Sang Pewaris Ilmu

Sang Pewaris Ilmu
Masa lalu Dini


__ADS_3

“Apa jangan kematianmu ada sangkut pautnya dengan hal ini, lalu sosok arwah di belakang Dini itu siapa?” Yoga kembali memikirkan di balik semua ini.


“Temui Dini, Yoga kita akan mendapat petunjuknya dari dia. masih ada yang Dini rahasiakan dengan kita,” Bagas yang memberikan saran kepada Yoga.


“Iya benar katamu Bagas baiklah aku akan meneleponnya mencoba menanyakan apa yang sebenarnya terjadi?” sahut Yoga.


Yoga mengambil ponselnya yang berada di atas meja kamarnya Yoga berjalan untuk mengambilnya setelah itu Yoga mulai menelepon Dini.


“Hallo Dini kamu hari ini sibuk tidak bisa kita bertemu di taman?”


“Ada apa Yoga seperti penting sekali.”


“Nanti aku jelaskan jika kita sudah bertemu,” sahut Yoga lalu mematikan ponselnya.


Yoga mulai bersiap-siap pergi ke taman dengan di antar ojek online yang ia pesan.


Beberapa menit kemudian Yoga keluar dari kostnya menuju ojek online yang telah menunggu dirinya.


Yoga mulai menaiki motor ojek tersebut dan diantar ke taman.


15 menit kemudian Yoga yang telah sampai di taman terlebih dahulu menunggu Dini di bangku yang telah di sediakan di taman itu.


Sembari menunggu Dini, sesekali Yoga berbicara dengan arwah Bagas.


Terkadang jika ada pengunjung taman yang melihat Yoga mereka memperhatikan Yoga.


Karena melihat Yoga berbicara sendiri tanpa ada orang di sisinya.


Tidak berselang lama Yoga melihat Dini dari kejauhan Yoga pun mulai memanggil Dini.


“Dini di sini!” seru Yoga.


Dini yang melihat Yoga dari kejauhan pun berjalan menghampirinya.


“Ada apa Yoga?” tanya Dini yang duduk di samping Yoga.


“Ada hal yang ingin aku tanyakan.”


Yoga mulai bercerita tentang arwah yang ada di belakang Dini pertama kali dirinya melihat Dini.


“Pertama kali aku melihat mu aku melihat sosok arwah yang sangat kuat di belakang mu.”


“Arwah?” tanya Dini yang bingung.


Dini yang awalnya tidak percaya dengan hal semacam itu namun ketika Yoga pernah membuktikannya ketika Dini dapat melihat arwah Bagas barulah Dirinya percaya kepada Yoga.


“Dini bisa kah kamu menceritakan tentang Kevin?” 


“Kevin?”


“Ya Din semua ini ada kaitannya di masa lalumu dan juga Kevin, kematian orang tuamu dan mungkin saja kematian bang Bagas ada sangkut pautnya dengan semua ini,” Yoga mulai menjelaskan kepada Dini.


Dini pun mulai bercerita kepada Yoga.


Satu tahun yang telah berlalu sorang pria bernama Radit jatuh hati kepadanya dan mencoba untuk mendekati Dini, namun Dini tidak ada hati dengan orang tersebut dan lebih menaruh perasannya kepada Bagas seseorang yang pernah menolongnya dikala Dini sedang kecopetan.


Dari situlah Dini dan Bagas mulai saling dekat dan akhirnya menaruh rasa satu sama lain.


Bagas mulai mengutarakan isi hatinya kepada Dini dan Dini pun menerima Bagas sebagai kekasihnya saat itu.

__ADS_1


Tiga bulan telah berlalu Bagas mulai ingin menjalin hubungan ini dengan serius.


Bagas meminta Dini untuk menunggunya selama tiga bulan, namun di saat Dini telah menunggunya tiga bulan tidak ada kabar dari Bagas ponsel Bagas pun tidak aktif kembali, Dini mulai mencari-cari keberadaan Bagas namun tidak kunjung menemuinya.


Hati Dini mulai hancur rasa percayanya kepada Bagas mulai hilang dengan sangat kesal Dini pun menerima pinangan dari Radit.


Awalnya kedua orang tua Dini setuju dengan acara pernikahan mereka yang akan di adakan sebulan lagi persiapan sudah matang tinggal menunggu hari pernikahan mereka.


Hingga akhirnya acara pernikahan pun akan berlangsung pada hari itu.


Namun Dini tidak keluar sama sekali.


Kedua orang Dini terutama sanga ayah Heru yang sangat mencintai putri semata wayangnya pun mulai khawatir. 


Di pagi itu Heru menanyakan Dini kepada istrinya.


“Mah, di mana Dini ini para perias pengantin sudah datang untuk merias nya?” ucap Heru yang telah rapi dengan jas hitamnya.


“Dari tadi pagi mamah tidak melihatnya Pah, mungkin masih di kamar,” sahut Reni.


Heru terdiam mendengar ucapan sang istri pikirannya mulai negatif.


‘Mengapa anak ini tidak kunjung keluar dari kamar padahal hari ini adalah hari bahagia untuknya,’ batin Heru.


Heru yang mulai cemas kepada Dini pun berjalan ke kamar Dini.


Sesampainya di pintu kamarnya Heru memanggil-manggil Dini sembari mengedor-gedor pintu kamarnya tapi tetap saja tidak ada jawaban terhadap Dini.


