
Keesokan harinya Dini tengah bersiap-siap untuk pergi ke kost Yoga.
Dini yang telah selesai menyantap sarapan paginya segera bergegas keluar dari rumah menuju mobilnya yang sedang terpakir di garasi.
Sesampainya di sana Dini mulai menaiki mobilnya lalu menjalankannya menuju kost Yoga.
Sementara Yoga sendiri telah selesai mandi dan bersiap-siap untuk pergi bersama Dini.
Satu jam telah berlalu jam pun telah menunjukkan pukul 09.00 Dini telah sampai di depan gang kecil tempat di mana kost Yoga berada.
Dini mengambil ponselnya lalu menelepon Yoga.
“Hallo Yoga kamu sudah siap?”
“Sudah bu dari tadi,”
“Aku sudah berada di depan kostmu.”
“Iya bu Din, aku akan segera keluar,”
“Iya sudah aku tunggu,” kata Dini sembari mematikan telepon genggamnya.
Yoga pun berjalan keluar dari kostnya menuju mobil Dini yang berhenti di depan gang kecil.
Beberapa menit kemudian Yoga telah sampai dan segera menaiki mobil Dini.
Dini pun bertukar tempat duduk dengan Yoga kali ini Yoga yang akan mengemudikan mobil Dini.
“Sudah lama menunggunya Bu Dini?” tanya Yoga sembari menjalankan mobil Dini.
“Belum baru saja sampai, kita mau bertemu mas Bagas di mana sebenarnya Yoga?” tanya Dini yang mulai penasaran.
“Nanti ibu akan mengetahuinya,” ujar Yoga dengan tersenyum ke arah Dini.
Karena jarak perjalanan mereka cukup jauh untuk melepas rasa bosan mereka berdua pun saling mengobrol dan bercanda satu demi sama lain.
Dini pun mulai bercerita tentang dirinya kepada Yoga saat bertemu dengan Bagas.
“Bu Dini sudah berlama lama dengan bang Bagas?” tanya Yoga.
“Sebenarnya tidak terlalu lama Yoga, pertemuan kami sangat singkat tapi hatiku sudah yakin kepadanya. Karena pertemuan kami yang terlalu singkat aku tidak terlalu mengenal mas Bagas lebih jauh sama halnya seperti Bagas yang belum mengenal siapa aku dan keluargaku,” Dini yang mulai bercerita kepada Yoga.
“Beruntung sekali abang Bagas di cintai seorang yang cantik dan juga baik hati,” kata Yoga.
Mendengar ucapan Yoga, Dini pun menoleh ke arah Yoga lalu tersenyum.
“Wanita yang ada di dalam hatimu juga sangat beruntung bisa mendapatkan hatimu,” celetuk Dini.
Yoga yang mendengar itu pun sontak saja terdiam.
‘Kalau saja kamu tahu Dini, sebenarnya wanita yang ada di hatiku itu kami,' batin Yoga.
Dini yang melihat Yoga terdiam mulai mengajak Yoga untuk mengobrol kembali.
“Berapa jam kita akan sampai Yoga?” tanya Dini.
“Kalau tidak salah 3 jam Bu.”
“Oh iya Bu, ibu percaya dengan hal mistik atau arwah seseorang yang telah meninggal dengan mati penasaran akan gentayangan,” sambung Yoga.
“Sebenarnya aku tidak percaya dengan hal semacam itu, karena menurutku hal semacam itu tidak masuk akal,” kata Dini yang menepis ucapan Yoga.
__ADS_1
“Berti ibu tidak percaya dengan seseorang yang dapat melihat arwah?” tanya Yoga kembali.
“Iya aku tidak percaya dengan hal semacam itu Yoga,” sahut Dini.
Yoga terdiam mendengar ucapan Dini, ia bingung bagaimana caranya agar Dini dapat percaya dengan apa yang dia lihat.
“Tapi Bu jika ibu sendiri yang bisa melihat arwah tersebut apakah ibu akan percaya?” Yoga bertanya kembali.
“Aku tidak tahu Yoga, antara pikiran dan mataku yang bisa melihat mungkin akan berlawanan,” Dini yang menjelaskan.
