yoga pun bertanya kepada Bagas.
“Memang kamu tahu ibu Reni itu sakit apa?” tanya Yoga.
__ADS_1
“Santet,” sahut Bagas.
“Hah? Apa iya? Lalu apa kamu bisa sembuhkan kaya yang kamu lakuin ke aku?” tanya Yoga.
“Aku gak bisa, ini kasusnya beda kalau kamu kan Cuma habis di gebukin orang. Kalau ini kita berurusan dengan jin serta dukun,” sahut Bagas.
“Lalu gimana?”
“Aku juga gak tahu, aku bingung,” sahut Bagas.
Mereka berdua pun terdiam karena bingung apa yang harus mereka lakukan.
“Kita tunggu beberapa hari dulu sampai aku menemukan solusinya,” ucap Bagas.
Bagas pun menghilang meninggalkan Yoga, Yoga pun memilih untuk beristirahat.
***
“Sakit! Aduh sakit! Sus ... Suster!” panggil Reni.
Reni kembali merasakan tabuhnya begitu sakit, terlihat sesuatu berjalan di dalam kulit wajahnya hingga membuatnya berteriak.
Reni merasa tidak tahan lagi, ia bangkit dari kasur itu lalu melepas infusnya hingga darahnya berceceran di lantai.
Terlihat hidungnya mulai mengeluarkan darah cukup banyak sampai membasahi bajunya.
Semakin lama rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, Reni semakin tak kuasa menahannya hingga ia menemukan sebuah pisau yang sebelumnya di gunakan Dini untuk mengupas buah.
“Aku sudah tidak tahan lagi!” ucapnya sembari memegangi wajahnya.
Tanpa pikir panjang Reni menyayat wajahnya itu, sambil berteriak kesakitan.
Hingga sesuatu berbentuk lintah berwarna hitam keluar dari wajahnya lintah itu melata berjalan ke lantai.
Reni pun tergeletak di lantai dengan bersimbah darah sambil memegang sebuah pisau, anehnya dari pihak rumah sakit seperti tidak mendengar teriakan lirihnya itu.
Saat mereka datang tubuh Reni sudah sangat pucat dan dingin, dokter yang datang pun langsung menyatakan jika Rena sudah meninggal dunia.
Tubuh Reni di pindahkan untuk di bersihkan.
Pukul 02.30 ponsel Dini berdering Dini yang saat itu masih terjaga pun mengangkat telepon itu.
“Halo?” ucap Rini di balik telepon.
“Selamat pagi, kami dari pihak rumah sakit ingin memberi tahukan jika ibu anda yang bernama Reni Mahda telah meninggal dunia.”
Kabar buruk itu seakan menjadi tamparan keras bagi Dini, ia tidak menyangka jika orang yang ia sayangi itu pergi secepat itu.
Dini menangis dan terduduk di lantai, tangisannya begitu lirih hingga membuat dadanya sesak.
Dini menghubungi teman dekatnya yang bernama Kevin untuk mengantarkannya ke rumah sakit, karena dengan kondisi seperti ini ia tak sanggup berjalan dan berangkat sendiri ke rumah sakit.
“Ha-halo Vin,” ucapnya sambil terisak.
“Ya Dini ada apa?”
“Vin, aku gak tahu lagi harus hubungi siapa tapi aku mohon tolong antarkan aku ke rumah sakit sekarang,” ucap Dini salam telepon sambil menangis.
“Loh memangnya ada apa Din? Kamu kok nangis?”
“Mamaku meninggal Vin dan sekarang di rumah sakit,” ucap Dini.
“Ya sudah aku ke sana sekarang. Kamu tunggu aku ya.”
__ADS_1
Telepon pun di tutup Dini menyiapkan perlengkapannya di dalam tas dan menunggu jemputan dari Kevin datang.
Sekitar 10 menit sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Dini.
Dini langsung keluar dan berlari menuju mobil itu.