“Bagaimana ini di dalam kamar tidak ada suara Dini,” Heru yang mulai panik.


Tidak lama kemudian Radit beserta keluarga dan adiknya pun tiba, Radit yang sangat senang dengan acara pernikahan ini pun mencari Dini.


“Dia di kamar mulai tadi malam tidak kunjung keluar,” sahut Heru.


“Papah sudah memanggil Dini?” tanya Radit kembali.


“Sudah namun tidak kunjung di dengarnya.”


“Bagaimana kita dobrak saja pintunya kamarnya,” saran dari Radit.


“Iya benar apa katamu,” Heru yang setuju.


“1,2,3 dobrak,” ucap Radit memberi aba-aba.


Mereka semua yang melihat keadaan Dini begitu terkejut.


Dini tergeletak di tempat tidurnya tidak sadarkan diri dengan tangan yang masih menggenggam boto obat penenang.


Terlihat di meja kamar serta di lantai kamarnya banyak berserakan obat penenang di sana.


Semua orang yang berada di sana mulai panik Radit mendekati tubuh Dini yang tidak sadarkan diri.


“Pah, Dini masih hidup telpon ambulan!” perintah Radit.


Heru merogoh kantongnya dan mengambil ponselnya.


Setelah itu Heru mulai menelepon ambulan.


Tidak berselang lama tamu undangan yang telah hadiri di rumah Dini mulai bertanya-tanya karena mendengar mobil ambulan yang telah tiba di rumah Dini.

__ADS_1


Para tim medis pun segera keluar dari mobil lalu mengangkat tubuh Dini yang tidak sadarkan diri ke dalam ambulan Dini pun dengan cepat di larikan ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit Dini segera di masukkan di ruang UGD.


Dokter yang menanganinya mencoba semampunya untuk menolong Dini.


Satu jam telah berlalu Dini di antara hidup dan mati saat itu.


Namun nasib baik masih memihak kepadanya Dini dapat di selamatkan dan di pindahkan ke ruang rawat inap namun dirinya masih belum sadarkan Diri.


Dokter yang menangani Dini pun memberitahukan kepada kedua orang tua Dini di dengar oleh Radit berserta keluarga.


“Putri bapak mengalami overdosis obat penenang untung saja belum terlambat jadi masih bisa kami selamatkan, dan sekarang putri bapak berada di ruang rawat belum sadarkan diri,” Dokter yang menjelaskan keadaan Dini kepada keluarganya.


“Terima kasih Dok telah menolong putri kami,” ujar Heru.


“Iya Pak ini sudah tugas kami menolong semaksimal mungkin pasien,”  sahut Dokter meninggalkan mereka semua.


Kedua orang tua Dini berserta Radit calon dari Dini pun mendatangi Dinj di kamar rawat.


Sesampainya di kamar rawat mereka melihat keadaan Dini yang masih tergeletak lemas di tempat tidurnya tidak sadarkan diri.


Satu jam telah berlalu kedua orang tua Dini berserta Radit yang menunggu Dini sadar pun sangat gembira.


“Dini akhirnya kamu telah sadar,” kata Radit mendekati Dini di tempat tidurnya.


“Kenapa Dini tidak mati saja kenapa kalian menyelamatkan Dini?” ujar Dini sembari menangis.


“Ada apa sebenarnya Nak dengan mu?” tanga Reni dengan lembut.


Dini yang tidak kuasa menahan air matanya pun tumpah mengalir ke pipinya.


“Dini tidak ingin menikahi Radit mah, Pah. Dini tidak mencintainya,” ucapan Dini pukulan yang sangat hebat untuk Radit.


Hatinya terasa sakit ketika Dini menolaknya pernikahan ini yang harusnya sudah berlangsung hari ini.


Di tambah lagi kedua orang tua Dini pun mengiyakan ucapan anaknya menolak pernikahan ini.


Kedua orang tua Dini sangat menyangyanginya sehingga mereka membatalkan pernikahan ini agar Dini tidak merasa tertekan kembali.


Hati Radit begitu hancur ia seperti di permainkan oleh Dini berserta keluarganya.


“Baiklah Dini kalau memang ini keputusanmu aku tidak memaksanya, tapi hanya satu permintaanku terimalah cincin pernikahan yang telah aku siapkan untukmu,” ujar Radit yang menaruh cincin itu di jari manis Dini.


“Aku pamit dulu ya nanti aku akan kesini kembali ingin mengganti pakaianku,” ujar Radit dengan tersenyum.


“Terima kasih Radit kamu dapat mengerti aku,” ujar Dini.


Radit tidak membalas ucapan Dini ia hanya tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


Setelah itu Radit pun keluar dari ruangan Dini ingin kembali ke rumah.


Di dalam perjalanan menuju rumah, Radit membawa mobilnya sendiri sedangkan kedua orang tuanya beserta adiknya membawa mobil mereka sendiri.


Radit yang pikirannya kalut serta hatinya sangat terluka mengingat ucapan Dini menolaknya secara tidak sadar menginjak pedal gas dengan kecepatan yang tinggi.


Hingga Radit pun menyelip sebuah mobil truk namun karena dengan kecepatan yang tingginya Radit tidak dapat mengendalikan mobilnya yang oleng dan kecelakaan beruntun pun terjadi mengenai 4 buah mobil termasuk mobil truk tersebut.


10 korban luka-luka dan 5 di antaranya meninggal di tempat termasuk Radit.

__ADS_1


__ADS_2