“Sebenarnya ada apa Yoga, sedari tadi kamu membahas hal mistik terus apa yang terjadi ceritakan kepadaku,” Dini yang kembali penasaran.
Karena Yoga seperti menutupi sesuatu hal kepada dirinya.
“Tidak apa-apa Bu, aku hanya bertanya saja,” sahut Yoga.
Tiga jam telah berlalu Yoga telah masuk ke desa di mana Bagas di makamkan.
Yoga yang telah berhenti di tempat pemakaman umum.
“Kenapa kita berhenti di pemakaman ini? Apakah kamu mau ke makam orang tuamu dahulu Yoga?” Dini yang bingung dengan semuanya.
“Sudah nanti ibu akan tahu, ibu Dini ikut saja ayo kita turun,” kata Yoga.
Dini tidak berkomentar apa-apa ia hanya berdiam saja mengikuti perintah Yoga.
Mereka berjalan menyelusuri pemakaman.
Setelah sampai di sebuah makam yang terlihat belum lama dengan tulisan nisan yang masih terlihat dengan jelas.
“Kita sudah sampai Bu di rumah bang Bagas?” celetuk Yoga.
“Kamu jangan bercanda Yoga ini kuburan bagaimana bisa menjadi rumah mas Bagas,” Dini yang terlihat kesal karena menurutnya Yoga sedang mempermainkan dirinya.
Dini pun menoleh ke arah makan di samping dirinya berdiri tertulis nama Bagas Pratama Bin Arifin meninggal 8 Maret 2022.
Dini terkejut melihat makam tersebut. Air matanya mulai mengenang di kelopak matanya sampai akhirnya tidak dapat Dini bendung lalu mengalir di pipinya.
“Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!” pekik Dini di atas makam Bagas.
“Iya Bu, itu bang Bagas sekarang dia sudah tenang di alamnya, Bang Bagas berpesan kepadaku untuk memberitahukan hal ini kepada ibu Dini dan juga bang Bagas akan tenang di saat melihat ibu Dini telah berbahagia bersama orang lain,” ucap Yoga.
Dini yang mendengar ucapan Yoga menangis histeria.
Yoga pun mendekati Dini dan mencoba untuk menenangkan Dini.
Dini yang merasa hancur dirinya di tinggal oleh orang yang ia sangat sayangi sontak saja memeluk Yoga yang berada di sampingnya.
“Kenapa Yoga, kenapa ini semua terjadi kepadaku apa salahku, sampai semua orang yang aku sayangi pergi meninggalkan diriku,” Dini yang meluapkan emosinya di pelukan Yoga.
“Tidak Bu, Bu Dini tidak salah, aku berjanji akan menemani ibu sampai ibu benar-benar bahagia,” Yoga yang mencoba menenangkan Dini.
Dini awalnya tidak percaya dengan Bagas yang telah meninggal namun dengan ucapan Yoga yang dapat meyakinkan Dini.
Akhirnya Dini mulai percaya dengan semuanya.
Dini mulai merasa tenang dan melepas pelukan Yoga, Dini mulai meraba nisan Bagas dan berbicara di atas makam Bagas.
“Mas Bagas, maafkan aku, aku kira selama ini mas pergi meninggalkanku bersama yang lain, tapi aku mencoba menepis prasangka tidak baikku kepada dirimu Mas, aku tetap berusaha menunggumu hingga saat ini walau akhirnya kenyataan pahit yang aku ketahui maafkan aku Mas,” ucap Dini menangis sembari mengelus-elus nisan Bagas.
Bagas yang ada di samping Dini pun memunculkan dirinya.
__ADS_1
Yoga melihat raut wajah gembira bercampur rasa haru di alami Bagas.
Yoga yang melihatnya merasa sedih berusaha untuk membuka mata batin Dini mencoba melihat Bagas untuk yang terakhir kalinya.
“Bu coba pejamkan mata ibu, aku akan mencoba membatu membuka mata batin ibu agar ibu dapat melihat Abang Bagas,” perintah Yoga.
Dini pun mulai memejamkan matanya mengikuti apa yang di perintahkan Yoga, setelah itu Yoga mulai membacakan mantara di kedua telapak tangannya dan meniupnya lalu Yoga mengusap kedua mata Dini dengan tangannya.
