
“Yang tabah ya Bu kami turut berduka cita,” ucap Adam.
“Terima kasih kalian berdua sudah datang, silakan masuk” sahut Dini.
Yoga berserta Adam pun masuk ke dalam rumah Dini.
Namun di saat Yoga tengah ingin masuk selintas Dini seperti melihat Bagas yang berada di belakang Yoga.
“Mas Bagas,” celetuk Dini dengan spontan.
Dini pun masuk ke dalam rumahnya mencari keberadaan Bagas, namun di saat dirinya melihat di sekitar dirinya Bagas tidak ada di sana.
Dini terdiam sembari masih memperhatikan keadaan di sekitarnya batinnya berkata-kata.
‘Apakah yang aku lihat tadi benar Mas Bagas, tapi di mana dirinya,” ujar Dini yang masih sangat penasaran dengan apa yang ia lihat tadi.
Beberapa menit kemudian semua proses berjalan dengan lancar mereka pun ikut mengantarkan jenazah Heru ke tempat peristirahatan terakhir.
Sesampainya di pemakaman isak tangis kembali memecah ketika jenazah pak Heru mulai di masukkan keliang lahat.
Reni menangis histeris setelah tanah-tanah merah menutupi jenazah suaminya sampai membentuk gundukan.
Para kerabat, tetangga, serta keluarga memberikan doa sembari menaburkan bunga di atas kuburan Heru.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian para kerabat, tetangga serta keluarga yang mengantarkan Heru ke tempat terakhir kembali pulang ke rumah masing-masing.
“Ayo Yoga kita pulang!” Ajak Adam.
“Bang Adam, duluan saya aku mau menemani bu Dini dulu, biar nanti aku naik ojek saja ujar Yoga kepada Adam.
“Ya sudah kalau begitu semoga sukses mendekati bu Dini,” ledek Adam sembari meninggalkan Yoga.
Yoga kembali menghampiri Dini berserta sang ibu di atas pemakaman pak Heru.
“Ayo bu kita pulang?” ujar Dini yang mencoba mengajak ibunya.
“Pah, aku tidak sanggup jika harus sendiri, aku butuh kamu Pah,” ujar Reni sembari menangis histeris di atas kuburan Heru.
Dini yang mengetahui sang ibu dalam keadaan tidak sadarkan diri secara spontan berteriak-teriak meminta tolong berharap ada seseorang di sekitar menolong sang ibu.
Yoga yang melihat hal tersebut dari kejauhan berlari ingin membantu.
“Kenapa Bu?” ujar Yoga yang berada di sampingnya.
“Yoga aku minta tolong, ibuku pingsan, bisa kamu membantu mengangkat ibuku,” pinta Dini.
“Baik Bu,” ujar Yoga.
__ADS_1
Yoga pun mengangkat tubuh Reni berjalan membawanya ke dalam mobil.
“Yoga! Kamu ikut aku pulang ke rumah bantu aku mengangkat ibu,” pinta Dini kembali.
Dari dalam mobil terlihat Reni masih terisak sembari memejamkan matanya dan memanggil-manggil nama suaminya.
Yoga berusaha menyadarkan Reni yang terus meracau memanggil nama suaminya.
“Bu sabar bu ikhlaskan kepergian suami ibu agar tenang di sana,” ucap Yoga.
Yoga mengambil wewangian dan meletakkan di bagian indra penciuman Reni.
Setelah beberapa menit, Reni mulai membuka matanya llu kembali menangis histeris.
“Ya Allah pa kenapa kamu bisa berakhir seperti ini,” ucap Reni sembari menangis.
“Sabar bu, ikhlaskan suami ibu,” ucap Yoga.
“Aku gak rela gak ikhlas suamiku di perlakukan seperti ini, apa salah keluargaku!” pekiknya.
Suaranya sangat keras hingga membuat Yoga menutup telinganya.
Reni berteriak sembari mengumpat entah siapa yang Reni umpat namun hal itu membuat Yoga jadi kebingungan dan bertanya-tanya apa yang terjadi di balik kepergian Heru.
__ADS_1
Mobil terus melaju menyusuri jalan, meninggalkan kompleks pemakaman itu hingga mereka semua sampai di rumah.