“Ayo Vin,” ucapnya dengan mata sembab.
“Oke kita berangkat sekarang.”
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, sesampainya di sana Dini langsung berlari sembari menangis masuk ke sebuah ruangan tempat di mana ibunya berada.
Di sana Reni sudah terbujur kaku dengan di tutup oleh kain putih, perlahan Dini membuka penutup itu dan melihat kondisi Reni.
“Mama! Kenapa mama tinggalin Dini mah!” ucap Dini sembari mengguncang-guncang tubuh Reni yang sudah kamu itu.
“Ma, bangun ma! Ini Dini udah datang ma, bangun!” ucap Dini histeris.
“Dini udah Din, kamu Jagan begini kasihan mama kamu,” ucap Kevin.
“Tapi Vin mamaku belum mati Vin!” ucap Dini.
Dengan sigap Kevin memeluk Dini dan membawanya keluar dari kamar itu untuk memenangkan Dini.
Hingga seorang dokter menghampiri Dini.
“Dokter! Mama saya belum mati kan dok? Dokter kan sudah bilang ke saya kalau akan menyelamatkan mama saya!” ucap Dini.
“Maafkan kami, ini di luar kendali kami dan kami turut berduka cita,” ucap Dokter itu sembari menundukkan kepalanya.
Mendengar ucapan dari dokter itu Dini semakin histeris seakan tidak Terima dengan apa yang telah terjadi.
Waktu berjalan sangat cepat, langit gelap kini menjadi terang. Suara ngiungan sirine pun menggema di sepanjang jalan mengiringi kepergian Reni dan mengantarkannya ke rumah duka.
Beberapa tetangga cukup terkejut karena mereka tidak menyangka jika Reni pergi secepat itu.
Saat jasad Reni sampai di rumah duka, Dini mencoba mengabari sanak keluarganya serta Yoga.
Melalui pesan singkat Dini memberi tahukan jika Reni telah meninggal dunia.
Di sisi lain saat Yoga membuka pesan itu ia kaget dan seakan tidak percaya dengan apa yang menimpa Dini.
Dengan cepat Yoga pergi menuju rumah duka, di sana para karyawan cafe juga telah berkumpul memanjatkan doa untuk mendiang Rini.
“Din, Yoga turut berduka cita ya,” ucap Yoga dengan wajah murung.
“Iya,” sahut Dini singkat.
“Yang sabar Din, kamu tidak sendirian kamu masih punya teman-teman yang lainnya dan juga aku,” ucap Yoga.
“Ucapanmu itu bikin aku teringat sama seseorang yang pernah pergi,” sahut Dini.
“Aku hanya gak percaya aja, mama pergi dengan begitu cepat dan yang membuatku sedih aku tidak berada di sampingnya saat itu,” ucap Dini kembali menitikkan air mata.
“Kita tidak pernah tahu rencana Tuhan Din, kita semua juga calon mati, hanya waktunya aja yang berbeda. Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri Din,” ucap Yoga.
Dini tersenyum kecil dalam tangisnya, “kenapa kamu sangat mirip dengannya,” ucap Dini kembali terisak.
‘Dengannya siapa sih? Apa Bagas maksudnya?’ batin Yoga.
Jenazah Reni selesai di mandikan dan dikafankan, setelahnya di shalatkan.
Hingga Reni di antarkan ke peristirahatan terakhirnya, sanak saudara yang datang pun sangat terpukul dengan kepergian Reni karena Reni di kenal dengan sosok yang ramah serta suka menolong.
__ADS_1
Jenazah Reni di masukkan ke liang lahat, saat itu Dini menangis tanpa henti. Kini Dini tidak bisa lagi berbincang, berbagi cerita kepada ibunya ia hanya bisa mengingatnya dalam kenangan serta album foto.
Rasa sakit dan sesak di dadanya membuatnya tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Kevin mencoba menenangkannya dan memeluk Dini dengan sangat erat untuk sekedar meringankan kesedihannya.