“Buka mata ibu sekarang!” Perintah Yoga kembali.
Dini mengikuti perintah Yoga perlahan Dini membuka matanya pandangannya belum terlihat jelas masih kabur.
Namun lama kelamaan pandangan Dini mulai jelas namun Dini tidak melihat apa-apa Dini pun bertanya apa yang Yoga lakukan kepada durinya.
“Apa yang kamu lakukan kepada diriku Yoga?” kata Dini bertanya kepada Yoga.
“Coba liat di samping ibu,” Yoga memerintahkan Dini kembali.
Dini pun mengikuti perintah Yoga menoleh ke arah samping kirinya terlihat wajah Bagas yang sangat jelas di samping Dini, namun tampak pucat.
Dini pun secara spontan memeluk arwah Bagas yang ia lihat, karena rasa rindu kepada Bagas.
Akan tetapi itu semua tidak bisa Dini lakukan Bagas dapat Dini lihat dengan jelas namun tidak dapat ia sentuh, Bagas hanya seperti angin yang tidak dapat ia sentuh.
Namun dengan bisa melihat Bagas membuat Dirinya sangat senang dan bisa meluapkan kerinduannya.
“Mas kenapa kamu tidak bilang kalau alam kita sudah berbeda Mas, aku menunggumu sejak lama tapi kamu tidak kunjung untuk datang?” kata Dini yang menangis.
“Awalnya aku mencarimu ke mana-mana Dini, tapi aku tidak bisa menemukanmu untung ada Yoga yang dapat melihat diriku dengan kelebihannya dan dari dia lah yang membantu aku untuk memberitahukan tentang diriku kepada mu Dini,” Arwah Bagas mulai menjelaskan kepada Dini.
“Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu Mas mengapa sampai seperti ini?”
Bagas pun bercerita kepada Dini.
“Kamu tahu kost yang di tempati Yoga itu adalah kost ku waktu dahulu, ada beberapa perampok yang masuk ke kamar kost ku, mereka tidak hanya merampokku akan tetapi mereka juga membunuhku, lalu aku di makamkan di tanah di mana aku di lahirnya di samping kedua orang tuaku,” Bagas yang menjelaskan kronologi dirinya meninggal.
Dini yang mendengar itu tidak kuasa menahan air matanya di atas makan Bagas Dini pun menangis.
“Jangan menangis sayang, walau pun sekarang kita tidak dapat bersama namun kamu akan selalu di hatiku, Yoga aku sangat percaya kepadamu jangan Dini untukku buatlah dirinya bahagia, aku yakin kamu dapat menjadi pengantiku dan dapat membahagiakan Dini,” ujar Bagas dengan mata berkaca-kaca.
“Iya bang, aku akan menjaganya dan mencoba membahagiakan dirinya seperti janjiku kepadamu,” sahut Yoga.
Bagas pun berjalan mendekati Dini, dan memeluk dirinya.
Pelukan hangat dan nyaman yang sudah lama Dini tidak rasakan kini ia rasakan untuk terakhir kalinya.
Dini memejamkan matanya di saat Bagas memeluk dirinya merasakan kenangan dirinya di waktu Bagas memeluknya.
Sampai akhirnya Bagas pergi dan menghilang Dini yang membuka matanya tidak kusa menahan kesedihannya. Sementara Yoga yang berada di sampingnya pun mencoba menenangkan Dini.
Yoga memeluk Dini dengan lembut air mata Dini pun membasahi baju yang di kenakan oleh Yoga.
“Sudah Dini, bang Bagas sekarang sudah merasa tenang jika kamu sudah tahu semua tentang dirinya, jangan bersedih terus menerus,” kata Yoga mencoba menenangkan Dini.
Dini berusaha menenangkan dirinya.
“Iya benar katamu Yoga sekarang aku juga sudah merasa tenang telah mengetahui semuanya walau itu terasa pahit, terima kasih ya kamu sudah membantu mas Bagas” sahut Dini yang mulai tersenyum kepada Yoga.
“Mari kita kembali pukang?” ajak Yoga menggandeng tangan Dini.
Mereka berdua pun kembali menuju mobil dan meninggalkan tempat pemakaman Bagas, kembali ke rumah.
__ADS_1